Berapa Hari Puasa Nisfu Syaban? Ini Jadwal, Niat hingga Hukumnya

Berapa Hari Puasa Nisfu Syaban? Ini Jadwal, Niat hingga Hukumnya

St. Fatimah - detikSulsel
Kamis, 15 Feb 2024 05:30 WIB
Close-up of religious Muslim woman and her family praying before the meal at dining table on Ramadan.
Ilustrasi puasa Nisfu Syaban (Foto: Getty Images/Drazen Zigic)
Makassar -

Puasa Nisfu Syaban merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Syaban. Lantas, berapa hari puasa Nisfu Syaban?

Nisfu Syaban adalah hari pertengahan atau hari ke-15 bulan Syaban yang di dalamnya terdapat banyak keutamaan. Allah akan mengampuni dosa-dosa hambanya yang meminta ampunan.

Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, Rasulullah SAW bersabda, "Apabila tiba malam Nisfu Sya'ban, maka malaikat berseru menyampaikan dari Allah: adakah orang yang memohon ampun maka aku ampuni, adakah orang yang meminta sesuatu maka aku berikan permintaannya" (HR al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan salih di hari Nisfu Syaban, termasuk berpuasa. Lantas, berapa hari puasa Nisfu Syaban?

Berikut penjelasannya.

ADVERTISEMENT

Berapa Hari Puasa Nisfu Syaban?

Dinukil dari buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun yang disusun oleh Ustaz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, umat muslim dianjurkan untuk melaksanakan puasa Nisfu Syaban. Puasa di pertengahan bulan Syaban hukumnya sunnah sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut:

"Jika tiba waktu malam nisfu Syaban, maka beribadahlah di malamnya dan puasalah di siangnya, karena sesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan rahmat-Nya mulai tenggelamnya matahari (Maghrib) di langit dunia dan berfirman, 'Siapa yang meminta ampun akan Aku ampuni. Siapa yang minta rezeki akan Aku beri rezeki. Siapa yang terkena musibah akan Aku sembuhkan. Siapa yang minta ini dan itu seterusnya, sampai waktu terbitnya fajar (matahari)." (HR. Ibnu Majah).

Dengan demikian, puasa Nisfu Syaban hanya dilakukan satu hari, yaitu pada tanggal 15 Syaban.

Bacaan Niat Puasa Nisfu Syaban

Umat muslim dianjurkan untuk melafalkan niat puasa Nisfu Syaban pada malam harinya. Adapun niatnya sama halnya dengan niat puasa sunnah lainnya di bulan Syaban.

Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, berikut niat puasa Nisfu Syaban:

Niat Puasa Nisfu Syaban Malam Hari

Ω†ΩŽΩˆΩŽΩŠΩ’Ψͺُ Ψ΅ΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŽ غَدٍ ΨΉΩŽΩ†Ω’ أَدَاِؑ Ψ³ΩΩ†Ω‘ΩŽΨ©Ω Ψ΄ΩŽΨΉΩ’Ψ¨ΩŽΨ§Ω†ΩŽ لِلهِ ΨͺΩŽΨΉΩŽΨ§Ω„ΩŽΩ‰

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adΓ’'i sunnati Sya'bana lillΓ’hi ta'Γ’lΓ’.

Artinya: "Aku berniat puasa sunah Sya'ban esok hari karena Allah SWT."

Bagi yang tidak sempat melafalkan niat di malam harinya tidak perlu khawatir. Pasalnya, seorang muslim dapat melafalkan niat puasa Nisfu Syaban pada siang hari selama belum makan, minum, ataupun melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.

Niat Puasa Syaban Siang Hari

Ω†ΩŽΩˆΩŽΩŠΩ’Ψͺُ Ψ΅ΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŽ Ω‡ΩŽΨ°ΩŽΨ§ Ψ§Ω„ΩŠΩŽΩˆΩ’Ω…Ω ΨΉΩŽΩ†Ω’ أَدَاِؑ Ψ³ΩΩ†Ω‘ΩŽΨ©Ω Ψ΄ΩŽΨΉΩ’Ψ¨ΩŽΨ§Ω†ΩŽ لِلهِ ΨͺΩŽΨΉΩŽΨ§Ω„ΩŽΩ‰

Arab Latin: Nawaitu shauma hΓ’dzal yaumi 'an adΓ’'i sunnati Sya'bana lillΓ’hi ta'Γ’lΓ’.

Artinya: "Aku berniat puasa sunah Sya'ban hari ini karena Allah SWT."

Hukum Puasa Nisfu Syaban

Masih dalam buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun, disebutkan bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum melaksanakan puasa Nisfu Syaban adalah sunnah. Pendapat tersebut berlandaskan pada hadits Ibnu Majah berikut:

"Jika tiba waktu malam nisfu Syaban, maka beribadahlah di malamnya dan puasalah di siangnya, karena sesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan rahmat-Nya mulai tenggelamnya matahari (Maghrib) di langit dunia dan berfirman, 'Siapa yang meminta ampun akan Aku ampuni. Siapa yang minta rezeki akan Aku beri rezeki. Siapa yang terkena musibah akan Aku sembuhkan. Siapa yang minta ini dan itu seterusnya, sampai waktu terbitnya fajar (matahari)." (HR.Ibnu Majah).

Tak hanya itu, anjuran berpuasa Nisfu Syaban juga dijelaskan dalam sejumlah hadits lainnya seperti dilansir dari situs Nahdlatul Ulama, di antaranya:

Ψ³ΩΨ¦ΩΩ„ΩŽ Ψ§Ω„Ω†Ω‘ΩŽΨ¨ΩΩŠΩ‘Ω Ψ΅ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ‰ Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ…ΩŽ Ψ£ΩŽΩŠΩ‘Ω Ψ§Ω„Ψ΅Ω‘ΩŽΩˆΩ’Ω…Ω Ψ£ΩŽΩΩ’ΨΆΩŽΩ„Ω Ψ¨ΩŽΨΉΩ’Ψ―ΩŽ Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†ΩŽ ΩΩŽΩ‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ψ΄ΩŽΨΉΩ’Ψ¨ΩŽΨ§Ω†Ω لِΨͺΩŽΨΉΩ’ΨΈΩΩŠΩ…Ω Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ω‚ΩΩŠΩ„ΩŽ ΩΩŽΨ£ΩŽΩŠΩ‘Ω Ψ§Ω„Ψ΅Ω‘ΩŽΨ―ΩŽΩ‚ΩŽΨ©Ω Ψ£ΩŽΩΩ’ΨΆΩŽΩ„Ω Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ψ΅ΩŽΨ―ΩŽΩ‚ΩŽΨ©ΩŒ فِي Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ أَبُو ΨΉΩΩŠΨ³ΩŽΩ‰ Ω‡ΩŽΨ°ΩŽΨ§ حَدِيثٌ غَرِيبٌ ΩˆΩŽΨ΅ΩŽΨ―ΩŽΩ‚ΩŽΨ©Ω بْنُ Ω…ΩΩˆΨ³ΩŽΩ‰ Ω„ΩŽΩŠΩ’Ψ³ΩŽ ΨΉΩΩ†Ω’Ψ―ΩŽΩ‡ΩΩ…Ω’ Ψ¨ΩΨ°ΩŽΨ§ΩƒΩŽ Ψ§Ω„Ω’Ω‚ΩŽΩˆΩΩŠΩ‘Ω

"Suatu ketika Rasulullah ditanya mengenai puasa yang lebih utama setelah ramadhan, Rasul pun menjawab 'sya'ban' dan berkata "karena untuk mengagungkan ramadhan" kemudian Rasul juga ditanya mengenai sedekah yang paling utama, beliau pun menjawab "sedekah di bulan ramadhan"

ΨΉΩŽΩ†Ω’ عَائِشَةَ رَآِيَ Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω ΨΉΩŽΩ†Ω’Ω‡ΩŽΨ§ Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽΨͺΩ’ ΩƒΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ψ±ΩŽΨ³ΩΩˆΩ„Ω Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω Ψ΅ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ‰ Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ…ΩŽ ΩŠΩŽΨ΅ΩΩˆΩ…Ω حَΨͺΩ‘ΩŽΩ‰ Ω†ΩŽΩ‚ΩΩˆΩ„ΩŽ Ω„ΩŽΨ§ ΩŠΩΩΩ’Ψ·ΩΨ±Ω ΩˆΩŽΩŠΩΩΩ’Ψ·ΩΨ±Ω حَΨͺΩ‘ΩŽΩ‰ Ω†ΩŽΩ‚ΩΩˆΩ„ΩŽ Ω„ΩŽΨ§ ΩŠΩŽΨ΅ΩΩˆΩ…Ω ΩΩŽΩ…ΩŽΨ§ Ψ±ΩŽΨ£ΩŽΩŠΩ’Ψͺُ Ψ±ΩŽΨ³ΩΩˆΩ„ΩŽ Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω Ψ΅ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ‰ Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ…ΩŽ Ψ§Ψ³Ω’ΨͺΩŽΩƒΩ’Ω…ΩŽΩ„ΩŽ Ψ΅ΩΩŠΩŽΨ§Ω…ΩŽ Ψ΄ΩŽΩ‡Ω’Ψ±Ω Ψ₯ΩΩ„Ω‘ΩŽΨ§ Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†ΩŽ ΩˆΩŽΩ…ΩŽΨ§ Ψ±ΩŽΨ£ΩŽΩŠΩ’Ψͺُهُ Ψ£ΩŽΩƒΩ’Ψ«ΩŽΨ±ΩŽ Ψ΅ΩΩŠΩŽΨ§Ω…Ω‹Ψ§ مِنْهُ فِي Ψ΄ΩŽΨΉΩ’Ψ¨ΩŽΨ§Ω†ΩŽ

Dari Siti Aisyah ra berkata: "Rasulullah berpuasa hingga kami menyangka Ia berbuka, dan berbuka hingga kami menyangka Ia tidak berpuasa dan aku tidak pernah melihat Rasul menyempurnakan puasanya satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Rasul memperbanyak puasanya dari pada berpuasa di bulan sya'ban" (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Ω‚Ψ§Ω„: يا Ψ±Ψ³ΩˆΩ„ Ψ§Ω„Ω„Ω‡ Ω„Ω… Ψ£Ψ±Ωƒ ΨͺΨ΅ΩˆΩ… Ω…Ω† Ψ΄Ω‡Ψ± Ω…Ω† Ψ§Ω„Ψ΄Ω‡ΩˆΨ± Ω…Ψ§ ΨͺΨ΅ΩˆΩ… Ω…Ω† Ψ΄ΨΉΨ¨Ψ§Ω†! Ω‚Ψ§Ω„: Ψ°Ω„Ωƒ Ψ΄Ω‡Ψ± ΩŠΨΊΩΩ„ Ψ§Ω„Ω†Ψ§Ψ³ ΨΉΩ†Ω‡ Ψ¨ΩŠΩ† Ψ±Ψ¬Ψ¨ ΩˆΨ±Ω…ΨΆΨ§Ω† ΩˆΩ‡Ωˆ Ψ΄Ω‡Ψ± Ψͺرفع ΩΩŠΩ‡ Ψ§Ω„Ψ£ΨΉΩ…Ψ§Ω„ Ψ₯Ω„Ω‰ Ψ±Ψ¨ Ψ§Ω„ΨΉΨ§Ω„Ω…ΩŠΩ†ΨŒ وأحب Ψ£Ω† يرفع ΨΉΩ…Ω„ΩŠ ΩˆΨ£Ω†Ψ§ Ψ΅Ψ§Ψ¦Ω…. (Ψ±ΩˆΨ§Ω‡ Ψ§Ω„Ω†Ψ³Ψ§Ψ¦ΩŠ)

"Wahai Rasulullah aku tidak pernah melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain seperti di bulan sya'ban" mendengar perkataan Usamah lalu Rasulullah pun menjawab "Demikian (bulan sya'ban) adalah bulan yang terletak antara Rajab dan Ramadhan, manusia biasanya lalai akan Sya'ban, dia (Sya'ban) merupakan bulan di mana amal-amal diangkat kepada Tuhan alam semesta, aku menyukai diangkatnya amalku sedangkan aku dalam keadaan berpuasa".

ΩƒΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ψ±ΩŽΨ³ΩΩˆΩ„ΩŽ اللهِ Ψ΅ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ‰ اللهُ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ…ΩŽ ΩŠΩŽΨ΅ΩΩˆΩ…Ω ΩˆΩŽΩ„ΩŽΨ§ ΩŠΩŽΩΩ’Ψ·ΩΨ±Ω حَΨͺΩ‘ΩŽΩ‰ Ω†ΩŽΩ‚ΩΩˆΩ„ΩŽ: Ω…ΩŽΨ§ فِي Ω†ΩŽΩΩ’Ψ³Ω Ψ±ΩŽΨ³ΩΩˆΩ„Ω اللهِ Ψ΅ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ‰ اللهُ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ…ΩŽ Ψ£Ω†Ω’ ΩŠΩŽΩΩ’Ψ·ΩΨ±ΩŽ Ψ§Ω„Ω’ΨΉΩŽΨ§Ω…ΩŽΨŒ Ψ«ΩΩ…Ω‘ΩŽ ΩŠΩŽΩΩ’Ψ·ΩΨ±Ω ΩΩŽΩ„ΩŽΨ§ ΩŠΩŽΨ΅ΩΩˆΩ…Ω حَΨͺΩ‘ΩŽΩ‰ Ω†ΩŽΩ‚ΩΩˆΩ„ΩŽ: Ω…ΩŽΨ§ فِي Ω†ΩŽΩΩ’Ψ³ΩΩ‡Ω Ψ£Ω†Ω’ ΩŠΩŽΨ΅ΩΩˆΩ…ΩŽ Ψ§Ω„Ω’ΨΉΩŽΨ§Ω…ΩŽ. ΩˆΩŽΩƒΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ψ£ΩŽΨ­ΩŽΨ¨Ω‘Ω Ψ§Ω„Ψ΅Ω‘ΩŽΩˆΩ’Ω…Ω Ψ₯Ω„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω فِي Ψ΄ΩŽΨΉΩ’Ψ¨ΩŽΨ§Ω†ΩŽ

"Rasulullah Saw berpuasa, kemudian tidak berbuka sehingga kami katakan: Tidaklah diri Rasulullah Saw akan berbuka (tidak berpuasa selama) setahun ini, lalu beliau berbuka dan tidak berpuasa sehingga kami berkata: "Tidaklah dirinya akan berpuasa selama setahun ini. Dan puasa yang paling menyenangkan beliau adalah puasa di bulan Sya'ban." (HR. Ahmad dan ath-Thabarani)

Itulah penjelasan tentang puasa Nisfu Syaban yang penting untuk diketahui. Semoga bermanfaat, ya!



(edr/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads