Gunung Anak Krakatau 20 Kali Erupsi pada Senin

Lampung

Gunung Anak Krakatau 20 Kali Erupsi pada Senin

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Selasa, 18 Agu 2026 12:30 WIB
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi Senin (17/8/2026) pagi.
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi Senin (17/8/2026) pagi. (Foto: Istimewa)
Lampung Selatan -

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, kembali menunjukkan aktivitas tinggi. Dalam sehari, gunung api tersebut tercatat mengalami 20 kali erupsi pada Senin (17/8/2026).

Erupsi terjadi mulai dini hari hingga malam. Letusan terakhir tercatat pada pukul 22.10 WIB dengan durasi mencapai 165 detik.

Berdasarkan laporan pengamatan Gunung Anak Krakatau, rangkaian erupsi dimulai pukul 01.30 WIB. Letusan pertama terekam dengan amplitudo maksimum 57 milimeter dan berlangsung selama 36 detik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Erupsi berikutnya terjadi berulang hingga pagi. Beberapa letusan tercatat pukul 02.13 WIB, 03.04 WIB, 03.29 WIB, 04.05 WIB, dan 04.20 WIB.

Aktivitas kembali teramati secara visual pada pukul 06.26 WIB. Saat itu, kolom abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau 557 meter di atas permukaan laut (mdpl).

ADVERTISEMENT

Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah utara hingga barat laut. Erupsi tersebut berlangsung selama 107 detik dengan amplitudo maksimum 57 milimeter.

Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada pukul 09.22 WIB. Kolom abu kembali mencapai sekitar 400 meter di atas puncak dan bergerak ke arah barat laut.

Setelah itu, erupsi terus terjadi hingga sore. Letusan tercatat pada pukul 12.22, 12.43, 12.44, 14.28, 15.14, dan 15.15 WIB.

Aktivitas kemudian kembali meningkat menjelang malam. Pada pukul 18.01 WIB, kolom abu teramati sekitar 150 meter di atas puncak dengan arah sebaran menuju timur laut.

Selang 25 menit, erupsi kembali terjadi. Kolom abu mencapai sekitar 300 meter di atas puncak dan bergerak ke arah timur laut.

Erupsi berikutnya terjadi pukul 18.35 WIB. Kolom abu hitam dengan intensitas tebal teramati mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau 457 mdpl.

Setelah tiga erupsi tersebut, aktivitas kembali terekam pada pukul 19.43 dan 19.44 WIB. Kedua letusan tidak teramati secara visual, tetapi terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 51 milimeter.

Erupsi terakhir terjadi pukul 22.10 WIB. Tidak ada visual letusan yang teramati, namun seismograf mencatat amplitudo maksimum 53 milimeter dengan durasi 165 detik.

Kepala Pos Pantau Lampung Selatan, Andi Suwardi, mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih mengalami fluktuasi.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

"Masih naik, masih turun. Makanya statusnya masih Siaga," kata Andi saat dikonfirmasi, Selasa (18/8/2026).

Andi mengatakan aktivitas erupsi masih berpotensi terjadi selama amplitudo tremor gunung api masih besar. Dia pun meminta masyarakat tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau.

"Kita lihat saja ke depannya. Kalau amplitudo tremornya masih besar kemungkinan erupsi masih ada," ujarnya.

Gunung Anak Krakatau saat ini merupakan pulau kosong sehingga tidak terdapat aktivitas masyarakat di lokasi. Meski begitu, Andi mengingatkan wisatawan, pengunjung, maupun pendaki agar tidak mengambil risiko dengan mendatangi kawasan tersebut.

Masyarakat juga diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dengan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

"Kita kan masyarakat umum tidak punya alat pendeteksi kegiatan dari dalam. Kalau tiba-tiba ada letusan, risikonya sangat besar. Makanya lebih baik jangan ke sana dulu selama status Siaga," tegasnya.



(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads