Udara Palembang Sempat Status Merah, BMKG Sebut Sangat Tidak Sehat

Sumatera Selatan

Udara Palembang Sempat Status Merah, BMKG Sebut Sangat Tidak Sehat

Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Jumat, 14 Agu 2026 13:30 WIB
Pengendara motor melintasi Jembatan Musi VI  dengan latar Sungai Musi yang diselimuti kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (5/8/2026). Berdasarkan pantauan satelit Himawari SM 9 pada Rabu (5/8) pukul 16:00 WIB melalui situs milik BMKG terdeteksi sebaran asap di wilayah Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang merupakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di daerah tersebut. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.
Kabut asap di Palembang (Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Palembang -

Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kembali memburuk. Berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang milik BMKG, kualitas udara sempat kategori merah atau tidak sehat pada Jumat (14/8/2026).

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan kategori sangat tidak sehat dengan nilai 180 mikrogram per meter kubik (µg/m³) tercatat pada pukul 01.00 WIB.

"Kualitas udara sempat tercatat sangat tidak sehat di angka 180 µg/m³ pada dini hari pukul 01.00 WIB," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski sempat melandai, hingga Jumat pagi kualitas udara masih dalam kategori tidak sehat. Terdata pada pukul 09.00 WIB, kualitas udara tercatat masih di angka 58,5 µg/m³ atau kategori kuning.

"Kondisi udara sempat turun, namun naik lagi pada pagi ini. Statusnya masih kuning," katanya, Jumat.

ADVERTISEMENT

Secara harian, buruknya kualitas udara ini terjadi dalam sepekan terakhir. Dia meminta masyarakat waspada, karena kabut asap yang muncul dapat mengganggu kesehatan.

"Memburuknya kualitas udara di Palembang perlu diwaspadai masyarakat. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh adanya asap yang terbawa masuk ke wilayah Palembang," terangnya.

"Memburuknya kualitas udara Palembang ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumsel," sambungnya.

Wandayantolis mengatakan kondisi kualitas udara dapat berubah mengikuti pergerakan dan penyebaran asap. Memburuknya kualitas udara hanya terjadi pada malam hingga pagi hari.

"Biasanya memang malam menjelang pagi akan meningkat, karena operasi pemadaman saat malam berkurang. Termasuk water bombing tidak dilakukan. Jadi malam ada potensi peningkatan sebaran asap," ungkapnya.

"Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, kami mengimbau menggunakan masker sebagai perlindungan dari paparan partikulat," imbuhnya.



(csb/csb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads