Sandang Gelar Adat, Al Haris Tegaskan Adat Tak Boleh Kalah oleh Zaman

Jambi

Sandang Gelar Adat, Al Haris Tegaskan Adat Tak Boleh Kalah oleh Zaman

Ferdi Almunanda - detikSumbagsel
Minggu, 05 Jul 2026 18:01 WIB
Al Haris saat terima gelar adat kehormatan di Jambi bagian barat, Sungai Penuh
Foto: Al Haris saat terima gelar adat kehormatan di Jambi bagian barat, Sungai Penuh (Dok. Istimewa)
Jambi -

Gubernur Jambi Al Haris menerima gelar adat kehormatan Depati Amanah Negroi Tanoh Sunge Pnoh dari Lembaga Kerapatan Adat Enam Luhah Sungai Penuh. Penganugerahan itu menjadi penegasan atas komitmen menjaga dan menguatkan nilai-nilai adat di tengah derasnya arus modernisasi.

Gelar tersebut disematkan dalam rangkaian Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh di Tanah Mendapo, Sabtu (4/7/2026). Bersamaan dengan itu, Wali Kota Sungai Penuh Alfin menerima gelar Depati Susun Negroi Tanoh Sunge Pnoh, sedangkan Bupati Kerinci Monadi mendapat gelar Depati Sinar Bumi Sakti.

Bagi Al Haris, adat bukan sekadar simbol budaya yang dipertontonkan pada acara seremonial. Adat merupakan fondasi yang membentuk jati diri masyarakat Jambi sekaligus menjadi penuntun dalam menjaga harmoni kehidupan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Adat bagi masyarakat Kota Sungai Penuh dan Provinsi Jambi bukan sekadar tradisi. Adat adalah cara kita memahami hidup, menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, menunjukkan adat dan agama saling menguatkan," kata Al Haris, Minggu (5/7/2026).

ADVERTISEMENT

Al Haris menilai Kenduri Sko memiliki arti penting karena kembali digelar setelah hampir dua dekade. Menurutnya, momentum tersebut harus menjadi titik kebangkitan adat agar tidak semakin terpinggirkan oleh perkembangan zaman dan derasnya pengaruh globalisasi.

Ia mengingatkan pembangunan daerah tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur. Pelestarian budaya dan adat istiadat juga harus menjadi bagian dari pembangunan agar generasi muda tetap mengenal identitas daerahnya.

"Kita ini satu, satu Sakti Alam Kerinci. Jangan karena perbedaan pilihan atau kepentingan politik, persaudaraan menjadi renggang. Adat mengajarkan kebersamaan dan persatuan," ujarnya.
Al Haris juga mendorong agar seluruh rumah adat dan simbol-simbol adat berada dalam pembinaan lembaga adat yang sama sehingga nilai-nilai budaya tetap terjaga dan diwariskan secara utuh kepada generasi berikutnya.

Menurutnya, adat harus menjadi kekuatan moral masyarakat dalam menghadapi tantangan era digital, sekaligus menjadi benteng agar budaya lokal tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads