Bayi berusia 9 bulan berinisial ASA menjalani perawatan di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Paramount Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), karena demam tinggi disertai muntah. Bayi itu diduga menjadi korban malapraktik lantaran tangannya bengkak hingga berlubang usai diinfus selama dirawat.
Ibu korban, Nurjannah mengatakan anaknya mengalami demam tinggi dan muntah pada Senin (19/1/2026). Dia kemudian membawa anaknya ke Klinik Nur Iksan di Jalan Katangka dan diberi rujukan ke RSIA Paramount.
"Setelah itu anak saya diberikan pengantar untuk ke Rumah Sakit Paramount untuk dirawat lebih lanjut karena panasnya itu sangat tinggi dan sudah diberikan obat dari klinik tapi demamnya tidak turun," ujar Nurjannah kepada detikSulsel, Jumat (20/2).
Dia langsung membawa anaknya ke RSIA Paramount usai diberi surat rujukan. Anaknya masuk ke Unit Gawat Darurat (UGD) hingga menjalani opname di ruang perawatan.
"Tiga hari di kamar perawatan terjadi pembengkakan di tangan kiri. Jadi dibuka jam sekitar siang jam 12 siang, ternyata demamnya muncul lagi jadi harus dilakukan pemasangan infus ulang di jam 02.00 malam. Di infus ulang di jam 2 malam itu sebanyak tiga kali tusukan percobaan," jelasnya.
Nurjannah yang menjaga anaknya menyaksikan perawat tidak berhasil memasang infus hingga 2 kali percobaan. Setelah dua kali gagal, perawat meninggalkan ruangan untuk memanggil petugas NICU.
"Jadi saya bertanya apa itu NICU? Perawat mengatakan khusus bagian bayi jadi saya bilang kenapa tidak dari awal panggil itu kalau kamu meragukan. Kalau seperti ini kan yang setengah mati anakku. Saya bilang begitu," katanya.
"Maksudnya, keluarga aku yang melihat kayak marah-marah juga. Singkat cerita, orang NICU yang berhasil memasukkan itu cairan sanmol dan antibiotik," tambah Nurjannah.
Infus yang akhirnya berhasil dipasang untuk pemberian obat sanmol dan antibiotik dengan tetesan cepat. Tidak berselang lama setelah cairan masuk, tangan bayinya kembali terlihat membengkak sehingga infus segera dilepas.
"Menurut dokter, diinfus di luar vena atau dari vena tembus ke dinding dalam kulit. Makanya cairan sanmol itu dan antibiotik yang menumpuk di bawah kulit. Tapi cuman sebentar terpasang, pas habis sanmol sama antibiotik langsung cepet juga dibuka," bebernya.
Dia menuturkan dokter kemudian memberikan salep pada tangan anaknya yang bengkak. Namun kondisi tangan anaknya tidak membaik, justru semakin memburuk.
"Di situ awal mulanya terjadi pembengkakan dan diberikan salep sama dokter tapi makin parah. Sampai terakhir mau pulang itu diganti salepnya lagi, masih tetap parah," katanya.
Nurjannah mengaku anaknya dirawat selama 7 hari di rumah sakit tersebut. Setelah demam dan muntah anaknya sembuh, muncul masalah baru karena tangan anaknya bengkak.
"Kami di situ kecewa karena 7 hari anak kami dirawat rumah sakit, hari ke 4 demam dan muntah sudah sembuh, datang lagi penyakit yang baru yang lebih fatal," katanya.
Nurjannah lalu meminta agar anaknya diobservasi satu hari tambahan karena khawatir dengan kondisinya. Permintaan itu dikabulkan pihak rumah sakit hingga anaknya dirawat satu hari lagi.
"Jadi kami diberikan ini observasi, nah begitu besoknya mau mi pulang sempat ji bapaknya ini marah di ruang perawat dan dia bercerita dengan dokter yang tusuk tangannya. Dan kami menyampaikan memang komplain bahwasannya besok lusa ada kenapa-napanya saya tuntut ko itu dengan rumah sakit," jelasnya.
Simak Video "Menyusuri Keindahan Air Terjun untuk Arung Jeram di Makassar"
(hsr/sar)