Tangga merupakan struktur rumah yang pasti ada pada hunian yang memiliki lantai dengan ketinggian berbeda. Umumnya tangga dibuat simetris baik struktur tangganya maupun lebar pijakannya.
Namun, tangga di rumah-rumah Belanda ini cukup unik karena dibuat sangat curam dan menyulitkan penggunanya, terutama yang baru pertama kali mencoba.
Dilansir Apartment Therapy, tangga yang sangat curam banyak ditemukan di sana. Hampir setiap bangunan yang sudah cukup tua memiliki tangga seperti itu. Menurut manajer proyek di Architectuur Centrum Amsterdam Mirjam IJsseling lebar pijakan sama dengan lebar anak tangga yang menyebabkan area pijakan tidak begitu luas. Luasnya sekitar 15 cm saja. Sementara tangga modern saat ini dua kali lebih lebar dan luas dari ukuran tersebut.
Selain kecil, bentuknya pun tidak lurus atau bercabang. Tangga-tangga bentuknya berbeda-beda tetapi pasti ada liukan di ujung bawah tangga. Lalu, ketinggiannya terasa curam terasa sempit karena dijepit oleh dua dinding di kanan dan kiri.
Ukuran tangga di rumah Belanda yang tak biasa ini ternyata dipengaruhi ukuran rumahnya. Pada abad ke-17 , ekonomi Amsterdam berkembang pesat, dan orang-orang kaya memutuskan untuk pindah ke kota itu. Namun, besarnya perpindahan yang terjadi tidak sebanding dengan luas lahan yang tersedia di sana. Padahal tempat tinggal merupakan kebutuhan penting di pusat niaga.
Lahan yang sempit itu juga membuat pemerintah setempat membuat petak-petak tanah yang sempit. Solusinya bukan rumah bak istana yang dibangun, melainkan rumah vertikal yang ramping.
Sayangnya, bentuk rumah vertikal ini tidak diimbangi dengan pengetahuan cara membuat tangga yang ideal. Menurut IJssleing banyak rumah asli yang dibangun di Amsterdam selama Abad Pertengahan tidak memiliki tangga. Lantas, bagaimana penghuninya naik ke atas?
Penghuni rumah pada abad tersebut memang jarang naik ke atas, terutama pada musim dingin. Alasannya area atas tidak memiliki perapian sehingga tidak nyaman untuk digunakan.
Di luar musim dingin, penghuni rumah akan menggunakan tangga yang bisa dipasang dan disimpan untuk naik ke lantai atas.
Kemudian, ada perubahan terjadi di Belanda imbas kebakaran besar yang terjadi di kota tersebut. Rumah-rumah di sana pun dibangun kembali. Pada saat itu, konstruksi sudah mulai maju. Salah satunya sudah ditemukan cerobong asap batu untuk mendinginkan ruangan secara vertikal dan batu bara. Dengan ditemukan dua hal ini tidak ada alasan lagi lantai atas tidak digunakan pada musim dingin.
Otomatis tangga permanen dibutuhkan di rumah karena lantai atas akan sering digunakan, bukan lagi seperti gudang. Namun, keberadaan tangga permanen berarti memakan ruang yang ada di rumah. Pekerja konstruksi pun harus memutar otak agar keberadaan tangga ini tidak memakan banyak ruang. Oleh karena itu, tercipta tangga yang curam dan sempit yang kurang ideal.
IJsslesing mengatakan bahwa tangga di Belanda kemudian menjadi simbol status. Di rumah-rumah kanal yang lebih besar milik kaum elit kaya, tangga yang dibangun di sana ukurannya lebar dan lebih landai karena terdapat ruang di rumah tersebut.
Meskipun ukuran dan bentuk tangga tersebut kurang ideal, orang Belanda bisa beradaptasi karena pindah rumah yang lebih luas lebih mustahil mengingat memang Belanda memiliki keterbatasan lahan.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(aqi/aqi)