Pergerakan pasar valuta asing global terus mengalami dinamika yang cukup signifikan sejak awal pekan. Situasi ini memicu pertanyaan di kalangan pelaku usaha mengenai pergerakan nilai tukar Dolar AS ke Rupiah hari ini, 19 Mei 2026, berapa nilai riilnya di tengah ketidakpastian pasar finansial global yang sedang bergejolak.
Fluktuasi ini tentu berdampak langsung pada berbagai sektor ekonomi domestik, mulai dari penyesuaian biaya logistik perdagangan internasional hingga pergeseran harga barang pokok di tingkat konsumen. Oleh karena itu, memantau pergerakan nilai mata uang secara berkala menjadi langkah mitigasi yang penting untuk menjaga stabilitas finansial.
Jadi, hari ini 1 dolar Amerika Serikat berapa rupiah? Simak konversinya dan harga jual-belinya di Bank Indonesia lewat uraian di bawah ini!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?
Dirujuk dari data interbank global di laman Bloomberg, indeks dolar AS terhadap rupiah hari ini, Selasa (19/5/2026) pukul 09.55 WIB berada di posisi Rp 17.718,00. Angka ini mencatatkan kenaikan sebesar 50,00 poin atau mengalami penguatan sebesar 0,28% dibandingkan penutupan sebelumnya di angka 17.668,53. Itu artinya, rupiah kembali melemah.
Jika melihat kekuatan dolar AS terhadap mata uang di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) lainnya, keperkasaan mata uang Negeri Paman Sam ini juga menekan nilai tukar regional. Sebagai perbandingan, ini konversi dolar AS ke ringgit Malaysia dan baht Thailand:
- Konversi USD ke Ringgit Malaysia (MYR): 1 Dolar AS saat ini setara dengan 3,97 Ringgit Malaysia.
- Konversi USD ke Baht Thailand (THB): 1 Dolar AS saat ini setara dengan 32,62 Baht Thailand.
Daftar Kurs Jual-Beli Mata Uang di Bank Indonesia
Berdasarkan data resmi dari Kurs Transaksi Bank Indonesia (BI) pada pukul 09.50 WIB, berikut adalah rincian harga jual dan harga beli berbagai mata uang asing terhadap Rupiah.
- USD (Dolar Amerika Serikat): Kurs Jual Rp 17.754,33 | Kurs Beli Rp 17.577,67
- SGD (Dolar Singapura): Kurs Jual Rp 13.873,82 | Kurs Beli Rp 13.731,48
- EUR (Euro): Kurs Jual Rp 20.653,61 | Kurs Beli Rp 20.444,59
- GBP (Poundsterling Inggris): Kurs Jual Rp 23.709,13 | Kurs Beli Rp 23.467,95
- AUD (Dolar Australia): Kurs Jual Rp 12.699,67 | Kurs Beli Rp 12.569,79
- JPY (Yen Jepang per 100): Kurs Jual Rp 11.173,27 | Kurs Beli Rp 11.059,31
- CNY (Yuan China): Kurs Jual Rp 2.610,16 | Kurs Beli Rp 2.583,89
- MYR (Ringgit Malaysia): Kurs Jual Rp 4.469,87 | Kurs Beli Rp 4.420,94
- SAR (Riyal Arab Saudi): Kurs Jual Rp 4.730,83 | Kurs Beli Rp 4.683,51
- THB (Baht Thailand): Kurs Jual Rp 544,44 | Kurs Beli Rp 538,53
- HKD (Dolar Hongkong): Kurs Jual Rp 2.267,33 | Kurs Beli Rp 2.244,68
- CHF (Franc Swiss): Kurs Jual Rp 22.614,10 | Kurs Beli Rp 22.380,53
- CAD (Dolar Kanada): Kurs Jual Rp 12.916,94 | Kurs Beli Rp 12.787,48
- KWD (Dinar Kuwait): Kurs Jual Rp 57.878,83 | Kurs Beli Rp 57.284,24
- KRW (Won Korea Selatan): Kurs Jual Rp 11,86 | Kurs Beli Rp 11,74
Kenapa Rupiah Terus Melemah?
Akademisi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardi, menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah yang terjadi saat ini merupakan akumulasi dari berbagai tekanan global dan domestik yang terjadi bersamaan. Sebuah fenomena yang kerap disebut sebagai "perfect storm."
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik yang memanas di wilayah Timur Tengah memicu ketidakpastian ekonomi dunia. Kondisi tersebut mendorong para investor global untuk menarik modal mereka dari aset berisiko dan mengalihkannya ke aset aman utama (safe haven), yaitu Dolar AS.
Sementara dari sisi domestik, tekanan diperberat oleh faktor musiman, seperti tingginya permintaan valuta asing untuk pembayaran dividen kepada investor asing serta evaluasi pasar terhadap keterbatasan ruang fiskal negara.
"Kombinasi dari sisi global dan sisi domestik inilah yang menurut saya membuat pelemahan rupiah terasa lebih tajam," ujarnya dilansir situs resmi UGM, Minggu (10/5/2026).
Dampak dari pelemahan nilai tukar ini diproyeksikan akan langsung merembet ke sektor riil melalui inflasi impor (imported inflation). Perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor harus menghadapi lonjakan biaya produksi, yang dalam jangka waktu satu hingga beberapa bulan ke depan berpotensi dibebankan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, serta produk kesehatan.
Menghadapi situasi dilematis ini, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas volatilitas Rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Penguatan instrumen keuangan seperti surat berharga juga dioptimalkan untuk menarik kembali aliran modal masuk.
Di tingkat makro, pengetatan disiplin belanja negara dan penguatan sektor pangan serta energi domestik menjadi kunci utama untuk mengurangi ketergantungan terhadap barang impor. Langkah ini diharapkan mampu mempertebal daya tahan ekonomi nasional dari guncangan eksternal yang berkelanjutan.
Nah, itulah sekilas mengenai nilai tukar dolar AS ke rupiah hari ini 19 Mei 2026. Semoga menjawab pertanyaan detikers, ya!
Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(num/ahr)
