×
Ad

Awal Mula Hercules dan Maruarar Sirait Bersitegang Terjadi di Tanah Abang

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Kamis, 22 Okt 2026 12:46 WIB
Hercules (baju gelap kiri) dan Menteri PKP Maruarar Sirait (Ara) (kanan). Foto: Tangkapan layar Instagram @maruararsirait
Jakarta -

Sosok yang pernah dijuluki penguasa Tanah Abang pagi itu datang ke kantor Kementerian ATR/BPN. Hercules begitu panggilannya. Berniat bertamu, tetapi di depan awak media ia berkoar dengan penuh emosi menyebut satu nama yang keberadaannya tidak ada di sana, Maruarar Sirait (Ara) yang merupakan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).

Tidak cukup di depan awak media, Hercules juga mengunggah video luapan emosinya ke akun Instagram Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, @gribjaya_id dengan judul besar 'Pernyataan Keras Haji Hercules kepada Maruarar Sirait'. Di bawah judul besar tersebut, ia tambahkan pesan: 'Ara Sirait, kamu harus tahu diri! Jangan gunakan jabatan menteri untuk merugikan rakyat!'.

Judul tersebut tidak mencakup isi protes yang hendak disampaikan Hercules. Inti permasalahannya adalah sebuah lahan yang ia klaim telah dibebaskan dengan dana miliaran rupiah. Lahan tersebut dia duga kini bermasalah karena Maruarar Sirait.

"Kamu tau nggak Ara Sirait, tanah itu bukan kosong begitu. Tanah itu aku bebasin pake uang. Aku pake uang. Aku kosongkan pake uang. Uang puluh-puluhan miliar. Asal kamu tau. Kamu jangan nanti kasih pemerintah jadi menteri, terus kamu mau pemerintah merugikan rakyat. Merugikan saya lagi Ara," kata Hercules ketika menyambangi kantor Kementerian ATR/BPN beberapa waktu lalu, dikutip dari Instagram GRIB Jaya, Kamis (22/10/2026).

Dalam video tersebut Hercules tidak menyebutkan sedikit pun lokasi lahan yang dimaksud. Protes panjangnya hari itu berisi luapan emosinya kepada RI 26 tersebut.

Jika ditarik kembali ke belakang, Hercules dan Maraurar Sirait pernah bertemu langsung di Tanah Abang. Kala itu, Maruarar Sirait bersama jajarannya dan Dirut PT KAI Bobby Rasyidin datang ke sebuah lahan seluas 4,3 hektare yang rencananya akan dipakai untuk pembangunan rumah susun (rusun) untuk warga bantaran rel. Namun, dalam perjalanan ke sana, menteri yang kerap disapa Ara itu mendapat laporan bahwa tanah tersebut diduduki organisasi masyarakat (ormas) yang ternyata itu kelompok Hercules, GRIB Jaya.

"Saya mau tanya pak Dirut, ini kendalanya apa? Kalau ini punya negara, punya kekuatan hukum tetap, problemnya apa lagi?" tanya Ara, Minggu (5/4/2026).

"Adalah ormas ini menempati pada saat ini secara ilegal pak," jawab Bobby.

"Ini sebenarnya mencari keberanian kan? Mencari ketegasan kan? Ya sudah, kasih sama yang berani aja. Masa negara kalah sama yang beginian. Menurut saya harus ada revitalisasi aset-aset negara. Harus divisi ya secara hukumnya dan secara lahan dikuasai oleh negara," timpal Ara.

Di lokasi, sudah menunggu sosok Hercules. Ia datang untuk menegaskan status, bahwa lahan di Tanah Abang tersebut milik ahli waris dari alm. Iljas Gelar Radjo yaitu Sulaeman Efendi. Ia menekankan PT KAI hanya memegang Hak Pengelolaan (HPL) bukan hak milik. Dia menyatakan jika benar lahan tersebut milik negara, ia tidak segan memberikannya.

Pertemuan itu selesai dengan hasil kedua belah pihak tetap pada pendiriannya. Hercules tetap menyebut lahan tersebut milik ahli waris dan pemerintah tegas menyebut itu aset negara.

Setelah kunjungan tersebut, lahan di Tanah Abang tersebut masih menjadi sorotan. Kementerian PKP mencoba mengklarifikasi status kepemilikannya. Hak Pengelolaan (HPL) Nomor 5 dan 6 yang menjadi dasar PT KAI untuk mengklaim tanah itu milik negara terbit pada 2008. HPL tersebut terbit berdasarkan proses administrasi di Kementerian Perhubungan dari verponding nomor 14399 yang menurut pihak GRIB Jaya lokasinya bukan di Tanah Abang. Pihak BUMN menegaskan hal yang sama bahwa lahan tersebut milik PT KAI.

Kementerian ATR/BPN juga ikut buka suara, Direktur Jenderal Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan (Dirjen PSKP) Iljas Tedjo Prijono menyampaikan tanah seluas 4,3 hektare di Tanah Abang merupakan aset negara.




(aqi/das)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork