Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyiapkan langkah antisipasi imbas kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kualitas udara hingga kini kian menurun, bahkan sempat status merah atau sangat tidak sehat. Salah satu yang dipertimbangkan terkait libur sekolah.
"Kita tidak mau anak-anak atau kita semua ini terpapar akibat ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) yang tidak sehat. Kalau ISPU-nya sudah tidak bisa ditoleransi, tentu kita ambil kebijakan," ujar Gubernur Sumsel Herman Deru, Jumat (14/8/2026).
Namun, dia menyebut kualitas udara saat ini masih fluktuatif. Sehingga, kebijakan meliburkan sekolah belum akan diterapkan. Kebijakan itu akan diambil jika kondisi ISPU sudah membahayakan kesehatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi, selama ini masih di ambang batas yang bisa ditoleransi," katanya.
Deru juga menyebut di tengah meningkatnya eskalasi kebakaran, penanganan karhutla terus dimasifkan. Dia juga memastikan kebijakan efisiensi anggaran tidak akan mengurangi upaya pemerintah dalam penanganannya.
"Kalau untuk penanganan karhutla, kita unlimited," ungkapnya.
Menurutnya, sumber daya akan tetap dikerahkan sesuai kebutuhan di lapangan. Bahkan, ia menegaskan penanganan karhutla menjadi pengecualian ketika kebutuhan penanganan meningkat.
Selain itu, dia juga meminta penanganan karhutla dilakukan bersama-sama dengan seluruh pihak terkait. Kondisi lahan yang semakin kering memasuki puncak musim kemarau, dinilainya akan membuat potensi karhutla meningkat.
Deru mengatakan sejumlah kawasan yang sebelumnya masih memiliki genangan, endapan air maupun lumpur basah kini mulai kehilangan kelembapannya. Kondisi tersebut membuat lahan semakin mudah terbakar.
"Sekarang kita sadari saat ini kering. El Nino ini kemaraunya adalah kemarau kering. Yang biasanya terdapat endapan, genangan, lumpur basah, saat ini sudah mulai mengering," tukasnya.
