Masih Terjadi Gempa di Gunung Anak Krakatau, Ini Penyebabnya

Lampung

Masih Terjadi Gempa di Gunung Anak Krakatau, Ini Penyebabnya

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Kamis, 17 Sep 2026 13:20 WIB
Kondisi terkini Gunung Anak Krakatau
Foto: Kondisi terkini Gunung Anak Krakatau (Dok. Istimewa)
Lampung Selatan -

Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda memang belum kembali erupsi setelah letusan terakhir pada 10 September 2026. Namun, aktivitas di dalam tubuh gunung masih berlangsung dan terekam melalui sejumlah kegempaan.

Kepala Pos Pemantauan GAK di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno menjelaskan aktivitas kegempaan menjadi salah satu indikator untuk melihat dinamika di dalam tubuh gunung.

Menurut dia, tidak semua jenis gempa yang terekam menandakan proses pembentukan tubuh GAK. Salah satu jenis gempa yang berkaitan dengan dorongan material ke arah permukaan adalah gempa multiphase.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kecuali kalau multiphase, itu ada dorongan ke atas. Akan membesar, walaupun tidak mengeluarkan material letusan," kata Suwarno saat dihubungi, Rabu (16/9/2026).

Dia menjelaskan dorongan material dari bawah dapat membuat tubuh gunung perlahan mengalami perubahan atau penambahan material. Proses itu bahkan bisa berlangsung tanpa disertai erupsi.

ADVERTISEMENT

Suwarno mengibaratkan proses tersebut seperti tekanan dari bawah permukaan yang mendorong material ke atas. Pada permukaan datar, dorongan itu dapat membentuk tonjolan atau punggungan kecil.

"Umpamanya kalau di dataran rata, itu akan membentuk suatu punggungan kecil," ujarnya.

Sementara itu, gempa vulkanik dalam memiliki karakter berbeda. Gempa tersebut berkaitan dengan kondisi batuan di dalam tubuh gunung pada kedalaman sekitar 3,5-4 kilometer dari permukaan.

"Kalau vulkanik dalam itu batuan-batuan yang ada di dalam berkisar 3,5 kilometer atau 4 kilometer dari permukaan kita ke bawah. Batuan-batuannya itu termakan dengan magma, batuan-batuannya rontok," jelasnya.

Aktivitas kegempaan GAK masih tercatat pada Rabu pagi hingga siang. Dalam pengamatan periode pukul 06.00-12.00 WIB, terekam satu kali gempa hembusan dengan amplitudo 7 milimeter selama 23 detik.

Selain itu, tercatat satu gempa low frequency dengan amplitudo 8 milimeter selama 4 detik. Tremor menerus juga masih terekam dengan amplitudo 1-5 milimeter dan dominan 2 milimeter.

"Terekam kegempaannya masih, ada hembusan juga satu kali. Kemudian low frequency juga ada satu kali," kata Suwarno.

Erupsi terakhir GAK tercatat pada 10 September 2026 pukul 09.10 WIB. Saat itu, tinggi kolom erupsi tidak teramati, tetapi letusan terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 17 detik.

Sejak erupsi tersebut, belum kembali tercatat letusan hingga laporan pengamatan pada Rabu siang.

Meski demikian, aktivitas GAK masih dipantau karena status gunung berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pengunjung dilarang mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.

Suwarno menyebut kondisi GAK berdasarkan hasil pemantauan masih aman. Namun, masyarakat diminta tetap mematuhi batas radius yang telah ditetapkan.

"Aman, semuanya aman. Yang penting radius masih tetap 3 kilometer sementara ini," katanya.

Selain kegempaan, pemantauan visual GAK juga masih dilakukan. Dalam laporan terbaru, kondisi puncak gunung tertutup kabut 0-III dan asap kawah tidak teramati.

CCTV untuk pemantauan visual di lapangan juga masih belum aktif. Suwarno mengatakan perbaikan perangkat tersebut dilakukan oleh pihak pusat.

Menurutnya, keberadaan perangkat pemantauan sangat penting karena aktivitas gunung masih berpotensi berubah. Namun, keselamatan petugas yang melakukan pemantauan langsung juga menjadi pertimbangan.

"Karena khawatir kalau ada letusan lagi, coba bayangkan kalau kita ada di lapak di sana atau di Sertung, ada letusan, bisa-bisa habis itu nyawa," pungkasnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads