Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi terus memantau angka luasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi. Berdasarkan analasis terbaru, luas area terindikasi terbakar mencapai 33ribu hektare.
Angka tersebut berdasarkan analisis terbaru Unit GIS per 25 September 2026. Berdasarkan data analisis KKI Warsi, area karhutla tersebut terjadi di Sarolangun dengan luas 7.510 hektare, Tebo 7.448 hektare, Batang Hari 5.841 hektare, Tanjung Jabung Timur 5.5841 hektare, Tanjung Jabung Barat 3.249 hektare, Muaro Jambi 1.957 hektare, Bungo 1.389 hektare, Merangin 209 hektare, dan Kota Jambi 43 hektare.
"Analisis terbaru Unit GIS per 25 September 2026, area kebakaran hutan dan lahan di Jambi 33.180 hektare," kata Manager Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf, Jumat (25/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkembangan yang menjadi perhatian KKI Warsi saat ini terjadi di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS), karena kebakaran berlangsung pada ekosistem gambut.
Kebakaran kawasan konservasi ini, bermula di kawasan Sembilang yang berada di wilayah Provinsi Sumatera Selatan, khususnya pada zona tradisional, terus berkembang ke zona rimba dan kini memasuki bagian inti kawasan yang berada di wilayah Provinsi Jambi.
Rudi mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bagaimana kebakaran di lanskap gambut dapat berkembang melampaui batas administrasi maupun batas pengelolaan kawasan. Ketika gambut dalam kondisi kering, api dapat bergerak di bawah permukaan dan muncul kembali di lokasi yang cukup jauh dari titik awal kebakaran.
"Yang perlu menjadi perhatian adalah karakter gambut itu sendiri. Ketika gambut kehilangan kelembapannya, api tidak hanya bergerak di permukaan, tetapi dapat merambat di lapisan bawah. Karena itu, kebakaran gambut jauh lebih sulit dikendalikan dan membutuhkan penanganan yang berbeda," ujar Rudi
Dari analisis yang dilakukan, kondisi kebakaran yang melompati badan sungai. Ketika kondisi lanskap sangat kering, maka kemampuan gambut untuk mempertahankan air juga semakin berkurang.
Kondisi kering yang dipengaruhi fenomena El Nino turut meningkatkan kerentanan tersebut. Namun, faktor iklim bukan satu-satunya persoalan. Aktivitas manusia di sekitar kawasan juga perlu menjadi perhatian, terutama aktivitas yang dilakukan tanpa memahami karakter dan tingkat kerentanan ekosistem gambut.
"Dalam situasi seperti sekarang, pendekatannya tidak cukup hanya memadamkan api. Kita juga perlu memperkuat pemahaman masyarakat mengenai karakter gambut, bagaimana mengelola lahan tanpa api, menjaga sumber air, dan mengenali tanda-tanda awal kebakaran. Edukasi dan pencegahan menjadi sangat penting," ujar Rudi.
Selain kawasan TNBS, kebakaran juga terdeteksi di bagian selatan kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, terutama pada kawasan hutan produksi dan hutan lindung. Dari analisis spasial KKI Warsi, hampir separuh area kebakaran yang teridentifikasi berada pada kawasan hutan produksi dan hutan produksi terbatas.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa kawasan hutan semakin berdekatan dengan aktivitas manusia yang intensif. Dalam analisis yang sama, area kebakaran terdeteksi beririsan dengan sedikitnya 35 perkebunan kelapa sawit dan 15 PBPH.
Menurut KKI Warsi, data tersebut perlu dibaca sebagai informasi penting untuk memperkuat pengawasan dan pencegahan, bukan sebagai dasar untuk langsung menyimpulkan sumber maupun pihak yang menyebabkan kebakaran.
"Data spasial membantu kita melihat di mana kebakaran terjadi dan bagaimana posisinya terhadap aktivitas di sekitarnya. Selanjutnya diperlukan verifikasi lapangan agar kita bisa memahami penyebabnya secara lebih baik. Yang terpenting adalah bagaimana informasi ini digunakan untuk memperkuat pencegahan dan memastikan kawasan yang rawan mendapatkan perhatian lebih," kata Rudi.
Dengan kondisi karhutla yang telah mencapai sekitar 33 ribu hektare, KKI Warsi menilai kebutuhan penanganan tidak berhenti pada pemadaman. Kawasan yang telah terbakar membutuhkan perhatian untuk dipulihkan, terutama ekosistem gambut yang memiliki fungsi penting sebagai penyimpan air, karbon, pengendali sistem hidrologi dan habitat satwa dilindungi.
"Ketika kita berbicara tentang kebakaran hutan dan gambut, kita tidak hanya berbicara tentang api. Kita berbicara tentang air, hutan, masyarakat, ekonomi, kesehatan dan masa depan lanskap. Karena itu, penanganannya juga membutuhkan kerja bersama," ujar Rudi.
