Peringatan Hari Kartini seringkali dirayakan dengan berbagai kegiatan seru dan bermakna, salah satunya pembacaan puisi. Hal ini juga kerap dijadikan perlombaan di sekolah atau tingkat lingkungan rumah.
Pembaca puisi bisa memilih karya orang lain untuk dibacakan dengan gaya khasnya. Karena itu, bagi yang membutuhkan contoh puisi Hari Kartini bisa memilih salah satu dari kumpulan di bawah ini.
Berbagai tema tentang Hari Kartini bisa menjadi referensi pemilihan atau bahkan ide membuat yang baru. Mulai dari puisi tentang perempuan hingga perjuangan di masa kini. Simak contohnya!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kumpulan Contoh Puisi Hari Kartini
Kartiniku Kini
Saat pena kau tempelkan secarik kertas
Tersusunlah kata-kata sukma meretas
Membawa perubahan awal sepintas
Hingga kaummu menyambut penuh antusias
Kini wahai Kartiniku
Kaummu seakan melupakanmu
Tersibuk dengan lautan ambigu
Terlupa akan sebuah perilaku
Wahai Kartiniku kini
Tidaklah mentari lupa menanti pagi
Saatnya dirimu membekali literasi
Saatnya dirimu penuh berinovasi
Wahai Kartiniku kini
Sudahkah dirimu menyelami diri
Mencari dimana peradaban nanti
Mengikuti aliran tsunami teknologi
Sepatah tulisan membawa pesan
Sebarisan kalimat membuyarkan angan
Sebait paragraf merubah peradaban
Majulah Kartiniku kini untuk kemajuan zaman
(Antologi Puisi Kartini Perpusnas-Mochamad Riduwan)
Tanduk Perempuan
Badwara rupa kami, buntara jiwa kami
Ibu Kartini titip pesan kepada kami
Jaga elok-elok seberkas harga diri
Angkat tinggi-tinggi kehormatan ini
Di saat ini tak lagi perempuang dikekang
Tak ada lagi kami dianggap membangkang
Hak-hak untuk kami kembali secara utuh
Tidak dipentingkan hanya saat butuh
Derajat, kini telah setara adanya pendidikan diemban secara merata
Mampu berdiri sejajar dengan putra
Ini masanya kami bebas beroleh
Siapa yang segan suruh kami untuk menunduk?
Jangan pikir kami tidak punya tanduk
Kami dapat saja buas liar menyeruduk
Pengetahuan membuat kami tak lagi terpuruk
(Antologi Puisi Kartini Perpusnas-Naurah Risadamayanti)
Kartini Dalam Pena Abadi
Di perahu literasi persajakan
Sejenak kau tikam ombak kemalasan
Membuaya juang dalam darah kebangsaan
Bertutur sabda di atas bumi pertiwi
Negeriku yang dihuni naluri kartini
Kau dera nyawa kebisuan bangsamu
Dengan sebilah pena runcing berkilau
Dan jubah zirah kebangkitan
Pena runcing kau angkat menyamai cakrawala
Engkau tusuk, tusuk, tusuk dan tusuk kebodohan itu
Tak kau hiraukan benteng horizon membatasi petas filsafat kebenaran
Engkau berteriak menyabdakan emansipasi
Membangunkan jasad dalam teks literasi
Hingga mereka tersadar
Perahu nusantara akan berlabuh jika pena runcing berdayung
Hanya dengan sebilah pena runcing nan abadi
Serta kertas bergaris sel besi
Banfsa hawa menduduki tahta kehormatan
Tak lagi diinjak, tak lagi ditindas oleh kedudukan
Tersadar dari nahkoda kartini
Moha bangsa hawa segenap menyadari
Negara yang dewasa, kokoh dan mandiri
Apabila darah mereka dicoret literasi
Literasi, literasi, literasi yah literasi
Yang mendobrak kedudukan bumi ini
Menjadi gerbang kebebasan
Yang telah lama terkunci dalam tirai perbedaan
Raden Ajeng Kartini
Ibu Kartini
Engkau memang sangat berani
Berjuang untuk kaum putri
Agar sederajat dengan kaum lelaki
Ibu Kartini
Namamu selalu harus mewangi
Tak bisa pudar sama sekali
Walau engkau kini telah pergi
(Anisa Ayu)
R.A Kartini
Engkau adalah puteri yang berjiwa pahlawan
Rela mengorbankan jiwa, serta ragamu
Tak gentar melawan takdirmu
Untuk memajukan negara ini
Engkau adalah sosok srikandi
Yang rela mengorbankan harta, dan bendamu
Tidak pernah merasa letih dalam
Memperjuangkan negara ini
Engkau adalah pahlawan dari kaummu
Cita-citamu amatlah mulia
Demi mewujudkan tunas bangsa
Kebanggaan agama serta negara
(Ahmad Maulana)
Asa Sang Dara
Arunika menampakkan dirinya
Tersenyum indah
Melihat kartini yang sani
Berjuang mati-matian
Memberi asa pada sang dara
Yang tiada
Kini
Sang dara pun bangkit
Melebarkan sayapnya
Selebar-lebarnya
Terbamg
Sejauh-jauhnya
(Antologi Puisi Kemendikbud-Alifia N)
Raden Ayu Kartini
Hati emas yang bersinar
Sebuah mimpi menjadi kenyataan
Seperti serigala yang mencari mangsa
Itulah dia, Raden Ayu Kartini
Meski kau kini telah tiada,
Perjuanganmu,
Pengorbananmu
Jasamu
Akan selalu teringat
((Antologi Puisi Kemendikbud-Darell)
Kartini Masa Depan
Aku perempuan Indonesia
Menelan gelap menjadi pagi
Menantang kebodohan diri sebagai jati diri seorang aku
Mungkin lelah menggoda berkat sudah
Tapi sadar, diri kecil menyandang cita-cita tinggi
Bial satu buku saja sudah menjadi penerang jalan
Membias ke segala penjuru
Menerobos celah tirai jendela dunia
Mengapa tak kucoba satu buku lagi saja?
Aku perempuan Indonesia
Tak akan buta menjadi identitasku
Bila payahnya literasi menjadikanku bungkam, aku tak mau seperti itu
Biarlah hitam mataku, kapal tanganku, rontok rambutku
Jauh lebih baik bagiku daripada gelap duniaku
Aku mampu berdaya
Kelak, bila mana aku dapat melihat dunia
Akan ku seberangi pelita kepada perempuan Indonesiaku
Aku perempuan Indonesia
Aku potensi Indonesiaku
(Antologi Puisi Kartini Perpusnas-Fiddinillah)
Kartini dan Literasi
Kebudayaan dibangun dengan pemikiran
Rasa, cipta dan karsa diolah sedemikian rupa
Perubahan berbanding lurus dengan masa yang senantiasa berganti
Masa kini perlu disiapkan untuk masa depan
Masa depan disiapkan dengan literasi
Kariniku menulis habis gelap terbitlah terang
Terang yang aku harap terus bersinar menyinari bumi
Seperti lagu yang terus mengalun
Mengiringi emansipasi, kebebasan, dan toleran
Tiga nilai yang kudapat dari wahai Kartiniku
Kini, sara yang paripurna tidaklah berarti tanpa daya dan upaya dengan literasi
Terus menerus bukan berarti tanpa jeda
Demi transendensi dan masa tanpa ego
Karena kehidupan akan menjadi seperti apa yang bergantung pada saya
(Antologi Puisi Kartini Perpusnas-Winnie TM)
Kartini, Lasana Pertiwi
Wahai Kartini..
Sayap perjuangan telah dibentangkan
Mengoyak-oyak gelap, merobek cahaya
Tirai momentum membuka menganga
Setiap dari kapurnya mencoret menulis aksara
Tulisan surat itu tanda ksatria
Seorang Raden Ayu
Dari Jepara
Kartini...
Berjalan setindak demi setindak
Menundukkan kepala patuh
Hanya boleh bicara pelan itu pun dengan berbisik
Dalam sukam tak pernah terganti
Dalam raga pancarkan cakrawala
Irama eloknya beralun-alun bagai gurindam
Di sana kematian menjadi awal kehidupan
Tapi mati tanpa kematian adalah maya
Menarikan pena tak bertinta di atas lembar kertas
Juga hidup tanpa kehidupan adalah maya
Segala terhapus, pupus, tak berbekas
(Antologi Puisi Kartini Perpusnas-Nandita Velisa)
Simak Video "Video: Penyulap Kata, Ubah Curhat Jadi Puisi"
[Gambas:Video 20detik] (mep/mep)
