Akses jalan penghubung dua desa di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, rusak parah. Akibatnya, pasokan bahan pokok sulit masuk ke desa, bahkan ada salah satu warga meninggal di tengah jalan karena terlambat mendapat penanganan.
Jalan penghubung dua desa yang rusak itu berada di Kecamatan Muara Lakitan, yakni Desa Sindang Laya, dan Mukti Karya.
Kades Sindang Laya yakni Thamrin Tarius mengaku jalan tersebut sudah rusak parah selama empat bulan terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah empat bulan terakhir ini akses jalan rusak berat hingga lumpuh total sampai tidak bisa dilalui sehingga seluruh aktivitas masyarakat jadi lumpuh. Bahkan, untuk mengeluarkan hasil pertanian kelapa sawit untuk dijual ke pabrik saja tidak bisa, sampai buahnya jadi busuk," katanya saat dikonfirmasi detikSumbagsel, Selasa (24/2/2026).
Selain tidak bisa mengeluarkan hasil pertanian, Thamrin mengaku ada salah satu warganya yang sakit akhirnya meninggal dunia di tengah perjalanan saat melintas di jalan tersebut lantaran terlambat dibawa ke rumah sakit.
"Pernah kejadian saya membawa langsung warga saya yang sakit parah pas akhir Januari 2026. Namun belum sampai ke rumah sakit, warga tadi akhirnya meninggal dunia di jalan karena kesulitan melintas," ungkapnya.
Ia menjelaskan jalan utama Desa Sindang Laya tersebut merupakan jalan perkebunan salah satu perusahaan dan berjarak 7 km untuk sampai ke jalan nasional.
"Karena jalan rusak ini butuh berhari-hari agar bisa tembus ke jalan nasional, itu pun harus bermalam di jalan karena jalan yang hancur lebur," ujarnya.
Thamrin mengaku jalan tersebut belum diperbaiki baik dari pihak perusahaan maupun pihak Pemkab Musi Rawas, sehingga jalan tersebut makin rusak parah.
"Padahal sudah berulang kali kami menyampaikan proposal kepada mereka agar jalan dilakukan pengerasan, namun sampai sekarang tidak pernah ditanggapi," katanya.
Hal senada diungkapkan Kades Mukti Karya, Mulyadi. Ia mengatakan sudah empat bulan ini desa Mukti Karya terisolir akibat jalan rusak
"Akibatnya logistik tidak bisa masuk ke desa. Walaupun ada yang masuk, harganya melonjak mahal seperti beras mencapai Rp 25.000/kg dan gas LPG 3 kg mencapai Rp 80.000/tabung," ungkapnya.
Selain itu, kata Mulyadi, program pemerintah seperti koperasi merah putih (KMP) hingga makan gizi gratis (MBG) juta tidak bisa dilaksanakan di Desa Mukti Karya dan Sindang Laya.
"Maka dari itu kami sangat memohon minimal perbaikan pengerasan saja terlebih dahulu dan tidak harus diaspal. Yang penting bisa dilalui saja sekarang ini," ungkapnya.
