Bentuk ICM, Unhas Ajak Kampus-BRIN Kolaborasi Mineral Kritis

Gayatri Gani - detikSulsel
Senin, 12 Okt 2026 18:35 WIB
Simposium Nasional bertajuk Optimalisasi Peran Institute for Critical Mineral Universitas Hasanuddin (ICM-Unhas). Foto: (Gayatri Gani/detikSulsel)
Makassar -

Universitas Hasanuddin (Unhas) bakal memfasilitasi pembangunan Institute for Critical Minerals (ICM). Unhas pun mengajak industri pertambangan, kampus, hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk berkolaborasi dalam penelitian mineral kritis.

Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Global Research Institute Unhas, Adi Maulana dalam Simposium Nasional di Gedung Rektorat Unhas, Senin (12/10/2026). Kegiatan ini bertajuk Optimalisasi Peran Institute for Critical Mineral Universitas Hasanuddin (ICM-Unhas).

"Jadi Institut Critical Mineral ini nanti di bawah Global Research Institute, itu salah satu institut yang kemudian akan menjadi hub, di mana nanti akan mempertemukan antara para peneliti," ujar Adi Maulana dalam sambutannya.

Adi menjelaskan, Unhas menyediakan lahan untuk pembangunan ICM ini. Dia berharap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadlia bisa turut membantu dengan menggandeng perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang energi.

"Jadi Institut Critical Mineral ini nanti bukan punyanya Unhas, kebetulan aja lokasinya di Unhas. Kenapa lokasinya di Unhas? Pertama karena sumber-sumber critical mineral, terutama yang strategic ya, logam tanah jarang, kemudian juga di sini uranium dan sebagainya, itu kebetulan dekat dengan Unhas," terangnya.

"Jadi tentu Institut Critical Mineral ini bukan ingin bersaing dengan UI, bukan bersaing dengan ITB, UGM, justru kami ingin berkolaborasi," imbuhnya.

Adi menyebut pihaknya juga sudah membuat kesepakatan dengan BRIN untuk meneliti permasalahan strategis agar Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi 8%. Hal tersebut, kata dia, bisa diramu melalui ICM yang akan dibangun nanti.

Selain BRIN, Unhas juga sudah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) untuk mengawal eksplorasi logam tanah jarang. Sehingga, ini disebutnya bisa menjadi contoh green mining dan sustainable mining terjadi.

"Di Sulawesi Barat, Perminas sudah diinstruksikan oleh Bapak Presiden ya, untuk memulai eksplorasi logam tanah jarang, dan kebetulan Unhas juga dengan pemerintah provinsi Sulawesi Barat juga sudah mempunyai semacam MoU untuk bisa mengawal," ungkap Adi.

"Sehingga nantinya kita harapkan tambang logam tanah jarang yang ada di Sulawesi Barat itu memang betul-betul akan memberikan contoh baik bagaimana green mining itu terjadi, sustainable mining itu terjadi. Sehingga kita harapkan tidak akan ada reak-reak lagi," lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Adi turut kehadiran ICM ke depan dapat ikut mengawasi isu lingkungan yang terjadi. Sehingga, ke depan praktik pertambangan menjunjung tinggi prinsip-prinsip sustainable mining atau Environmental, Social, and Governance (ESG).

"Kita juga berharap justru dengan kehadiran Institut Critical Minerals ini di Unhas, kita bisa mengawal dari sisi kebijakan, dari sisi sosialnya, kemudian dari sisi lingkungannya, dan lain sebagainya. Kita berharap nanti akan menjadi contoh di mana setiap praktik-praktik pertambangan itu, nanti akan menjunjung tinggi prinsip-prinsip ESG atau yang disebut dengan sustainable mining," harapnya.

Untuk diketahui, Simposium Nasional tersebut menghadirkan sejumlah pembicara. Mereka adalah Anggota Dewan Energi Nasional Republik Indonesia, Surono; Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Kelembagaan, Kementerian ESDM, Tirta Nugraha Mursitama; Senior Advisor Badan Industri Mineral (BIM), Yusri Amsal; dan Peneliti Ahli Utama, Pusat Riset Teknologi Pertambangan BRIN, Widi Astuti.



Simak Video "Video: Dukung Pembangunan Berbasis Data, Lampung Luncurkan Satelit ke Luar Angkasa"

(asm/ata)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork