Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan (Kalsel) memiliki tradisi khas untuk menyambut bulan Muharram. Setiap tanggal 10 Muharram ada tradisi membuat bubur Asyura.
Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar tentang menyajikan hidangan lezat untuk berbuka puasa, tetapi juga menjadi sarana untuk merawat budaya Nusantara. Simak sejarah dan nilai-nilai luhur dari bubur Asyura Banjar berikut ini.
Jejak Sejarah dan Keunikan Pembuatan
Dikutip dari situs Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, pembuatan bubur Asyura dikaitkan dengan kisah keselamatan Nabi Nuh AS. Hal ini sebagaimana dikisahkan di dalam kitab klasik I'anah ath-Thalibin juz 2 karya Abu Bakr Syata al-Dimyati.
Dalam kitab tersebut, tatkala perahu Nabi Nuh AS berlabuh, beliau beserta para pengikutnya dilanda rasa lapar pada saat perbekalan mereka sudah hampir habis. Nabi Nuh AS lantas memerintahkan para pengikutnya untuk segera mengumpulkan sisa-sisa perbekalan yang ada.
Melalui pengumpulan tersebut, didapatlah tujuh macam bahan, di antaranya genggaman biji gandum, biji adas, kacang ful, hingga kacang putih atau himmash. Bertepatan dengan hari Asyura, Nabi Nuh AS membacakan basmalah pada bahan-bahan yang terkumpul tersebut, lalu memasaknya untuk disantap bersama-sama hingga semuanya merasa kenyang.
Peristiwa inilah yang kemudian mengakar dan dihidupkan kembali sebagai tradisi komunal di Nusantara. Di Banjar, keunikan bubur Asyura terletak pada racikannya yang dihitung mencapai 41 macam bahan.
Pembuatan bubur ini biasanya dilakukan di pelataran masjid atau musala yang diubah menjadi dapur kolektif warga. Masyarakat hadir berswadaya, masing-masing menyumbangkan bahan sesuai kemampuan; mulai dari beras, jagung, labu kuning (waluh), aneka sayur-mayur, hingga kacang-kacangan.
Simak Video "Video: Momen Pedro Acosta-Alex Marquez Crash di Sprint Race MotoGP Jepang"
(bai/bai)