Perjuangan Srikandi Asal Lampung Padamkan Karhutla di Way Kambas

Lampung

Perjuangan Srikandi Asal Lampung Padamkan Karhutla di Way Kambas

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Jumat, 04 Sep 2026 08:30 WIB
Srikandi pemadam karhutla di Way Kambas, Lampung
Foto: Srikandi pemadam karhutla di Way Kambas, Lampung (Dok. Istimewa)
Lampung Timur -

Asap masih mengepul ketika Liesky bersama timnya menyusuri kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. Patroli yang awalnya dilakukan untuk mencegah kebakaran berubah menjadi misi pemadaman setelah mereka menemukan api.

Selama dua hari satu malam, perempuan 24 tahun itu bertahan di tengah kawasan yang terbakar. Bersama empat rekannya, Liesky tidak hanya berusaha menjinakkan api, tetapi juga memastikan bara yang tersisa tidak kembali menjadi kobaran.

Liesky merupakan satu-satunya perempuan dalam tim pemadaman karhutla tersebut. Di lingkungan TNWK, ia bahkan mendapat julukan "Srikandi TNWK".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebakaran di kawasan TNWK mulai terdeteksi pada Jumat (21/8/2026) di wilayah Resor Kuala Penet. Api kemudian berhasil dipadamkan pada Sabtu malam.

Kementerian Kehutanan saat itu mencatat area terdampak sekitar 673,4 hektare. Namun, persoalan belum selesai.

ADVERTISEMENT

Sehari setelah api dinyatakan padam, titik kebakaran kembali muncul di lokasi berbeda. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari titik kebakaran sebelumnya. Area terdampak kemudian dilaporkan sekitar 100,7 hektare.

Rangkaian kebakaran tersebut akhirnya meluas hingga Balai TNWK melaporkan total area terdampak sekitar 912,49 hektare. Kebakaran membentang hingga wilayah utara kawasan TNWK, termasuk Toto Projo dan Susukan Baru.

Liesky tidak berangkat ke hutan dengan rencana menjadi pemadam kebakaran. Saat itu, ia dan rekan-rekannya tengah menjalankan patroli pencegahan dari SPTN Rantau Jaya. Patroli dilakukan untuk mendeteksi sedini mungkin potensi kebakaran di kawasan konservasi.

Namun, ketika api ditemukan, tugas mereka berubah.

"Biar apinya enggak meluas. Biar enggak makin parah apinya, biar cepat padam," katanya, Kamis (3/9/2026).

Lima orang kemudian bergerak bersama menuju lokasi. Peralatan pemadaman dibawa menggunakan mobil slip on, lengkap dengan selang dan perlengkapan lainnya.

Tetapi kondisi medan membuat pemadaman tidak selalu bisa mengandalkan air. Saat kobaran mulai mereda, persoalan lain muncul. Bara yang tersisa masih berpotensi menyala kembali.

Liesky dan tim pun harus memadamkannya secara manual. Bara yang kembali hidup dipukul menggunakan peralatan pemadam setelah sebelumnya disiram air.

"Kalau ada yang belum mati atau dia hidup lagi, nah itu digebuk-gebuk. Kayak bara-bara yang masih padam dimati-matiin," ujarnya.

Pekerjaan itu dilakukan dalam kondisi yang jauh dari nyaman. Panas, asap, vegetasi kering hingga arah angin menjadi tantangan yang harus terus diperhatikan.

Bagi Liesky, angin menjadi salah satu hal yang paling membuatnya waspada.

"Takutnya apinya semakin besar. Kalau waktu malam itu angin, arah angin, kemudian kita enggak tahu apinya bakal mengarah ke mana," tuturnya.

Malam pun datang, namun Liesky dan tim tidak meninggalkan kawasan hutan. Mereka memilih bertahan dan menginap di lokasi untuk memastikan kondisi kebakaran benar-benar terkendali.

Bagi tim pemadam, api yang terlihat sudah mati bukan berarti ancaman telah berakhir. Bara yang tersembunyi di bawah permukaan tanah atau di antara vegetasi kering masih bisa kembali menyala. Karena itu, pemantauan dilakukan sepanjang malam.

"Kalau pas malam dan apinya belum padam, ya cuma mikirin gimana cepat padam biar enggak makin luas," kata Liesky.

Bermalam di hutan sebenarnya bukan pengalaman baru baginya. Sebelumnya, ia juga pernah mengikuti patroli kawasan TNWK.

Hanya saja, kali ini situasinya berbeda. Mereka harus berada di kawasan yang baru saja dilanda kebakaran. Meski begitu, Liesky mengaku tidak merasa terlalu takut. Alasannya sederhana, ia tidak sendirian.

"Saya enggak merasa takut, soalnya karena enggak sendirian. Ramai, ada teman-teman yang lain," ujarnya.

Kebakaran yang melanda TNWK tidak hanya ditangani dari darat. Luas kawasan yang terdampak, medan yang sulit dijangkau dan sumber air yang berada cukup jauh membuat penanganan membutuhkan pengerahan berbagai unsur dan peralatan.

Personel gabungan TNI, Polri, Balai TNWK, pemerintah daerah hingga masyarakat dikerahkan untuk menangani kebakaran.

Penanganan juga diperkuat dengan water bombing, drone pemantau, drone thermal dan drone penyemprot.

TNI bahkan mengerahkan Tim Alfa untuk menjangkau wilayah yang sulit ditembus melalui jalur darat. Sebanyak 40 personel disiapkan untuk masuk ke area terisolasi dengan kemampuan seperti freefall dan fast roping.

Sementara itu, drone thermal digunakan untuk mendeteksi titik panas yang tidak selalu terlihat secara kasatmata.

Ketika titik panas ditemukan, upaya pemadaman kembali dilakukan untuk menurunkan suhu dan mencegah bara berkembang menjadi api. Langkah tersebut menjadi penting karena kebakaran sempat kembali muncul setelah titik api sebelumnya dinyatakan padam.

Liesky mengaku tidak mengetahui penyebab pasti kebakaran tersebut. Ia memilih tidak berspekulasi mengenai sumber api sebelum ada laporan resmi.

Namun, ada satu pemandangan yang membekas di ingatannya selama berada di lokasi kebakaran, pohon-pohon yang telah hidup puluhan tahun ikut tumbang dilalap api.

"Kasihan satwa-satwa di dalamnya, kasihan pohon juga. Kemarin yang sudah puluhan tahun hidup sampai tumbang, kayak kasihan banget melihatnya," ucapnya.

Ia juga menyaksikan sendiri bagaimana rekan-rekannya bekerja keras menghadapi kobaran api. Dari situ, Liesky berharap tidak ada lagi pihak yang sengaja membakar hutan, pesannya singkat.

"Stop, jangan bakar hutan. Kasihan."

Kebakaran TNWK bukan sekadar persoalan lahan yang terbakar. Kawasan tersebut merupakan habitat penting bagi gajah Sumatra.

Pada fase awal kebakaran, Balai TNWK menyebut gajah liar berada cukup jauh dari lokasi api. Gajah yang berada di Pusat Konservasi Gajah juga dilaporkan tidak terdampak langsung.

Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan. Pengawasan udara menggunakan drone menjadi salah satu cara untuk memastikan kondisi kawasan.

Per 1 September, tidak lagi ditemukan titik kebakaran di Lampung. Kondisi kawasan TNWK juga dilaporkan terkendali.

Pemantauan menggunakan drone thermal tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi yang berpotensi memicu kebakaran baru.

Dengan kondisi tersebut, habitat gajah liar maupun gajah yang berada di kawasan konservasi dinyatakan aman dari dampak langsung kebakaran.

Namun, pekerjaan belum benar-benar selesai. Bagi petugas seperti Liesky, api yang padam hanya menjadi awal dari pekerjaan berikutnya. Kawasan yang terbakar masih membutuhkan pemantauan, vegetasi harus dipulihkan dan ancaman munculnya api baru harus terus diantisipasi.

Liesky baru bergabung dengan TNWK sejak 2025. Keterlibatannya dalam pemadaman karhutla kali ini juga menjadi pengalaman pertamanya turun langsung menghadapi kebakaran besar.

Sebelumnya, aktivitasnya lebih banyak berkaitan dengan patroli, mendampingi kunjungan sekolah alam, membantu pekerjaan administrasi hingga kegiatan bersama masyarakat sekitar kawasan.

Ia mengaku lulusan Universitas Lampung jurusan agribisnis, program studi penyuluhan pertanian. Sebelumnya, ia bersekolah di SMK Pertanian Pembangunan Lampung.

Ketertarikannya terhadap alam awalnya sederhana. Ia menyukai pemandangan hijau.

Namun, pekerjaan di TNWK kemudian membuatnya berhadapan langsung dengan sisi lain hutan, bukan hanya pepohonan dan satwa, tetapi juga ancaman api yang dapat menghanguskan kawasan dalam waktu singkat.

Ia kini tahu bagaimana rasanya berdiri di antara pepohonan yang terbakar, memegang peralatan pemadam, menyiram bara dan bertahan semalam demi memastikan api tidak kembali.

Lalu, bagaimana jika kebakaran kembali terjadi? Jawaban Liesky tidak panjang.

"Kalau diajak, saya ikut."

Bagi Liesky, keberanian bukan berarti tidak mengenal rasa takut. Ia tahu api bisa berubah arah, tahu medan hutan tidak mudah ditaklukkan dan tahu memadamkan karhutla bukan pekerjaan ringan.

Tetapi ketika hutan membutuhkan orang untuk turun dan bertahan di sana, Liesky memilih ikut sampai bara benar-benar dingin.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"
[Gambas:Video 20detik] (dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads