Gubernur Jambi Al Haris terus memperkuat program Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) sebagai upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meluas. Di tengah tingginya karhutla sepanjang Agustus, Al Haris mendorong masyarakat membuka lahan tanpa menggunakan api.
Al Haris bahkan turun langsung ke lokasi karhutla di Desa Puding, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, Selasa (1/9/2026). Dia ikut berjibaku memadamkan kebakaran yang membakar sekitar 28 hektare lahan.
"Mulai ke depan apabila ada masyarakat yang ingin membuka lahan, kebun, silakan ajukan. Pemerintah siap membantu lewat program PLTB," kata Al Haris usai ikut melakukan upaya pemadaman di lahan terbakar.
Menurut Al Haris, PLTB menjadi salah satu solusi agar masyarakat tetap dapat membuka lahan tanpa melakukan pembakaran. Pemerintah Provinsi Jambi akan memberikan dukungan kepada masyarakat melalui program tersebut.
Penguatan PLTB dilakukan di tengah tingginya ancaman karhutla di Jambi. Sepanjang Januari hingga 29 Agustus 2026, tercatat karhutla mencapai sekitar 1.776,56 hektare dalam 531 kejadian.
Kebakaran tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Batanghari hingga Sarolangun. Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian ketika memasuki puncak kemarau pada Agustus.
Al Haris mengatakan penanganan karhutla tidak bisa hanya dilakukan ketika api sudah muncul. Upaya pencegahan harus diperkuat dengan melibatkan masyarakat, terutama dalam aktivitas pembukaan lahan.
"Saya berharap masyarakat sadar apapun jenis hutan tidak ada yang boleh membakar, mari jaga hutan kita," ujar dia.
Di Desa Puding, Al Haris memastikan proses pemadaman dilakukan sampai api benar-benar terkendali. Setelah kobaran api berhasil dipadamkan, petugas masih melakukan pendinginan karena asap masih terlihat di sejumlah bagian lahan.
"Alhamdulillah api sudah padam, namun masih ada asap. Saat ini tim sedang melakukan pendinginan sehingga tidak ada lagi potensi-potensi api yang membesar," sebut Al Haris
Al Haris menegaskan petugas tidak boleh langsung meninggalkan lokasi setelah api terlihat padam. Pendinginan dan pemantauan harus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Terlebih, sebagian lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut.
Kondisi gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang dan harus diikuti pendinginan secara menyeluruh.
Aksi Al Haris di Muaro Jambi menjadi bagian dari upaya percepatan penanganan karhutla yang dilakukan Pemprov Jambi. Dalam beberapa pekan terakhir, dia juga turun langsung ke sejumlah wilayah terdampak karhutla, termasuk kawasan gambut di Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat.
Al Haris meminta seluruh Satgas Karhutla tetap aktif melakukan pemadaman dan pendinginan. Koordinasi lintas instansi juga terus diperkuat agar setiap titik kebakaran dapat segera ditangani.
Sebelumnya, Al Haris juga menggelar rapat koordinasi bersama Forkopimda dan unsur terkait untuk memastikan penanganan karhutla berjalan terpadu. Dia meminta seluruh pihak tidak bekerja sendiri-sendiri dalam menghadapi ancaman kebakaran selama musim kemarau.
"Jambi ini milik kita bersama. Tidak ada milik satu kabupaten saja. Semua harus memadamkan secara bersama-sama dan terpadu," tegas Al Haris.
Pemprov Jambi juga mendorong percepatan penanganan di lokasi yang sulit dijangkau, termasuk melalui dukungan operasi udara dan modifikasi cuaca sesuai kebutuhan di lapangan.
Meski sejumlah titik kebakaran telah berhasil dipadamkan, petugas masih melakukan pendinginan dan pemantauan. Sebab, ancaman karhutla belum sepenuhnya berakhir selama kondisi kemarau masih berlangsung.
Atas nama Pemerintah Provinsi Jambi tentunya Al Haris mengapresiasi seluruh unsur yang terus berada di lapangan, mulai dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api hingga masyarakat.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, dan semua elemen yang terlibat," sebut dia.
Meski langkah percepatan itu terus dilakukan, penegasan Al Haris soal karhutla terus berulang. Dia tidak ingin seluruhnya lalai lantaran musim kemarau Jambi masih berlangsung. Apalagi, BMKG sebelumnya memprediksi kondisi kemarau masih perlu diwaspadai hingga September 2026 sehingga potensi karhutla belum sepenuhnya berakhir.
"Meski sejumlah lokasi telah berhasil dipadamkan, petugas masih melakukan pendinginan dan pemantauan. Asap yang masih muncul di beberapa wilayah juga menjadi perhatian karena menunjukkan perlunya penanganan lanjutan di area bekas terbakar, ini upaya agar karhutla dan dampak kabut asap bisa teratasi baik di Jambi," ucap Al Haris.
Simak Video "Video: Blak-blakan Komisi IV DPR Soal Luasan Lahan Terbakar di 2026"
(dai/dai)