Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengungkapkan ke depannya untuk mendorong Program 3 Juta Rumah dan sektor perumahan, Indonesia akan banyak belajar dari negara lain. Saat ini ada dua negara yang dituju, yakni China dan India.
"India dan RRC (Republik Rakyat China) mungkin itu kita dua itu ya. Jadi suatu hal yang perlu kita dalami ya, tentu dengan saling menghargai, saling percaya, dan kepentingan nasional kita diutamakan," kata Ara di Istana Kepresidenan pada Jumat (31/7/2026).
Langkah ini diharapkan dapat memberi banyak manfaat bagi sektor perumahan dan pelaku usaha properti lokal. Ara tidak ingin Indonesia terus-terusan menjadi pasar bagi negara lain.
"Harus manfaat ya. Contoh, jangan menjadikan Indonesia sebagai market saja. Harus ada transfer teknologi ya. Kita lihat teknologi yang aman, yang cepat, dan juga murah, terjangkau ya. Dan juga bagaimana UMKM kita harus menjadi prioritas ya. Genteng kita, ya bata kita, semen kita, besi kita, kan gitu ya," jelasnya.
Mengenai usulan Presiden Prabowo soal ingin mengikuti program perumahan di India yang sukses membangun sekitar 3 juta rumah per tahun, Ara mengakui itu adalah ide yang bagus.
Namun, untuk saat ini Indonesia baru menjajaki pendekatan dengan China. Dalam pertemuan singkat selama sekitar 3 jam di Kantor Kementerian PKP, Ara membahas soal penyediaan lahan perumahan, pembiayaan, backlog, hingga pemanfaatan teknologi.
"Kita baru dua hari lalu kan ketemu dengan juga Menteri Perumahan dari RRC. Kita selalu belajar dan mengobservasi ya, diskusi tentang bagaimana pengelolaannya ya. Dan kita juga cerita bagaimana kita rumah subsidi yang kemarin sekali peluncuran bisa 62.000. Itu mungkin termasuk paling besar," tutur Ara.
Berdasarkan catatan detikcom, dalam pertemuan dengan China tersebut salah satu poin yang disampaikan Ara adalah soal kepemilikan lahan di China dipegang negara. Kemudian, lahan tersebut pakai untuk membangun perumahan.
"Kita juga bertukar pikiran soal bagaimana soal lahan bagaimana soal pembiayaan soal teknologi terakhir. Kita sepakati akan ada tindak lanjut kita akan fokus di perumahan masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah," tuturnya.
Ara juga menyampaikan bahwa mereka sepakat untuk bekerja sama terkait penyediaan bahan bangunan antarnegara. Bahan tersebut antara lain pasir, cat, dan semen.
Sementara itu, Ni Hong mengatakan dirinya terbuka untuk bekerja sama di bidang perumahan dengan Indonesia. Sebab, Indonesia merupakan mitra perdagangan pertama China.
Ia berkomitmen akan mendorong perusahaan-perusahaan China untuk bekerja sama dengan Indonesia dengan prinsip saling menguntungkan. Dengan begitu, hubungan antarnegara bisa semakin erat.
Di sisi lain, mengenai usulan belajar dari India. Kabar ini baru tercetus dari Presiden Prabowo dalam acara Akad Massal 62.000 Rumah Subsidi di Batang, Jawa Tengah.
"Saya punya pengalaman, bangsa India mereka mampu membuat 40 juta rumah dalam 12 tahun. Jadi 3 juta rumah per tahun. Kita lagi pelajari bagaimana caranya. Nah ini bisa kita coba," ujar Prabowo pada Kamis (30/7/2026).
Info ini ia dapatkan dari tim-tim yang ia kirim ke beberapa negara. Tim tersebut ditugaskan untuk mempelajari program-program unggulan di negara tersebut dengan harapan Indonesia dapat mengikuti.
"Kita bisa coba cara-cara klasik. Menurut saya bangsa Indonesia dengan keberanian berfikir, belajar dari orang lain, keberanian mengambil risiko, keberanian berbuat, keberanian mencari inovasi, mungkin kita bisa dapat hal-hal yang baik," lanjutnya.
(aqi/aqi)