Puluhan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) berkeliaran di permukiman warga di kawasan Pahoman, Bandar Lampung. Kawanan monyet tersebut turun dari kawasan Hutan Kera untuk mencari makanan.
Monyet-monyet itu terlihat masuk ke sejumlah halaman rumah warga di sekitar Jalan Way Abung, Pahoman, yang lokasinya tidak jauh dari SMAN 10 Bandar Lampung, Sabtu (29/8/2026).
Warga setempat Dwi Prihatini mengatakan kemunculan kawanan monyet di permukiman bukan hal baru. Dalam sekali kedatangan, jumlahnya bisa mencapai puluhan ekor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka sering banget datang. Biasanya sampai puluhan ekor yang datang," kata Dwi, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, monyet-monyet tersebut biasanya datang secara bergerombol dan mencari makanan di sekitar rumah warga. Salah satu yang menjadi sasaran adalah tanaman buah, terutama jambu.
"Biasanya cuma metik buah. Biasanya mereka metikin buah jambu," ujarnya.
Dwi menyebut kawanan monyet bisa datang dua hingga tiga kali dalam sepekan. Biasanya, kemunculan mereka terjadi pada pagi hari sekitar pukul 06.30 WIB.
Namun, pada Sabtu (29/8), kawanan monyet tersebut masih terlihat berkeliaran hingga siang hari.
"Enggak juga pas musim tertentu. Kayaknya tiap minggu, dua atau tiga kali pasti mereka ke sini. Biasanya saya lihat pagi-pagi jam setengah tujuh, tapi ini tumben siang masih ngumpul di sini," tuturnya.
Dwi mengatakan sejauh ini monyet-monyet tersebut tidak menunjukkan perilaku agresif terhadap warga. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari makanan.
Dirinya menduga kawanan monyet itu berasal dari kawasan Hutan Kera yang berada di sekitar belakang Dinas Kesehatan Bandar Lampung.
Keterbatasan sumber makanan di dalam habitat menjadi salah satu penyebab monyet turun ke permukiman.
"Iya, kayaknya jumlahnya makin banyak, tapi makanan di sana enggak ada," katanya.
Dwi juga menilai monyet di kawasan tersebut telah terbiasa mendapatkan makanan dari manusia. Dia mengaku pernah melihat pengunjung membawa buah untuk diberikan kepada monyet saat berkunjung ke Hutan Kera.
"Biasanya orang-orang yang berkunjung ke sana bawa buah-buahan untuk monyet. Jadi kayaknya stok makanan mereka cuma dari pemberian orang-orang di situ, bukan mencari di alam bebas," ujarnya.
Ia bahkan pernah mencoba memberikan roti kepada monyet yang datang ke rumahnya. Namun, roti tersebut tidak dimakan.
"Aku kasih roti, enggak ada yang mau," katanya.
Warga lainnya, Dendy, mengatakan kemunculan monyet di kawasan perkotaan juga cukup sering terjadi, terutama di wilayah yang berada dekat Hutan Kera.
Menurutnya, kondisi habitat dan ketersediaan makanan diduga membuat kawanan monyet mencari sumber makanan hingga ke permukiman.
"Memang sering kelihatan monyet berkeliaran di kota, terutama yang dekat dengan Hutan Kera. Mungkin karena di sana makanannya tidak cukup, jadi mereka keluar mencari makanan ke tempat lain," kata Dendy.
Dendy mengatakan keberadaan monyet tersebut sejauh ini belum menjadi gangguan serius bagi warga.
"Untungnya mereka tidak mengganggu warga. Paling mengambil atau memetik buah dari tanaman," ujarnya.
Meski begitu, dia mengkhawatirkan keselamatan monyet apabila semakin sering keluar dari habitatnya. Dia takut satwa tersebut justru ditangkap atau diburu oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
"Yang dikhawatirkan ada orang yang enggak bertanggung jawab, hewan itu malah jadi binatang buruan. Kasihan juga," katanya.
Hutan Kera merupakan kawasan perbukitan di Teluk Betung Utara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai habitat monyet ekor panjang.
Kawasan tersebut juga pernah menjadi salah satu lokasi rekreasi warga Bandar Lampung pada era 1970 hingga 1990-an. Sebagian kawasan Taman Hutan Kera berada di lereng bukit yang merupakan aset Pemerintah Kota Bandar Lampung.
Kemunculan puluhan monyet hingga ke permukiman warga menunjukkan satwa tersebut masih beraktivitas di sekitar habitatnya yang berada di tengah kawasan perkotaan.
Warga berharap keberadaan monyet tetap terjaga dan tidak sampai menimbulkan konflik dengan masyarakat maupun membahayakan satwa tersebut.
