Drama Panjang Kasus Ketua DPRD Bone Diduga Aniaya Staf Lambat Diproses

Tim detikSulsel - detikSulsel
Jumat, 04 Sep 2026 05:45 WIB
Foto: Ketua DPRD Bone Andi Tenri Walinonong. (Agung Pramono/detikSulsel)
Bone -

Kasus Ketua DPRD Kabupaten Bone Andi Tenri Walinonong yang diduga menganiaya stafnya, Yuli Nofita Sari (29) belum tuntas. Sejumlah drama mewarnai perkara tersebut yang belakangan turut membuat dugaan tindak pidana dan pelanggaran etik yang dilakukan Andi Tenri malah lambat diproses.

Perkara tersebut sudah sebulan bergulir sejak dugaan kekerasan itu terjadi di kantin DPRD Bone pada Rabu (22/7/2026). Andi Tenri dilaporkan ke polisi atas dugaan penganiayaan usai melumuri kue dan menyiram air ke wajah stafnya di depan umum.

Sementara itu, Andi Tenri belum mau berkomentar terkait dugaan penganiayaan terhadap stafnya. Andi Tenri ogah memberikan klarifikasi dan malah pergi saat ditemui awak media di kantor DPRD Bone, Kamis (30/7) lalu.

"Kita tunggu saja hasil pemeriksaan. Doakan lancar," kata Andi Tenri setelah pelaksanaan rapat konsultasi struktur pimpinan DPRD Bone.

Andi Tenri sempat kembali ditanya terkait kronologi penganiayaan menurut versinya. Dia lantas memilih bungkam dan meninggalkan awak media.

"No comment," singkat Andi Tenri. Politisi Gerindra tersebut langsung diarahkan masuk ke dalam mobil oleh stafnya, lalu meninggalkan kantor DPRD Bone.

Dirangkum detikSulsel hingga Jumat (4/9), berikut sejumlah drama di balik kasus ketua DPRD Bone diduga menganiaya stafnya yang turut membuat penyelidikan perkara belum tuntas:

Polemik Rekaman CCTV Belum Terungkap

Foto: Penampakan CCTV dekat TKP Ketua DPRD Bone Andi Tenri Walinonong diduga menganiaya staf Yuli Nofita Sari. (Agung Pramono/detikSulsel)

Kamera pengawas alias CCTV yang terpasang di area masjid lama DPRD Bone sempat dikabarkan rusak. CCTV itu mengarah ke parkiran depan kantin DPRD Bone yang menjadi lokasi Andi Tenri diduga menganiaya Yuli.

Sekretaris DPRD Bone Andi Muchlis mengklaim posisi CCTV di sekitar lokasi kejadian tidak pernah berubah. Namun dia berdalih kondisi kamera pengawas itu belum pernah dicek sebelumnya.

"Tidak pernah kucoba aktifkan. Mulai dari kejadian (dugaan penganiayaan) sampai hari ini," ujar Andi Muchlis kepada wartawan Selasa (28/7).

Dia pun tidak bisa memastikan CCTV itu dalam kondisi merekam atau tidak. Kamera pengawas juga belum dipastikan apakah menjangkau titik lokasi terjadinya dugaan kekerasan.

"CCTV itu arahnya tidak pernah berubah, terus mengarah ke parkiran. Saya tidak tahu apakah gambarnya (CCTV) dapat di kantin lokasi kejadian atau tidak," tuturnya.

Informasi kondisi CCTV yang simpang siur membuat Ketua Komisi I DPRD Bone Rismono Sarlim turun melakukan pengecekan pada Kamis (29/7). Rismono mengungkap, kamera pengawas masih baik dan cuma kabelnya yang rusak.

"Kabel HDMI-nya saja yang rusak, tapi penyimpanannya itu CCTV sampai 30 hari. Ada di hard disk-nya itu," ucap Rismono.

Kendati begitu, dia juga belum memastikan kondisi rekaman CCTV. Rismono berdalih pengecekan isi rekaman kamera pengawas merupakan ranah kepolisian.

"Tidak berani saya buka rekamannya, itu sudah menjadi ranah penyidik. Saya cuman pastikan apakah rusak atau tidak, hasilnya CCTV itu menyala dan tidak rusak," kata Rismono.

Sementara itu, polisi justru meminta agar rekaman CCTV di sekitar TKP segera diserahkan untuk kepentingan penyelidikan. Polres Bone sampai menyurati DPRD Bone terkait permintaan tersebut.

"Kami bersurat ke DPRD terkait permintaan CCTV. Kemudian bersurat ke RSUD permintaan hasil visum," ujar Kasat Reskrim Polres Bone saat itu, AKP Alvin Aji Kurniawan saat dihubungi, Sabtu (1/8).



Simak Video "Menjelajahi Laut Lepas dengan Naik Kapal Nelayan di Pelabuhan Paotere, Sulawesi Selatan"


(sar/sar)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork