Kasus ISPA di Palembang Tembus 13.000/Bulan, Terbanyak di Usia Produktif

Sumatera Selatan

Kasus ISPA di Palembang Tembus 13.000/Bulan, Terbanyak di Usia Produktif

Nadiya - detikSumbagsel
Jumat, 23 Jan 2026 09:20 WIB
Viruses in human lungs, 3D illustration. Conceptual image for viral pneumonia, flu, MERS-CoV, SARS, Adenoviruses and other respiratory viruses
Foto: Ilustrasi ISPA (Getty Images/Enes Evren)
Palembang -

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Palembang kini menunjukkan tren yang tidak biasa. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang mencatat rata-rata temuan kasus mencapai 13.000 orang per bulan, dengan penderita terbanyak berasal dari kelompok usia produktif, yakni usia 19-59 tahun.

Data ini mematahkan anggapan umum bahwa ISPA hanya berisiko tinggi bagi balita. Pada Desember 2025 lalu saja, total kasus di Palembang menyentuh angka 18.206 pasien yang tersebar di seluruh kecamatan.

"Paling banyak kasus ISPA sekarang menyerang usia produktif, umur 19 sampai 59 tahun. Karena kelompok umur ini yang aktif di luar rumah, bekerja, dan paling sering terpapar polusi udara serta debu jalanan," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Palembang, Yudhi Setiawan, Kamis (22/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyebut, faktor alam dan cuaca hujan yang ekstrem ini memang menjadi pemicu, namun perilaku masyarakat yang mulai abai juga berpengaruh. Banyak pengendara motor di Palembang kini tidak lagi menggunakan masker, padahal paparan debu di titik-titik kepadatan penduduk sangat tinggi.

"Cuaca dan polusi itu pasti berpengaruh. Apalagi kalau kita naik motor tapi tidak pakai masker, bakteri dan virus lebih mudah masuk. Sekarang warga juga mulai jarang pakai masker karena merasa canggung, padahal itu perlindungan utama di jalanan," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Selain polusi, Yudhi menjelaskan, gaya hidup seperti merokok menjadi alasan mengapa usia produktif lebih rentan tumbang. Perokok disebut memiliki saluran pernapasan yang lebih rapuh, sehingga saat terpapar bakteri, penyakit akan lebih cepat berkembang.

"Pesan kami, bagi masyarakat yang merokok, usahakan berhenti. Fungsi paru-paru perokok itu lebih tidak sehat dibandingkan yang tidak merokok. Begitu ada kuman masuk, pertahanan tubuhnya lebih lemah," tegasnya.

Dinkes memastikan stok obat-obatan untuk penanganan ISPA di 42 Puskesmas se-Palembang dalam kondisi aman. Masyarakat pun diimbau tidak perlu panik dan tidak bergantung pada antibiotik jika gejala masih tergolong ringan.

"ISPA itu sangat bergantung pada ketahanan tubuh. Kalau asupan makanan bergizi, ada vitamin, dan istirahat yang cukup, biasanya dia akan hilang sendiri. Intinya, masyarakat harus ambil peranan dalam menjaga imunitas dan lingkungannya masing-masing agar tidak mudah tertular," tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads