Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi.
Di awal September 2026, kami tiba di Brisbane sekitar pukul 10 pagi waktu setempat melalui penerbangan transit dari Singapura. Kami disambut udara sejuk yang menyegarkan pertanda musim semi baru saja dimulai. Dengan suhu yang sangat nyaman, sekitar 15-25 derajat celcius kami menghirup udara segar sambil berfoto di sekitar bandara sebelum memesan uber yang akan mengantar kami ke pusat kota. Dengan jarak sekitar 20 km dari bandara, taksi uber hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mengantar kami ke penginapan. Tidak terlihat ada kemacetan baik di dalam bandara maupun saat keluar menuju jalan tol. Di kiri kanan jalan tertata dengan baik. Bahkan beberapa ruas jalan terdapat bunga warna warni sebagai pembatas, menandai tibanya musim semi yang dinantikan dengan riang gembira.
Saya ke Brisbane sebagai pemeran pengganti. Rektor Unhas meminta saya untuk mewakilinya sebagai salah satu pembicara di forum yang sangat bergengsi di Brisbane; Indoz Conference 2026. Konferensi ini diadakan setiap tahun di Balai Kota Brisbane sebagai ajang pertemuan pebisnis, lembaga penelitian dan konsultan serta perguruan tinggi Indonesia dan Australia untuk membahas berbagai isu strategis yang dihadapi kedua negara. Untuk tema tahun 2026 terdapat dua sesi diskusi panel yaitu Food and Agribusiness dan sesi Energy, Mining & Critical Minerals. Penulis memilih sesi ke-2 karena memiliki sedikit pengalaman di bidang energi dan industri pertambangan. Di sesi ini saya dipanel dengan 3 pembicara lainnya yaitu Iwan Salim, Group Corporate Finance & Communication Director, BUMA, Seann Bohannon, Director of Priority Sectors from Trade and Investment Queensland dan Nick Harridge, National Leader for Mining & Metals, KPMG. Meski diskusi panel yang saya ikuti merupakan sesi terakhir, ternyata direspon oleh peserta dengan sangat antusias. Dubes Indonesia untuk Australia Dr. Siswo Pramono bahkan mengajukan pertanyaan khusus yang diajukan ke saya mengenai peran strategis perguruan tinggi di Indonesia dalam upaya mencapai kedaulatan mineral di masa mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hilirisasi Mineral dan Peran Perguruan Tinggi
Di sesi ini saya memaparkan potensi mineral di Indonesia, terutama mineral kritis seperti timah, nikel, bauksit dan kobalt serta memberi penekanan khusus terhadap potensi logam tanah jarang (LTJ) yang masih mencari bentuk tata kelolanya yang profesional. Bahkan untuk mengeksploitasi LTJ ini, pemerintah baru dua tahun lalu mendirikan dua institusi yang tugasnya saling melengkapi agar potensi LTJ dapat dimanfaatkan untuk kedaulatan mineral Indonesia. Institusi itu adalah Badan Industrialisasi Mineral (BIM) dan Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Universitas Hasanuddin yang berlokasi di Makassar Pulau Sulawesi berada di titik episentrum dimana berbagai mineral kritis itu berada dan sementara di eksploitasi oleh berbagai investor dalam dan luar negeri. Saya menyoroti tidak hanya potensi pemanfaatan mineral kritis ini tetapi juga daya rusak industri ini terhadap hutan, lingkungan, sosial, kultural dan nasib penduduk setempat dimana industri ini beroperasi. Meski industri pertambangan wajib mengadopsi prinsip-prinsip ESG (Environmental, Social and Governance), masih terdapat berbagai isu kritikal di lapangan yang belum sepenuhnya dapat ditangani dengan baik.
Di Sulawesi Selatan, Tengah dan Tenggara, eksploitasi mineral kritis ini bahkan telah berlangsung selama beberapa dekade. Bahkan di Mamuju Sulbar, ditemukan potensi LTJ yang menggemparkan dunia karena elemen LTJ nya bukan merupakan mineral ikutan (by product) melainkan sebagai mineral primer. Saya menyoroti peran perguruan tinggi, khususnya Universitas Hasanuddin yang masih sebatas pensuplai tenaga kerja dan belum banyak terlibat di bidang penelitian dan pengembangan mineral kritis ini. Di Unhas misalnya, kami menghasilkan ratusan alumni teknik Geologi, Pertambangan, Lingkungan, Geodesi dan Metalurgi yang bekerja di industri pertambangan. Mereka hanya sebatas pekerja dan tidak terlibat langsung di bidang penelitian, pengembangan dan keberlanjutan. Padahal sejatinya, perguruan tinggi harus proaktif melakukan penelitian agar menemukan kebaruan di bidang teknologi pertambangan, penanganan lingkungan, daur ulang limbah, kesehatan dan keselamatan kerja, konflik sosial, bahkan penemuan mineral baru dan teknik ekstraksi yang lebih efisien. Karena posisinya yang strategis di Pulau Sulawesi dengan potensi LTJ yang masih membutuhkan penelitian lanjutan yang lebih mendalam, maka berdasarkan hasil diskusi dengan Rektor dan Dr. Ansariadi (Dekan) FKM, diputuskan untuk mendirikan Critical Mineral Institute (CMI) yang akhirnya resmi di launching oleh Rektor Unhas di upacara diesnatalis yang ke-70 tanggal 10 September 2026.
Ekstraksi Logam Tanah jarang
Saat presentasi di Brisbane, saya memaparkan hasil penelitian dari BIM mengenai potensi mineral kritis di Indonesia yang masih sulit di ekstraksi. Indonesia memiliki LTJ yang melekat di timah, bauksit dan nikel tetapi merupakan mineral ikutan yang volumenya sangat kecil yaitu dalam hitungan PPM (parts per million). Di nikel laterite misalnya, LTJ yang melekat meliputi skandium, praseodimium, neodimium dan disprosium. Sementara di lapisan nikel saprolite dapat ditemukan unsur lainnya seperti serium, gadolinium, erbium dan europium. Sementara di timah, mineral ikutannya adalah monasit, xenotim dan zirkon. Elemen LTJ di bauksit terkandung di red mud, yaitu residu yang dihasilkan dari proses pengolahan bauksit menjadi alumina. Elemen tanah jarangnya adalah scandium. Meski keseluruhan LTJ ini sangat diutuhkan di pasar global, terutama untuk industri elektronik, energi terbarukan, kendaraan listrik dan peralatan militer, Indonesia mengalami beberapa kendala dalam mengekstraksi mineral strategis ini. Kendala utamanya adalah keterbatasan teknologi dan alat uji, risiko lingkungan dan limbah radioaktif, biaya investasi yang sangat mahal, keterbatasan sumber daya manusia dan regulasi dan tata kelola.
Menyadari kendala yang menghadang, peran strategis perguruan tinggi terutama yang berlokasi di episentrum LTJ seperti Unhas harus dimaksimalkan. Langkah proaktif mendirikan lembaga yang secara konsisten fokus melakukan penelitian mengenai potensi, teknik ekstraksi, penanganan limbah, dan efisiensi industri harus diapresiasi. Di sesi inilah yang kemudian mempertemukan kami dengan bagian kerjasama internasional Universitas Queensland (UQ) tentang eksistensi Sustainable Mineral Institute (SMI) di UQ. Kami kemudian dipertemukan dengan Direkturnya dan berdiskusi selama lebih dari dua jam karena mereka sangat antusias membahas tema mineral kritis yang merupakan mineral masa depan peradaban manusia. Saya ditemani Dr. Ansariadi (Dekan FKM) dalam diskusi yang sangat bergairah dengan Professor Ricky Valenta dan Ms Julian dari SMI. Saya memaparkan posisi strategis Unhas di Pulau Sulawesi dan urgensi keterlibatan pendidikan tinggi dalam riset berkelanjutan mengenai mineral kritis yang belum sepenuhnya dipahami dengan baik dan komprehensif. Kami mengusulkan agar Unhas dan UQ membuat kerjasama dalam bentuk joint-lab yang dibangun di Unhas agar memudahkan berbagai sampel mineral kritis diuji dan dipelajari. Kami juga menyampaikan bahwa Unhas telah menandatangani MOU dengan BIM dan Perminas sebagai lembaga yang memiliki otoritas dari pemerintah untuk melakukan penelitian, eksplorasi dan eksploitasi mineral kritis khususnya LTJ.
Professor Ricky Valenta yang telah beberapa tahun menjadi Direktur SMI-UQ menyambut positif tawaran kami. Tim SMI rupanya telah lama melakukan penelitian dan percobaan ekstraksi LTJ dalam bentuk pilot-plant dan telah bekerja sama dengan beberapa negara di amerika Latin termasuk Chile. Professor Valenta bahkan menyatakan kecemburuannya karena Indonesia secara tegas melarang ekspor bahan mentah mineral ke luar negeri. Australia sampai sekarang masih merupakan salah satu eksportir terbesar pasir besi ke Tiongkok. Menurut Professor Valenta, masa depan peradaban manusia yang berteknologi tinggi akan dikendalikan oleh negara yang mampu mengontrol pasokan LTJ. Olehnya itu, pendirian BIM dan Perminas disertai dengan pelarangan ekspor mineral mentah adalah strategi cerdas Indonesia menuju kedaulatan mineral di masa depan. Kehadiran perguruan tinggi yang fokus pada penelitian dan pengembangan mineral kritis dengan berbagai isu strategis yang harus diatasi adalah sebuah keharusan.
Melalui pendirian konsorsium riset, joint-lab dan pilot-plant untuk mineral kritis antara Unhas-UQ-BIM dan Perminas akan menandai era baru peran perguruan tinggi dan dunia industri dalam mengantar Indonesia menuju kedaulatan mineral di masa depan.
Oleh:
Sawedi Muhammad
(Mantan Praktisi Tambang, Direktur Komunikasi Unhas)
