Kasus campak yang meningkat di sejumlah wilayah di Indonesia kini telah masuk dalam kategori kejadian luar biasa (KLB). Provinsi Sumatera Selatan menjadi salah satu dari 11 provinsi yang terdampak penyebaran penyakit menular tersebut.
Kabid P2P Dinkes Sumsel Ira Primadesa mengatakan bahwa peningkatan kasus campak terjadi di banyak daerah dan perlu menjadi perhatian serius.
"45 KLB campak terjadi di 29 Kabupaten/Kota di 11 Provinsi, termasuk Provinsi Sumatera Selatan," ujarnya, Kamis (2/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan surat edaran Kementerian Kesehatan upaya pencegahan agar kasus tidak terus bertambah dan meluas, pemerintah melaksanakan kegiatan Outbreak Response Immunization (ORI), dan Catch-Up Campaign (CUC) Campak/MR dengan sasaran anak usia 9 hingga 59 bulan.
Di Sumatera Selatan, pelaksanaan imunisasi tersebut telah dimulai di sejumlah wilayah.
"Pelaksanaan ORI sudah dilakukan mulai Selasa 10 Maret 2026 di Palembang, Prabumulih, Banyuasin dan Muratara di masing-masing posyandu," katanya.
Ia menjelaskan, peningkatan kasus campak yang signifikan pada tahun 2026 salah satunya disebabkan oleh rendahnya cakupan imunisasi pada masyarakat.
"Peningkatan kasus suspek dan konfirmasi yang signifikan pada tahun 2026 dengan faktor risiko rendahnya status imunisasi kasus yaitu sebesar 23% (1 dosis) dan 19% (β₯ 2 dosis)," jelasnya.
Untuk itu, diperlukan langkah konkret melalui peningkatan cakupan imunisasi rutin serta pelaksanaan imunisasi massal di daerah yang telah ditetapkan.
"Diperlukan peningkatan cakupan imunisasi rutin yang tinggi dan merata serta terlaksananya respon dengan imunisasi massal pada 4 kabupaten/kota yaitu Kota Palembang, Prabumulih, Banyuasin dan Musirawas Utara," ungkapnya.
Ira juga menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah daerah dalam menyukseskan program imunisasi tersebut.
"Butuh dukungan penggerakan pemerintah daerah baik di 4 kabupaten/kota yang telah ditetapkan untuk melaksanakan imunisasi massal termasuk kabupaten/kota dalam mendukung pelaksanaan imunisasi rutin dan imunisasi kejar," ujarnya.
(csb/csb)











































