Nilai Tukar Rupiah Melemah, 1 Dollar Berapa Rupiah Hari Ini?

Nilai Tukar Rupiah Melemah, 1 Dollar Berapa Rupiah Hari Ini?

Angely Rahma - detikJateng
Rabu, 21 Jan 2026 14:26 WIB
Nilai Tukar Rupiah Melemah, 1 Dollar Berapa Rupiah Hari Ini?
Dolar AS. (Foto: Jonathan Borba/Unsplash)
Solo -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan publik, khususnya pada hari ini, Selasa, 20 Januari 2026. Kondisi ini kerap diperhatikan oleh pelaku usaha, investor, hingga masyarakat umum. Lalu, berapa sebenarnya nilai 1 dolar AS jika dirupiahkan hari ini?

Mengacu pada informasi dari laman Cakrawala University, nilai tukar atau kurs merupakan perbandingan nilai antara dua mata uang yang berbeda. Secara sederhana, kurs bisa diartikan sebagai harga suatu mata uang yang dinyatakan dalam mata uang lainnya. Nilai ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung pada berbagai faktor ekonomi.

Pergerakan kurs mata uang memiliki peran penting dalam berbagai aktivitas, mulai dari perdagangan internasional, investasi asing, hingga kebutuhan wisatawan yang bepergian ke luar negeri. Bahkan, fluktuasi nilai tukar juga berpengaruh terhadap kondisi ekonomi secara lebih luas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, perubahan kurs dapat menentukan daya saing produk ekspor dan impor, memengaruhi keuntungan perusahaan multinasional, serta berdampak langsung pada biaya maupun laba individu atau pelaku usaha yang terlibat dalam transaksi valuta asing.

Nah, bagi detikers yang ingin mengetahui nilai tukar USD terhadap rupiah hari ini, simak informasi selengkapnya pada pembahasan berikut ini.

ADVERTISEMENT

1 Dolar Berapa Rupiah?

Untuk mengetahui nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hari ini, terdapat sejumlah data resmi yang bisa dijadikan acuan, salah satunya dari Bloomberg dan Bank Indonesia (BI).

Mengacu pada data yang ditampilkan di laman Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu, 21 Januari 2026, tercatat berada di Rp 16.965 per dolar AS pada pukul 12.48 AM EST.

Sebagai pembanding, Bank Indonesia juga merilis kurs resmi dolar AS terhadap rupiah. Berdasarkan informasi dari laman BI, pada Selasa, 20 Januari 2026, nilai kurs jual dolar AS berada di angka Rp 17.065,90, sementara kurs beli tercatat sebesar Rp 16.896,10 per dolar AS.

Perbedaan angka kurs tersebut wajar terjadi karena masing-masing lembaga memiliki metode dan waktu pembaruan data yang berbeda. Meski begitu, data ini dapat menjadi gambaran umum bagi masyarakat untuk memantau pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini.

Update Info Nilai Tukar atau Kurs USD Hari Ini

Selain mengacu pada data resmi dari Bank Indonesia, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah juga dapat dilihat dari kurs jual dan beli yang ditetapkan oleh sejumlah perbankan nasional.

Berdasarkan pembaruan data dari laman resmi masing-masing bank pada pukul 13.24 WIB, beberapa bank yang menjadi acuan antara lain BI, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, hingga Bank Mega.

Adapun rincian kurs jual dan beli USD terhadap rupiah di masing-masing perbankan tersebut dapat disimak pada daftar berikut ini.

1. Kurs BI Hari Ini

  • Kurs jual: Rp 17.065
  • Kurs beli: Rp 16.896

2. Kurs BRI Hari Ini

  • Kurs jual: Rp 16.985
  • Kurs beli: Rp 16.958

3. Kurs BNI Hari Ini

  • Kurs jual: Rp 16.984
  • Kurs beli: Rp 16.964

4. Kurs BTN Hari Ini

  • Kurs jual (TT): Rp 16.650
  • Kurs beli (TT): Rp 16.900
  • Kurs jual (Bank Note): Rp 16.625
  • Kurs beli (Bank Note): Rp 16.925

5. Kurs Bank Mandiri Hari Ini

  • Kurs jual (Special Rate): Rp 16.980
  • Kurs beli (Special Rate): Rp 16.950
  • Kurs jual (TT Counter): Rp 17.070
  • Kurs beli (TT Counter): Rp 16.770
  • Kurs jual (Bank Notes): Rp 17.070
  • Kurs beli (Bank Notes): Rp 16.770

6. Kurs Bank Mega Hari Ini

  • Kurs jual (Rate TT): Rp 17.085
  • Kurs beli (Rate TT): Rp 16.885
  • Kurs jual (Rate Bank Note): Rp 17.225
  • Kurs beli (Rate Bank Note): Rp 16.745

7. Kurs BCA Hari Ini

  • Kurs jual (e-Rate): Rp 16.980
  • Kurs beli (e-Rate): Rp Rp 16.960
  • Kurs jual (TT Counter): Rp 17.118
  • Kurs beli (TT Counter): Rp 16.818
  • Kurs jual (Bank Notes): Rp 17.118
  • Kurs beli (Bank Notes): Rp 16.818

Perlu diketahui, nilai tukar yang tercantum di atas dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan pergerakan kurs yang terjadi setiap saat. Oleh karena itu, untuk mendapatkan informasi kurs dolar AS secara real-time, masyarakat disarankan mengecek langsung melalui laman resmi perbankan atau mendatangi kantor bank terdekat.

