Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang, Sumatera Selatan.
Tercatat dua penerbangan di Bandara SMB II terdampak langsung akibat jarak pandang yang menurun. Selain itu, enam pesawat yang seharusnya mendarat di Jambi terpaksa dialihkan atau divert ke Palembang karena kondisi kabut asap di wilayah tersebut.
PGS Executive General Manager Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Tubagus Gemal Syahir mengatakan dua penerbangan yang terdampak langsung terjadi pada 23 dan 29 Agustus 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gangguan pertama terjadi pada penerbangan Garuda Indonesia rute Palembang-Cengkareng pada 23 Agustus. Pesawat mengalami keterlambatan keberangkatan karena jarak pandang di Bandara SMB II saat itu hanya sekitar 500 meter.
"Standar keselamatan untuk take off minimal 700 meter. Saat itu jarak pandang sekitar 500 meter," kata Tubagus, Selasa (1/9/2026).
Kemudian pada 29 Agustus, pesawat Citilink rute Cengkareng-Palembang juga mengalami keterlambatan saat akan mendarat. Jarak pandang saat itu hanya sekitar 1.200 meter, sementara batas minimal untuk pendaratan yakni 1.700 meter.
"Untuk landing standarnya 1.700 meter, sedangkan kemarin hanya 1.200 meter sehingga penerbangan harus ditunda," ujarnya.
Meski sempat terjadi gangguan, Tubagus memastikan secara umum operasional penerbangan di Bandara SMB II Palembang masih berjalan normal.
Di sisi lain, dampak kabut asap juga membuat enam pesawat tujuan Jambi dialihkan ke Palembang. Pesawat-pesawat tersebut tidak dapat mendarat di Bandara Jambi karena jarak pandang yang tidak memenuhi standar keselamatan.
"Karena Palembang menjadi salah satu bandara yang terdekat, kita melayani divert tersebut dan lancar," jelasnya.
Tubagus mengatakan gangguan penerbangan akibat kabut asap lebih berpotensi terjadi pada pagi hari. Sebab, konsentrasi kabut asap biasanya lebih pekat pada pagi hari dan berangsur menipis ketika siang.
"Biasanya pagi hari kabut asap lebih pekat. Setelah agak siang biasanya berangsur tipis dan jarak pandang lebih jauh," katanya.
Karena kondisi tersebut, calon penumpang diimbau memantau informasi penerbangan sebelum berangkat menuju bandara.
Jika terjadi keterlambatan atau gangguan penerbangan, penumpang dapat mengikuti jadwal penerbangan berikutnya maupun membatalkan perjalanan. Adapun mekanisme pengembalian dana tiket mengikuti ketentuan masing-masing maskapai.
Sementara itu, General Manager Garuda Indonesia Cabang Palembang Yona Wahyuni membenarkan adanya satu penerbangan Garuda yang mengalami keterlambatan akibat kabut asap pada 23 Agustus lalu.
Menurutnya, keterlambatan hanya berlangsung sekitar satu jam. Setelah kondisi memungkinkan, penerbangan kembali diberangkatkan.
"Alhamdulillah cuma satu pesawat delay dan penerbangan berikutnya lancar, tidak terdampak jadwal selanjutnya," ujar Yona.
