Kekeringan tengah mengancam sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel). Namun di tengah kondisi tersebut, produksi padi Sumsel justru tercatat meningkat sekitar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono mengatakan kenaikan produksi itu berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) untuk periode Januari-Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama pada 2025.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah, dari hasil rilis BPS, Januari sampai Agustus 2026 dibanding Januari sampai Agustus 2025, produksi kita meningkat 5 persen," kata Bambang saat ditemui di Palembang, Senin (14/9/2026).
Bambang mengatakan capaian tersebut tidak membuat pemerintah lengah menghadapi kondisi kemarau. Sejumlah langkah telah disiapkan untuk menjaga tanaman padi yang sudah ada agar tidak terdampak kekurangan air.
Salah satunya dengan menyiagakan pompa bagi lahan pertanian yang mulai mengalami kekeringan. Kelompok tani yang tanaman padinya kekurangan air diminta segera melapor agar dapat ditangani.
"Yang kita lakukan pertama, mengamankan pertanaman yang ada di lahan dengan mempersiapkan pompa pendampingan, jangan sampai kekeringan," ujarnya.
Selain pompa, pemerintah mengoptimalkan lahan rawa yang mulai mengalami penurunan muka air. Lahan tersebut dimanfaatkan untuk ditanami sehingga produksi pertanian tetap berjalan di tengah musim kemarau.
Strategi itu dinilai penting karena sekitar 73 persen lahan di Sumsel merupakan lahan rawa. Menurut Bambang, kondisi tersebut menjadi keuntungan tersendiri bagi Sumsel karena sebagian lahan rawa yang sebelumnya tergenang dapat dimanfaatkan ketika muka air mulai turun.
"Sumatera Selatan 73 persen lahannya itu ada lahan rawa. Ini berkah bagi kita. Selama ini lahan itu tergenang sembilan bulan bahkan lebih, tetapi ketika airnya turun bisa ditanami," jelasnya.
Bambang mengatakan antisipasi kekeringan sebenarnya telah dilakukan sejak awal tahun. Gubernur Sumsel juga telah mengeluarkan surat keputusan terkait gerakan tanam untuk menghadapi dampak El Nino.
Meski demikian, kekeringan yang berlangsung panjang tetap menjadi perhatian. Bambang menyebut lahan rawa yang mengering juga memiliki potensi menjadi lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karena itu, pemerintah mendorong lahan rawa yang memiliki potensi terbakar untuk dimanfaatkan menjadi lahan sawah melalui program cetak sawah.
"Lahan-lahan rawa yang berpotensi menjadi karhutla ini harus kita jadikan sawah. Dengan dukungan pemerintah pusat melalui cetak sawah, kita usulkan agar tidak terjadi kebakaran hutan maupun rawa yang menyebabkan asap dan meluas ke lahan lain," katanya.
Selain mengantisipasi kekeringan, Dinas Pertanian Sumsel juga mengembangkan padi apung untuk memanfaatkan lahan yang masih tergenang. Program tersebut telah dikembangkan selama dua tahun melalui kerja sama dengan Bank Indonesia dan salah satunya berada di kawasan Jakabaring.
Bambang mengatakan padi apung menjadi salah satu alternatif untuk memanfaatkan lahan rawa, kolam maupun perairan lainnya. Namun, produktivitasnya saat ini masih di bawah padi yang ditanam di sawah biasa.
"Produktivitas Sumatera Selatan sekarang sekitar 5,8 ton GKG per hektare. Kalau padi apung masih berkisar 4 sampai 4,2 ton," ungkapnya.
Meski belum setinggi padi sawah, teknologi padi apung dinilai masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Bambang menyebut Sumsel memiliki sekitar 115 ribu hektare lebak tengahan yang berpotensi dimanfaatkan untuk budidaya padi ketika kondisi lahannya tergenang.
Di tengah ancaman kekeringan hingga Oktober mendatang, Bambang memastikan pengawalan terhadap pertanaman padi terus dilakukan. Pemerintah juga meminta petani tidak menunggu tanaman mengalami kekeringan parah untuk melapor.
"Kelompok tani yang kekeringan dan ada tanaman padi di lahannya segera melapor kepada kita untuk segera kita antisipasi. Jangan sampai kekeringan," pungkasnya.