Kenapa Nilai Tukar Rupiah Melemah?

Pelemahan nilai tukar rupiah tidak terjadi tanpa sebab. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global (eksternal) dan faktor domestik (internal) yang saling berkaitan. Sejumlah pengamat ekonomi menilai tekanan dari luar negeri hingga dinamika ekonomi dalam negeri menjadi pemicu utama melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Berikut sejumlah faktor yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah!

1. Kebijakan ekonomi Amerika Serikat

Dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga, Pakar Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR, Prof Dr Imron Mawardi S P M Si, menyebut kebijakan tarif yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menimbulkan ketidakpastian di pasar global. Kebijakan tersebut berdampak pada stabilitas ekonomi dunia dan pasar keuangan internasional, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

2. Situasi geopolitik dunia yang memanas

Ketegangan geopolitik global seperti konflik Rusia-Ukraina, ketidakstabilan di Timur Tengah, hingga persaingan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok membuat investor global semakin waspada. Dalam kondisi tidak pasti, investor cenderung beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS. Akibatnya, permintaan dolar meningkat dan nilai tukar rupiah ikut tertekan.

3. Ketergantungan Indonesia terhadap ekspor dan impor

Perekonomian Indonesia masih sangat bergantung pada ekspor komoditas dan impor berbagai kebutuhan strategis. Ketika kondisi ekonomi global terganggu atau harga komoditas dunia menurun, kinerja ekspor ikut terdampak. Situasi ini membuat nilai tukar rupiah menjadi lebih rentan terhadap gejolak eksternal.

4. Ketidakpastian ekonomi dan kebijakan dalam negeri

Masih mengacu pada penjelasan Prof Imron Mawardi dari Universitas Airlangga, ketidakstabilan kebijakan ekonomi serta fluktuasi harga komoditas di dalam negeri dapat menurunkan kepercayaan investor. Ketika investor memilih menarik dananya atau menunda investasi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah pun semakin besar.

5. Tekanan neraca perdagangan

Dikutip dari laman Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Metro, turunnya harga bahan baku di pasar internasional memberikan tekanan besar terhadap kinerja ekspor Indonesia. Kondisi ini memperburuk neraca perdagangan dan pada akhirnya berdampak pada melemahnya nilai tukar rupiah.

6. Tingginya tingkat impor

Nilai impor yang lebih besar dibandingkan ekspor meningkatkan kebutuhan dolar AS sebagai alat pembayaran. Selain itu, tingginya impor bahan bakar minyak (BBM) di tengah kenaikan harga minyak dunia turut memperbesar beban subsidi pemerintah. Besarnya kebutuhan dolar untuk impor inilah yang memberi tekanan tambahan terhadap rupiah.

Apa Dampak Jika Rupiah Terus Melemah?

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari laman Telkom University, pelemahan rupiah membawa sejumlah dampak nyata terhadap perekonomian nasional, baik bagi pelaku usaha maupun masyarakat umum. Berikut beberapa dampaknya:

1. Harga Barang Naik dan Inflasi Meningkat

Melemahnya rupiah menyebabkan harga barang impor otomatis mengalami kenaikan. Kondisi ini sangat terasa pada sektor energi seperti BBM, gas, dan listrik yang masih bergantung pada komponen impor.

Selain itu, industri yang menggunakan bahan baku dari luar negeri juga harus menanggung biaya produksi yang lebih tinggi. Kenaikan biaya tersebut berpotensi memicu inflasi cost-push, yakni inflasi yang terjadi akibat meningkatnya biaya produksi dan akhirnya dibebankan kepada konsumen.

2. Industri Manufaktur dan UMKM Tertekan

Industri manufaktur menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pelemahan rupiah karena masih bergantung pada bahan baku impor. Lonjakan biaya produksi membuat pelaku usaha kesulitan menjaga efisiensi dan daya saing produk.

Di sisi lain, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga menghadapi tekanan besar akibat naiknya harga bahan baku, biaya logistik, dan distribusi. Kondisi ini membuat UMKM harus bekerja lebih keras untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi.

3. Ketidakpastian Investasi dan Pasar Modal

Pelemahan rupiah juga berdampak pada sektor keuangan. Ketika terjadi ketidakpastian moneter, investor asing cenderung menarik dananya dari pasar saham. Aksi jual tersebut dapat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan memicu gejolak di pasar modal.

Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat iklim investasi menjadi lebih berhati-hati dan berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Demikian ulasan mengenai lemahnya nilai tukar rupiah dan gambaran nilai 1 dolar Amerika Serikat saat dirupiahkan hari ini. Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah wawasan bagi detikers.

Artikel ini ditulis oleh Angely Rahma, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(sto/ahr)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads