4 Kecamatan di Lampung Selatan Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau

Lampung

4 Kecamatan di Lampung Selatan Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Rabu, 19 Agu 2026 18:40 WIB
Gunung Anak Krakatau erupsi hari ini
Gunung Anak Krakatau erupsi (Foto: Dok. Istimewa)
Lampung Selatan -

Sebanyak empat kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, terdampak abu vulkani Gunung Anak Krakatau. Tenaga medis pun sudah dikerahkan untuk mengantisipasi dampak dari abu tersebut ke warga.

Sekretaris Daerah (Sekda) Lampung Selatan Supriyanto mengatakan empat kecamatan yang terdampak yakni Bakauheni, Penengahan, Rajabasa, dan Kalianda. Pulau Sebesi yang berada di Kecamatan Rajabasa juga ikut merasakan dampak abu vulkanik tersebut.

"Sudah ada dampak debu yang dibawa oleh angin di sepanjang pesisir. Jadi Kecamatan Bakauheni, Penengahan, Rajabasa, dan Kalianda, termasuk warga kita yang tinggal di Pulau Sebesi," kata Supriyanto, Rabu (19/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Supriyanto mengatakan pemerintah daerah telah meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap masyarakat. Tenaga kesehatan hingga jaringan puskesmas disiagakan untuk memantau kondisi warga.

Pemkab Lampung Selatan juga berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG untuk mendapatkan pembaruan mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dan arah sebaran abu.

ADVERTISEMENT

Informasi tersebut dipantau secara berkala setiap enam jam. Pemantauan dilakukan untuk memastikan perkembangan aktivitas gunung dan potensi dampaknya terhadap masyarakat.

"Teman-teman di BPBD komunikasi terus dengan BMKG dan PVMBG terkait update informasi. Informasi-informasi ini di-update enam jam sekali," ujarnya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Lampung Selatan telah mendistribusikan ribuan masker untuk warga yang berada di wilayah terdampak. Sebanyak 1.500 masker dibagikan di kawasan Dermaga Canti dan sekitarnya, sedangkan 3.000 masker dikirim untuk warga Pulau Sebesi.

Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan Devi Arminanto mengatakan dampak abu vulkanik di Pulau Sebesi mulai dirasakan sejak Senin (17/8) sore. Kondisi tersebut dipengaruhi angin selatan yang membawa debu ke arah permukiman warga.

"Angin selatan datang ke warga, khususnya di Pulau Sebesi. Sejak tanggal 17 Agustus sore sudah ada kaitan dengan debu ini," kata Devi.

Di Pulau Sebesi, tenaga kesehatan bersama pemerintah desa dan aparat membagikan masker dari rumah ke rumah. Petugas juga menyiapkan stok masker untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik kembali terjadi.

Warga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Masyarakat juga diminta menggunakan kacamata untuk melindungi mata serta mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan ibu hamil.

Selain itu, makanan dan air minum diminta tetap ditutup agar tidak terkontaminasi abu vulkanik.

Meski abu vulkanik mulai dirasakan di empat kecamatan, hingga kini belum ada laporan warga mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu tersebut.

"Alhamdulillah terkait laporan dari teman-teman tenaga kesehatan di Pulau Sebesi, sampai sekarang belum ada laporan dampak dari abu vulkanik itu," ujar Devi.

Hujan juga sempat mengguyur Pulau Sebesi sekitar pukul 02.30 WIB. Setelah hujan, abu dilaporkan tidak lagi terlihat pada pagi hari.

Namun, Dinas Kesehatan tetap meminta masyarakat waspada karena sebaran abu sangat bergantung pada arah angin. Jika kondisi berubah, posko kesehatan akan disiapkan di wilayah yang terdampak.



(csb/csb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads