Selain Palembang, Kasus Campak di Banyuasin dan Musi Rawas Tercatat Tinggi

Sumatera Selatan

Selain Palembang, Kasus Campak di Banyuasin dan Musi Rawas Tercatat Tinggi

Ani Safitri - detikSumbagsel
Sabtu, 11 Apr 2026 12:01 WIB
Ilustrasi campak
Foto: Ilustrasi campak (Getty Images/Natalya Maisheva)
Palembang -

Sebaran kasus campak di Sumatera Selatan kini tidak hanya terpusat di Kota Palembang. Dua wilayah lain, yakni Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten Banyuasin, mulai menunjukkan tren penyebaran yang mengkhawatirkan dengan angka suspek yang menembus di atas seratus kasus.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumsel per 9 April 2026, Musi Rawas mencatat 116 kasus suspek dengan 25 di antaranya positif. Sementara Banyuasin membayangi dengan 109 kasus suspek dan 18 terkonfirmasi positif.

"Selain Palembang sebagai episentrum utama, perhatian kini juga tertuju pada Musi Rawas dan Banyuasin karena tren suspek yang konsisten tinggi sejak awal tahun," ujar Kabid P2P Dinas Kesehatan Sumsel, Ira Primadesa pada detikSumbagsel, Jumat (10/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski angka positif di Banyuasin 18 kasus, persentase pasien dewasa (usia di atas 15 tahun) di wilayah ini justru yang tertinggi di Sumsel.

"Banyuasin menjadi sorotan karena persentase kasus positif pada kelompok dewasa mencapai 10 persen. Ini tertinggi di Sumsel untuk kategori usia dewasa di wilayah berstatus KLB (Kejadian Luar Biasa)," jelas Ira.

ADVERTISEMENT

Data Dinkes menunjukkan lonjakan di kedua wilayah ini terjadi secara bertahap sejak awal tahun. Di Musi Rawas, terdapat 56 suspek pada Januari. Sedangkan di Banyuasin, angka suspek terus merangkak naik dari 22 kasus di Januari hingga puncaknya 46 kasus pada Maret 2026.

Kondisi serupa juga membayangi beberapa daerah lain di Sumsel. Tercatat Kota Prabumulih kini memiliki 103 suspek dan Kota Lubuklinggau sebanyak 66 suspek.

Hingga saat ini, Kota Palembang masih memegang rekor tertinggi dengan 808 suspek dan 178 kasus positif. Secara total, akumulasi kasus positif campak di seluruh Sumsel selama tahun 2026 telah mencapai 336 kasus.

"Kami sedang berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mempercepat distribusi vaksin untuk dewasa, terutama bagi tenaga kesehatan yang merupakan kelompok paling berisiko di tengah masa KLB ini," tambah Ira.

Masyarakat diimbau untuk tidak lengah. Jika menemukan gejala demam tinggi yang disertai ruam merah pada kulit, warga diminta segera melapor ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads