Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam yang memenuhi syarat. Namun, bagi mereka yang berhalangan menjalankannya, seperti karena sakit atau bepergian, diwajibkan mengganti di hari lain melalui puasa qadha. Dalam kondisi tertentu, kewajiban itu bisa diganti dengan membayar fidyah.
Setelah Ramadan berakhir, umat Islam juga dianjurkan menjalankan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Amalan ini dikenal sebagai puasa Syawal dan memiliki keutamaan besar. Namun, tak sedikit yang bertanya-tanya, apakah puasa qadha bisa digabung dengan puasa Syawal agar lebih praktis?
Dilansir dari artikel di situs Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ketua Lembaga Pengkajian dan Penerapan Al Islam, Fakhrurazi Reno Sutan memberikan penjelasan terkait hal tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keutamaan Puasa Syawal
Puasa Syawal merupakan puasa sunnah yang dikerjakan selama enam hari di bulan Syawal. Keutamaannya sangat besar, bahkan pahalanya disamakan seperti berpuasa selama satu tahun penuh. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menyempurnakannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa sepanjang tahun."
Selain itu, puasa sunnah juga memiliki keutamaan sebagai pelindung dari siksa api neraka. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa orang yang berpuasa di jalan Allah akan dijauhkan dari api neraka selama 70 tahun.
Bolehkah Puasa Qadha Digabung dengan Puasa Syawal?
Berdasarkan referensi Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dalam Fatwa Tarjih, menggabungkan dua ibadah yang memiliki hukum berbeda, yakni wajib dan sunnah dalam satu amalan tidak dianjurkan. Hingga kini, belum ditemukan dalil yang secara jelas membolehkan penggabungan antara puasa qadha Ramadan dengan puasa sunnah Syawal dalam satu niat.
Para ulama pada umumnya juga menyarankan agar puasa qadha didahulukan sebelum menjalankan puasa sunnah. Hal ini karena puasa qadha bersifat wajib, sedangkan puasa Syawal termasuk sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan.
Dengan demikian, memisahkan antara puasa wajib dan sunnah dinilai lebih sesuai dengan tuntunan ibadah. Selain lebih tertib, cara ini juga diyakini dapat memberikan pahala yang lebih sempurna serta meningkatkan kualitas spiritual seorang muslim.
Sebagai langkah yang lebih aman, umat Islam dianjurkan untuk menyelesaikan utang puasa Ramadan terlebih dahulu, kemudian melanjutkannya dengan puasa sunnah Syawal. Dengan begitu, ibadah yang dijalankan menjadi lebih teratur dan maksimal.
Itulah penjelasan mengenai hukum menggabungkan puasa qadha dengan puasa Syawal. Semoga informasi ini dapat menambah pemahaman dan menjadi panduan dalam menjalankan ibadah dengan lebih baik dan sesuai tuntunan.
Artikel ini ditulis oleh Mutiara Helia Praditha peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(csb/csb)
