Karhutla di Way Kambas, Kapolda Lampung Sebut Ada Tradisi Warga Bakar Lahan

Lampung

Karhutla di Way Kambas, Kapolda Lampung Sebut Ada Tradisi Warga Bakar Lahan

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Rabu, 26 Agu 2026 06:30 WIB
Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf
Foto: Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf (Dok. Polda Lampung)
Lampung Timur -

Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf mengungkap adanya tradisi masyarakat di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang membakar lahan untuk memunculkan tanaman baru. Namun, hingga kini polisi belum menaikkan penanganan kasus karhutla tersebut ke tahap penyidikan.

Hal itu disampaikan Helfi saat meninjau penanganan karhutla di kawasan TNWK, Lampung Timur, Selasa (25/8/2026). Menurutnya, pembakaran lahan dilakukan dengan tujuan tertentu.

"Ini kan ada tradisi masyarakat setempat, tradisi melakukan pembakaran untuk tumbuh tanaman baru," kata Helfi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Helfi menjelaskan tanaman yang tumbuh setelah lahan dibakar dapat menarik satwa pemakan tumbuhan. Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu alasan adanya kebiasaan membakar lahan.

"Tanaman baru inilah yang akan menarik magnet hewan-hewan yang mengonsumsi ini," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Meski mengungkap adanya kebiasaan tersebut, Helfi belum memastikan pembakaran itu menjadi penyebab karhutla yang terjadi di TNWK. Polisi juga belum menetapkan perkara tersebut ke tahap penyidikan.

"Ya, saat ini tidak ada," katanya.

Helfi mengatakan penanganan saat ini lebih diarahkan pada pencegahan. Masyarakat di sekitar kawasan TNWK akan diberikan edukasi agar tidak melakukan pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran meluas.

"Ini perlu kita edukasi, dan tentunya kita sudah bersama-sama dengan TNI, kemudian Forkopimda, dan masyarakat setempat tentunya, untuk diedukasi supaya tidak melakukan hal tersebut," jelasnya.

Menurut Helfi, sosialisasi akan dilakukan secara masif. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kebakaran kembali terjadi di kawasan TNWK.

"Dan ini terus kita lakukan secara masif dan tentunya ini paling penting, karena untuk mengantisipasi tidak terjadi di kemudian hari," sambung Helfi.

Sementara itu, Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi menambahkan kondisi kekeringan ekstrem sebagai salah satu dugaan awal penyebab kebakaran di TNWK. Namun, pihaknya masih membuka kemungkinan adanya faktor lain.

Di sisi lain, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan pemerintah daerah bersama TNI, Polri, dan pengelola TNWK telah membentuk tim gabungan. Tim tersebut bertugas memitigasi potensi munculnya titik api baru.

"Pak Gubernur utamanya mengomandoi tim gabungan. Mulai dari TNI, Polri, dan juga seluruh dari tim TNWK, Balai, membentuk suatu tim gabungan untuk bisa memitigasi hal-hal yang berpotensi menjadikan titik api, hotspot baru," ujar Jihan.

Pemprov Lampung juga menggandeng komunitas untuk ikut mengawasi kawasan TNWK. Sosialisasi terkait potensi kebakaran akan diperluas hingga melibatkan Pramuka dan aktivis lingkungan.

"Kita juga mengajak seluruh komunitas, seperti dari Pramuka atau dari aktivis-aktivis lingkungan lainnya untuk bisa sama-sama menjaga. Atau aware, lebih aware bagaimana potensi terjadinya api dan lain sebagainya. Itu sosialisasi akan kita masifkan lagi," pungkasnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads