Data luasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi yang dihimpun WALHI dan KKI Warsi menunjukkan angka jauh lebih besar dibanding catatan Satgas Karhutla. Mengenai hal itu, Gubernur Jambi Al Haris angkat bicara.
"Kalau soal ini, kita belum menghitung. Nanti akan terlihat, ada hotspot, ada fire spot, ada tindakan kami di lapangan, di posko, ini semua kelihatan nanti pergerakannya," kata Al Haris, Senin (21/9/2026).
Al Haris mengatakan penghitungan luasan karhutla membutuhkan proses verifikasi. Pemerintah, kata dia, akan melihat kondisi di lapangan sekaligus mencocokkan berbagai data yang tersedia sebelum menetapkan angka akhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita akan hitung nanti setelah selesai semua padam, berapa total areal yang terbakar di wilayah Jambi," ujarnya.
Perbedaan data tersebut mencuat di tengah masih berlangsungnya penanganan karhutla di sejumlah wilayah Jambi. Bahkan, pada Senin siang, Al Haris bersama Danrem 042/Gapu Brigjen TNI Nyamin melakukan patroli udara untuk melihat langsung kondisi kebakaran di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Dari hasil pemantauan udara, masih terlihat api aktif di kawasan gambut Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS) dan wilayah Sadu. Api disebut masih merayap di sejumlah titik.
"Dua wilayah ini berdekatan dan kita melihat memang masih ada api di situ yang sedang merayap karena itu gambut. Merayap terus, kelihatan api masih ada cukup luas," jelasnya.
Berdasarkan catatan WALHI Jambi periode 1 Januari-18 September 2026, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 22.364 hektare di 11 kabupaten/kota.
Kabupaten Sarolangun menjadi wilayah dengan luasan terbakar terbesar dalam catatan tersebut, yakni sekitar 6.178 hektare. Kemudian Tebo sekitar 5.043 hektare, Batanghari 4.721 hektare, Tanjung Jabung Timur 1.762 hektare, Tanjung Jabung Barat 1.730 hektare, dan Muaro Jambi sekitar 1.504 hektare.
Angka tersebut berbeda cukup jauh dengan data Posko Satgas Karhutla. Hingga 19 September 2026, Satgas mencatat luas karhutla di Jambi mencapai 3.416,21 hektare dengan akumulasi 9.536 hotspot sejak 1 Januari 2026.
Al Haris mengatakan perbedaan angka tidak bisa langsung disimpulkan sebelum pemerintah menyelesaikan penghitungan dan verifikasi.
"Kita belum bisa koreksi berapa luasnya karena ini ada dua wilayah Jambi dan juga Sumsel," ujarnya.
Sementara itu, KKI Warsi melalui analisis citra satelit Sentinel-2 mencatat sekitar 20,8 ribu hektare areal teridentifikasi terbakar hingga pertengahan September 2026.
Dari analisis tersebut, sekitar 10,3 ribu hektare berada di kawasan hutan produksi, 4,7 ribu hektare di hutan produksi terbatas, dan sekitar 3 ribu hektare berada di areal penggunaan lain.
Warsi juga mencatat sekitar 2 ribu hektare areal terbakar berada di ekosistem gambut. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 hektare merupakan gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter dan berstatus hutan lindung.
Data tersebut menggunakan pendekatan analisis spasial sehingga memiliki metode penghitungan yang berbeda dengan pencatatan Satgas di lapangan.
Al Haris juga menegaskan pemerintah masih akan melakukan penghitungan menyeluruh. Data hotspot, fire spot, laporan posko hingga hasil penanganan di lapangan akan menjadi bagian dari proses tersebut.
"Ada hotspot, ada fire spot, ada tindakan kami di lapangan, di posko, ini semua kelihatan nanti pergerakannya," jelas Al Haris.
Menurutnya, penghitungan final akan lebih mudah dilakukan setelah seluruh titik api berhasil ditangani. Saat ini, proses pemadaman masih berlangsung karena sejumlah lokasi masih ditemukan api.
"Kalau bicara api ya masih ada api yang hidup di situ, maka tim bekerja untuk menangani itu," tegasnya.
Sejauh ini pula, Al Haris menyebutkan jika Pemerintah juga masih menunggu potensi awan hujan untuk mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
"Kita akan hitung nanti setelah selesai semua padam. Berapa total areal yang terbakar di wilayah Jambi, itu nanti yang akan kita lihat," ujarnya.
