Pemandangan rumah di Amsterdam, Belanda jauh berbeda dengan 'rumah Belanda' yang ada di Indonesia. Rumah di tanah aslinya tampak ramping dan terdiri dari beberapa lantai, sementara di Indonesia hanya terdiri satu lantai dengan halaman luas.
Perbedaan bentuk rumah ini ternyata dipengaruhi oleh luas lahan yang tersedia. Pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, Tanah Air belum sepadat saat ini sehingga rumah-rumah tahun 90-an memiliki tanah yang luas. Kondisi tanah di Amsterdam berbanding terbalik, di sana lahannya sangat terbatas.
Dilansir Expatica, Amsterdam berkembang dengan tata kota yang sudah dipersiapkan dengan matang. Lahan kota yang luasnya hanya sepanjang tiga kanal utama, yakni Herengracht, Keizersgracht, dan Prinsengracht pada abad ke-17, ukurannya cukup kecil. Setiap lahan hanya memiliki lebar 5-7 meter. Kemudian, lahan tersebut diatur agar setiap rumah mendapatkan akses langsung ke kanal. Inilah alasan kenapa rumah di Amsterdam menghadap kanal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada masa itu, kapal dan tongkang yang berlayar melalui sungai dan kanal merupakan sarana transportasi terpenting bagi orang dan barang pada akhir abad ke-16.
Selain itu, pada masa itu pemerintah setempat menghitung besar pajak ditentukan berdasarkan ukuran fasad bangunan di sepanjang tepi air. Hal ini yang menyebabkan sebagian besar rumah di Amsterdam fasadnya atau muka rumah tampak kecil. Strukturnya kemudian dibuat ramping dan tinggi. Bahkan ada yang fasadnya hanya 1 meter.
Rumah-rumah dengan lebar ekstrem ini banyak ditemukan di Oude Hoogstraat, dengan lebar mulai dari 1-2,02 meter dan panjang ke belakang 5 meter. Di dalamnya hanya memiliki ruang untuk satu kamar per lantai.
Di luar itu, ukuran rata-rata rumah di Amsterdam masih tetap normal, yakni luas ke belakang dan ke atas. Banyak orang terutama turis mengira ukuran rumah sesempit pasti sulit ketika memindahkan sofa besar, kasur, atau lemari.
Hal yang mereka tidak tahu adalah orang Belanda cukup cerdik. Orang menyiasati keterbatasan ruangan tersebut dengan memasang semacam balok pengangkat barat yang cara kerjanya seperti kerekan ember air di sumur tradisional. Kerekan ini dipasang di atas rumah, tepatnya di bagian luar. Jadi barang-barang akan diangkat dari luar dan dimasukkan lewat jendela.
Penampakan rumah di Amsterdam ternyata tidak semua ramping seperti di foto-foto. Banyak pedagang kaya mampu membeli dua bidang tanah untuk membangun 'istana' besar di tepi kanal.
Untuk menemukan rumah-rumah 'sultan' ini, coba main di sepanjang 'Tikungan Emas' (Gouden Bocht) Herengracht. Di sana terkenal sebagai wilayah tempat tinggal orang-orang terkaya di Belanda. Rumah-rumah di sana jauh lebih besar. Orang-orang yang tinggal di sana adalah para bankir dan hakim.
Para pemiliknya jelas tidak perlu menyimpan barang dagangan mereka di loteng untuk mendapatkan uang tambahan. Inilah sebabnya mengapa tidak ada balok di atas istana-istana mereka. Ketika pindah rumah, mereka menggunakan tangga khusus.
(aqi/das)










































