Per Senin (18/5/2026) kini nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 17.655,00 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini berada jauh dari target nilai tukar rupiah yang dipatok Rp 16.500 per dolar AS.
Di tengah pelemahan tersebut, pernyataan Presiden Prabowo pada Sabtu (16/5/2026) yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar turut menuai polemik. Dilansir detikFinance, pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai pernyataan tersebut berpotensi memengaruhi sentimen pasar terhadap rupiah.
Meski demikian, pergerakan nilai tukar rupiah ini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya, baik dari kondisi global maupun domestik. Lalu apa yang dapat terjadi apabila dalam beberapa waktu ke depan nilai tukar rupiah tetap mengalami penurunan? Berikut detikSumbagsel sajikan informasi mengenai dampak pelemahan nilai rupiah. Yuk, simak!
Sederet Dampak Pelemahan Nilai Rupiah Terhadap Dolar
Dilansir laman Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri Jakarta, serta sumber lainnya. Berikut ini sejumlah dampak dari melemahnya nilai rupiah, antara lain:
1. Meningkatnya Harga Kebutuhan Pokok
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardi, S.E., M.Sc., Ph.D., menyebut jika pelemahan nilai rupiah dapat membuat kebutuhan pokok meningkat. Kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan baku impor dalam rupiah.
Ia menjelaskan, ketika perusahaan masih bergantung dengan bahan baku impor dan masih ada stok lama, penyesuaian harga tetap berpotensi terjadi dalam beberapa bulan ke depan seiring meningkatnya biaya produksi.
2. Biaya Transportasi Hingga Kesehatan Naik
Selain meningkatnya harga kebutuhan pokok. Biaya untuk transportasi hingga kesehatan juga akan terdampak peningkatan.
"Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak," ujar Rijadh.
Simak Video "Video: Rupiah Babak Belur ke Level Rp 17.300 per Dolar AS"
(mep/mep)