Tantangan Guru Mengajar di Sekolah Rakyat: Ada yang Masih Ngompol-Ingin Pulang

Sumatera Selatan

Tantangan Guru Mengajar di Sekolah Rakyat: Ada yang Masih Ngompol-Ingin Pulang

Welly Jasrial Tanjung - detikSumbagsel
Senin, 29 Jun 2026 22:30 WIB
Kepala Sekolah (SD)Sekolah Rakyat Terpadu 31 Palembang Yuni Arsi
Kepala Sekolah (SD)Sekolah Rakyat Terpadu 31 Palembang Yuni Arsi (Foto: Welly Jasrial Tanjung/detikcom)
Palembang -

Menjadi guru di Sekolah Dasar (SD) Sekolah Rakyat Terpadu 31 Palembang menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan sekolah pada umumnya. Para guru tak hanya mengajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga membimbing anak-anak agar mampu hidup mandiri karena seluruh siswa tinggal di asrama.

Kepala SD Sekolah Rakyat Terpadu 31 Palembang Yuni Arsi mengatakan pada tahun ajaran 2026/2027 sekolah tersebut menerima 60 siswa SD dari keluarga kurang mampu. Sebagian di antaranya bahkan belum pernah mengenyam pendidikan formal.

"Tantangan terbesar adalah melatih kemandirian mereka. Ada anak yang masih mengompol sehingga setiap hari kami harus menjemur kasurnya. Semua itu menjadi bagian dari proses membimbing mereka agar bisa hidup mandiri dan disiplin tanpa selalu didampingi orang tua," kata Yuni, Senin (28/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Yuni, tidak sedikit siswa yang masih ingin pulang ke rumah karena belum terbiasa tinggal jauh dari orang tua.

Kondisi itu membuat guru dan ibu asuh dan bapak asuh di asrama harus memberikan pendampingan ekstra agar anak-anak merasa nyaman dan mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya karena harus tinggal di asrama berjauhan dari orang tua.

ADVERTISEMENT

Selain membentuk karakter, guru juga menghadapi tantangan dalam proses belajar mengajar. Yuni mengungkapkan karena hampir semuanya para siswa belum bisa membaca maupun menulis karena sebelumnya tidak pernah bersekolah.

"Kami harus memberikan pembelajaran lebih intensif karena ada anak yang benar-benar mulai dari nol. Jadi tugas kami bukan hanya mengajar, tetapi mengejar ketertinggalan kemampuan mereka," ungkapnya.

Yuni menuturkan para ibu asuh dan bapak asuh di asrama turut berperan penting dalam mendampingi aktivitas sehari-hari siswa, mulai dari menjaga kebersihan diri, membiasakan hidup disiplin, hingga membantu mereka beradaptasi dengan kehidupan berasrama.

Meski penuh tantangan, Yuni mengaku bangga bisa menjadi bagian dari Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah untuk memberikan akses pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.

"Seru dan menantang mendidik anak-anak ini, tapi rasanya terharu saat mereka berhasil dibimbing dengan baik. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami sebagai guru," ujarnya.

Sebagai informasi, pada tahun ajaran 2026/2027 Sekolah Rakyat di Sumatera Selatan menerima 120 siswa baru yang terdiri dari 60 siswa tingkat SMA dan 60 siswa tingkat SD.

Program ini menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu yang dijangkau langsung oleh Kementerian Sosial untuk mendapatkan pendidikan gratis.



(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads