Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat dua wilayah di Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami hari tanpa hujan (HTH) selama 40 hari berturut-turut. Kondisi tersebut terjadi di wilayah Kikim di Lahat dan sisi barat Ogan Ilir.
"Seluruh wilayah Sumsel saat ini sudah berstatus mengalami kekeringan meteorologis. Wilayah dengan HTH terpanjang mencapai 40 hari lebih berada di Kikim, Lahat, dan sisi barat Ogan Ilir," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis, Minggu (2/8/2026).
Wandayantolis menjelaskan, secara teori kondisi kekeringan meteorologis yang terjadi saat ini di dua wilayah itu mulai mengarah pada kekeringan hidrologis, apabila HTH terus berlanjut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya, secara teoritis sudah menuju kekeringan hidrologis, berupa turunnya muka sumber air seperti sumur, danau atau sungai," ujarnya.
Berdasarkan pemantauan BMKG, seluruh wilayah Sumsel saat ini telah berstatus mengalami kekeringan meteorologis akibat minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.
Meski terdapat wilayah dengan HTH mencapai 40 hari, sebagian besar daerah di Sumsel masih berada pada kategori 6-10 hari tanpa hujan. Kondisi tersebut dipengaruhi masih adanya hujan yang terjadi pada akhir Juli.
"Sebagian besar wilayah Sumsel saat ini berada pada kategori 6-10 hari tanpa hujan karena sempat terputus oleh kejadian hujan yang dipicu Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 19-30 Juli lalu," katanya.
Di sisi lain, BMKG juga memantau fenomena El Nino yang kini telah aktif pada kategori kuat dan berpotensi meningkat hingga mencapai kategori sangat kuat dalam beberapa waktu ke depan.
"Meski demikian, BMKG memperkirakan musim kemarau tahun 2026 tidak akan sekering peristiwa El Nino ekstrem yang terjadi pada 1997 maupun 2015," terangnya.
Sebelumnya, BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Sumsel akan terjadi pada Agustus-September 2026. Sementara itu, musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga pertengahan Oktober.
"Meski peluang hujan mulai muncul menjelang akhir musim kemarau, intensitasnya diperkirakan masih rendah sehingga belum efektif untuk menghentikan kemunculan titik panas (hotspot)," jelas Wandayantolis.
Selain itu, BMKG juga mencatat bahwa hujan yang sempat terjadi pada akhir Juli belum mampu memperbaiki kondisi curah hujan secara keseluruhan.
"Meski sempat terjadi hujan, secara akumulasi curah hujan selama Juli sebagian besar masih berada di bawah normal atau lebih rendah dari rata-ratanya," tukasnya.
