Kepala Lapas Kelas IIA Tanjung Raja, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Yhoga Aditya Ruswanto mengakui kewalahan untuk mengawasi 900 warga binaan menyusul viralnya seorang narapidana melakukan siaran langsung (live) di Facebook menggunakan handphone dari dalam tahanan.
Menurut Yhoga, keberadaan handphone di dalam lapas merupakan bentuk kelalaian sekaligus keterbatasan pihaknya dalam melakukan pengawasan terhadap ratusan bahkan hampir seribu warga binaan dengan jumlah petugas yang terbatas.
"Adanya handphone di dalam Lapas Tanjung Raja ini merupakan ketidakmampuan kami. Kami akui ini adalah suatu kelalaian dan keterbatasan kami dalam mengatasi masuknya alat komunikasi ke dalam lapas," katanya, Rabu (8/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yhoga menjelaskan, satu regu penjagaan hanya terdiri dari sembilan petugas. Dari jumlah tersebut, dua orang bertugas di Pos P2U, empat orang berjaga di pos pengamanan, sedangkan hanya tiga petugas yang mengawasi seluruh blok hunian yang dihuni lebih dari 900 warga binaan.
"Dengan tiga petugas di bawah harus mengawasi hampir 1.000 warga binaan. Ini memang menjadi keterbatasan kami," ujarnya.
Meski demikian, pihak lapas mengaku rutin melakukan penggeledahan untuk mencari barang-barang terlarang, termasuk telepon genggam. Razia dilakukan sedikitnya satu kali dalam sepekan, ditambah penggeledahan insidental apabila ditemukan informasi atau indikasi pelanggaran.
"Dalam satu minggu kami melakukan penggeledahan. Kalau ada informasi atau sifatnya insidental, kami juga langsung melakukan penggeledahan," jelasnya.
Yhoga juga menegaskan bahwa pihak lapas secara rutin mengingatkan warga binaan agar tidak membawa maupun menyimpan handphone. Sebagai sarana komunikasi dengan keluarga, lapas telah menyediakan fasilitas wartel khusus bagi warga binaan.
"Setiap turun ke lapangan kami selalu menyampaikan larangan membawa handphone. Bukan berarti mereka tidak boleh berkomunikasi dengan keluarga, karena kami sudah menyediakan fasilitas wartel," tegasnya.
Terkait motif narapidana AR menggunakan handphone hingga melakukan siaran langsung di Facebook, Yhoga menyebut hal itu dipicu persoalan hubungan asmara dengan seorang perempuan di luar lapas.
Menurutnya, narapidana tersebut ingin memberikan klarifikasi terkait isu yang beredar di media sosial mengenai hubungan mereka.
"Intinya karena persoalan hubungan asmara. Yang bersangkutan tidak terima hubungannya berakhir sehingga membuat klarifikasi melalui live Facebook," ungkapnya.
