- Apa Saja Tugas Tim DVI?
- 5 Fase Identifikasi DVI 1. The Scene 2. Post Mortem Examination 3. Ante Mortem Information Retrieval 4. Reconciliation 5. Debriefing
- Tantangan DVI Pada Korban Kebakaran 1. Hilangnya Petunjuk Utama (Sidik Jari) 2. Kerusakan Properti dan Identitas Sekunder 3. Sulitnya Mengakses Titik Lokasi
- Mengenal TIM DVI Indonesia
Masyarakat Indonesia dihebohkan dengan peristiwa kecelakaan antara bus dan truk yang menewaskan 16 orang. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, (6/5/2026) sekitar pukul 12.00 WIB di Jalan Lintas Sumatera, Kelurahan Karang Jaya, Kabupaten Muratara.
Kecelakaan ini menyebabkan kedua kendaraan terbakar hebat hingga sejumlah penumpang ikut menjadi korban. Meski demikian, beberapa orang dilaporkan selamat dengan kondisi luka ringan hingga berat.
Dilansir dari arsip detikSumbagsel, kini Polda Sumatera Selatan membuka Posko Call Center Disaster Victim Identification (DVI) untuk membantu keluarga korban kecelakaan tersebut. Layanan ini disediakan untuk mempermudah masyarakat mendapatkan informasi mengenai identifikasi korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Polda Sumsel menyediakan nomor hotline 0821-7803-8910 yang dapat dihubungi masyarakat sewaktu-waktu untuk memperoleh perkembangan terbaru mengenai identifikasi korban," kata Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mukmin Wijaya.
Tim DVI biasanya diterjunkan dalam peristiwa dengan jumlah korban jiwa yang besar. Tujuannya untuk mengidentifikasi korban dari insiden yang menelan korban massal, salah satunya seperti kecelakaan bus dan truk di Muratara ini.
Berikut detikSumbagsel sajikan informasi mengenai tugas tim DVI dan tahapan prosesnya. Yuk, simak!
Apa Saja Tugas Tim DVI?
Dilansir dari detikNews, tim DVI dikerahkan dalam bencana terbuka da tertutup. Berikut penjelasannya:
- Bencana terbuka: Bencana yang tidak diketahui seberapa banyak korban jiwanya. Bencana ini sering kali berupa bencana alam seperti tsunami, longsor, gempa, serta serangan teroris (berkekuatan besar).
- Bencana tertutup: Bencana yang kemungkinan jumlah korbannya dapat segera diketahui. Seringkali, bencana ini terjadi di mana pendaftaran orang-orang yang terlibat telah dilakukan sebelumnya, seperti kecelakaan bus (daftar penumpang)
- Bencana gabungan terbuka dan tertutup: Bencana ini merupakan gabungan dari bencana-bencana yang telah disebutkan sebelumnya. Salah satu contohnya adalah pesawat terbang yang jatuh di area permukiman.
5 Fase Identifikasi DVI
Dikutip dari jurnal Identifikasi Korban Bencana Massal: Praktik DVI Antara Teori dan Kenyataan oleh Henky dan Oktavinda Safitry. Berikut 5 fase identifikasi DVI, yaitu:
1. The Scene
Pada fase pertama, tim yang datang ke TKP akan melakukan pemilahan antara korban hidup dan korban mati. Selain itu juga mengamankan barang bukti yang dapat mengarahkan pada pelaku apabila bencana yang disebabkan diakibarkan oleh ulah manusia.
Pada korban mati diberikan label sebagai penanda. Label ini perlu memuat informasi tim pemeriksa, lokasi penemuan, dan nomor tubuh/mayat. Label yang diberikan ini akan sangat membantu proses penyidikan selanjutnya.
2. Post Mortem Examination
Berikutnya adalah fase pemeriksaan mayat, fase ini juga dapat dilakukan beriringan dengan fase pertama dan ketiga. Pada fase ini, para ahli identifikasi, dokter forensik, dan dokter gigi forensik akan melakukan pemeriksaan untuk mengumpulkan berbagai data postmortem sebanyak-banyaknya, seperti sidik jari, pemeriksaan terhadap gigi, seluruh tubuh, dan barang bawaan yang ada pada mayat.
Dilakukan juga pengambilan sampel jaringan untuk pemeriksaan DNA. Data ini kemudian dimasukkan ke dalam pink form berdasarkan standar interpol.
3. Ante Mortem Information Retrieval
Merupakan fase pengumpulan data antemortem di mana ada tim kecil yang menerima laporang orang yang diduga menjadi korban. Tim ini kemudian akan meminta data sebanyak-banyaknya dari keluarga korban.
Data yang diminta dapat berupa informasi mengenai:
Pakaian terakhir yang dikenakan
- Ciri-ciri khusus unik (tanda lahir, tato, tahi lalat, dan sebagainya)
- Data rekam medis dari dokter keluarga dan dokter gigi korban
- Data sidik jari dari pihak berwenang (kelurahan atau kepolisian); serta
- Sidik DNA apabila keluarga memilikinya.
Apabila tidak ada sidik DNA korban maka akan dilakukan pengambilan sampel darah dari keluarga korban. Data Ante Mortem kemudian akan diisikan ke dalam yellow form sesuai standar interpol.
4. Reconciliation
Seseorang dinyatakan telah teridentifikasi pada fase rekonsiliasi apabila terdapat kecocokan antara data Ante Mortem (AM) dan Post Mortem (PM) dengan kriteria minimal 1 macam Primary Identifiers atau 2 macam Secondary Identifiers.
Selama proses identifikasi, tim DVI harus memperlakukan jenazah korban dengan penuh hormat dan hati-hati. Proses identifikasi harus transparan agar keluarga terdekat dapat memberikan informasi sebanyak mungkin.
5. Debriefing
Fase terakhir ini dilakukan 3-6 bulan setelah proses identifikasi selesai. Pada fase ini, semua orang yang terlibat dalam proses identifikasi berkumpul untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan proses, mulai dari sarana, prasarana, kinerja, prosedur, dan hasil identifikasi.
Tantangan DVI Pada Korban Kebakaran
1. Hilangnya Petunjuk Utama (Sidik Jari)
Dalam proses DIV, sidik jari biasanya menjadi cara cepat untuk mengenali korban. Tetapi, pada korban kebakaran terlebih kebakaran besar, hal ini sering tidak bisa dilakukan.
Dilansir dari jurnal Penanganan Identifikasi Korban Luka Bakar dalam Kecelakaan Lalu Lintas: Laporan Kasus DVI oleh Hastin Novia dan Ahmad Yudianto, yang mengkaji kasus kecelakaan mobil dan Tol di Madiun-Ngawi, kondisi tubuh korban yang mengalami kebakaran hebat membuat tubuh menjadi hangus dan tidak ditemukannya jari-jari tubuh serta hanya menyisakan jaringan keras seperti tulang.
2. Kerusakan Properti dan Identitas Sekunder
Pada beberapa bencana seperti gempa atau banjir, identitas korban masih mungkin ditemukan meskipun dalam kondisi rusak atau basah. Sedangkan pada kasus kebakaran, barang-barang tersebut dapat habis terbakar menjadi abu.
3. Sulitnya Mengakses Titik Lokasi
Dilansir dari jurnal Tantangan dan Strategi Identifikasi Korban Bencana Kebakaran Massal: Studi Kasus Kebakaran Glodok Plaza oleh Rr. Savita Helena Affandy dan Hudi Yusuf, apabila kebakaran tersebut terjadi di bangunan besar, dan meluas hingga tidak dapat dijangkau oleh tim penyelamat maupun tim identifikasi.
Kondisi ini berdampak langsung pada fase awal dalam DVI, yaitu The Scene, di mana tim seharusnya melakukan evakuasi korban dan pengumpulan data awal. Namun, kepadatan asap, runtuhan bangunan, serta keterbatasan alat dapat menghambat proses tersebut.
Mengenal TIM DVI Indonesia
Dikutip dari detikNews, Kementerian Kesehatan bersama dengan Kepolisian RI sejak 1999 membentuk Tim DVI di Indonesia yaitu Tim DVI Nasional, Tim DVI Regional dan Tim DVI Provinsi. Tim DVI ini terdiri dari:
- Dokter spesialis forensik;
- Dokter gigi:
- Ahli antropologi (khusus tulang); dan
- Fotografi.
Demikian informasi mengenai apa itu DIV dan tahapan prosesnya. Semoga bermanfaat ya!
Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
