Sambut Imlek, Kelenteng Dewi Kwan Im Palembang Bersihkan Ratusan Rupang

Sumatera Selatan

Sambut Imlek, Kelenteng Dewi Kwan Im Palembang Bersihkan Ratusan Rupang

Nadiya - detikSumbagsel
Rabu, 11 Feb 2026 16:41 WIB
Pembersihan rupang dewa menyambut Imlek di Kelenteng Dewa Kwan Im
Foto: Pembersihan rupang dewa menyambut Imlek di Kelenteng Dewa Kwan Im (Nadiya)
Palembang -

Pengurus Kelenteng Dewi Kwan Im Palembang melakukan pembersihan terhadap ratusan rupang dewa sebagai bentuk persiapan menyambut perayaan Imlek yang jatuh pada 17 Februari 2026. Kegiatan tahunan ini dilakukan setelah para dewa diyakini telah diantar menuju Kahyangan pada malam sebelumnya.

"Hari ini kita sudah mulai bersih-bersih rupang ya sekitar 100 hingga 150 rupang. Karena semalam pengurus kelenteng ini sudah melakukan serangkaian ritual mengantar dewa ke Kahyangan," ujar Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Sumatera Selatan, Tjik Harun.

Tjik Harun menjelaskan bahwa proses pembersihan ini merupakan saat yang sakral karena posisi dewa dianggap sedang kosong sehingga rupang baru diperbolehkan untuk dibersihkan. Selain patung-patung utama, petugas juga mencuci berbagai peralatan sembahyang lainnya agar kondisi klenteng prima saat hari raya tiba.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Rupang yang ada di Kelenteng Dewi Kwan Im ini kurang lebih ada sekitar antara 100 sampai 150 ya, sudah mulai kita bersihkan dari hari ini," ungkapnya kepada wartawan, Rabu (11/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa banyaknya jumlah rupang tersebut mencakup berbagai figur dewa, termasuk ratusan patung yang merupakan titipan umat yang telah berpindah keyakinan. Meski koleksi terus bertambah, pihak klenteng saat ini telah menutup pintu bagi umat yang ingin menitipkan atau mengambil kembali rupang dari area tersebut.

ADVERTISEMENT

Tjik Harun juga memaparkan bahwa pembersihan rupang melibatkan ramuan tradisional berupa bunga tujuh warna yang dipercaya secara lokal mampu membuang hal-hal buruk.

"Air ini air sabun ya, kemudian biasanya dicampur dengan Macho, kembang tujuh warna. Ada kearifan lokal untuk menetralisir, membuang energi yang negatif-negatif dari kelenteng," jelasnya mengenai cairan penyucian tersebut.

Penggunaan bunga tujuh warna dan daun macho tersebut merupakan bentuk kearifan lokal yang dipadukan dengan tradisi Tionghoa untuk membuang energi negatif dari lingkungan kelenteng.

Tjik Harun memprediksi arus kunjungan umat akan mulai memadati area klenteng sejak malam tanggal 16 Februari setelah sesi makan malam keluarga, di mana pihak pengurus telah menyiagakan sekitar 10.000 set perlengkapan ibadah untuk melayani para pengunjung.

"Puncaknya jam 12 malam tanggal 16 menuju tanggal 17, itu pasti banyak umat yang datang untuk menyambut tahun baru," tutup Tjik Harun mengenai jadwal kunjungan massa.

Artikel ini ditulis oleh Nadiya, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads