Wadai yang satu ini menjadi favorit warga Kalimantan Selatan (Kalsel), namanya Apam Barabai. Ialah kue tradisional yang kerap jadi oleh-oleh khas Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel.
Apam Barabai dibuat dengan bahan utama tepung beras, tape singkong, gula merah atau gula putih. Apam Barabai memiliki bentuk bulat dan tipis dengan warna cokelat muda atau putih, bergantung pada jenis gula yang digunakan dalam adonannya.
Penggunaan tepung beras menghasilkan tekstur yang lembut, dipadukan dengan gula aren sehingga rasanya manis, aroma yang khas, dan warnanya menjadi coklat. Sementara jika menggunakan gula putih, maka apam barabai akan berwarna putih.
Umumnya, Apam Barabai dikemas menggunakan daun pisang sehingga menambah kesan tradisional pada penyajiannya, selain itu aromanya pun akan lebih sedap.
Mengenal Apam Barabai
Barabai merupakan ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah, salah satu daerah di Provinsi Kalimantan Selatan yang dikenal memiliki beragam kuliner khas. Salah satunya ialah Apam Barabai, kue basah berbentuk bulat dan tipis, dengan warna merah kecokelatan atau putih, dengan tekstur lembut.
Apam barabai kerap disajikan dalam acara selamatan, pernikahan, hingga peringatan keagamaan seperti Maulid Nabi. Selain itu, Apam Barabai juga menjadi bagian dari tradisi baayun anak, yaitu upacara adat ayunan bayi yang masih dilestarikan di Kalimantan Selatan.
Dalam proses pembuatannya, Apam Barabai sebetulnya dibuat menggunakan cara tradisional, yaitu dengan mengukus adonan menggunakan kayu bakar. Adonan perlu didiamkan selama kurang lebih tiga hingga empat jam agar mengembang dengan baik setelah semua bahan tercampur.
Setelah cukup mengembang, adonan kemudian dituangkan ke dalam daun pisang yang sudah dibentuk menyerupai mangkuk, lalu dikukus selama sekitar 15 menit hingga matang.
Namun kini, banyak juga yang menggunakan loyang untuk mengganti daun pisang saat proses pengukusan. Di beberapa daerah Kalimantan lainnya seperti Palangka Raya misalnya, apam barabai juga dibuat dengan cara masak yang berbeda. Adonannya dibuat kalis lalu dibentuk bulat-bulat menggunakan tangan, kemudian digoreng.
Varian berwarna merah kecokelatan menggunakan gula merah sehingga menghasilkan rasa manis yang khas berpadu dengan cita rasa gurih, serta aroma kuat dari gula aren. Sementara itu, apam berwarna putih memiliki rasa manis yang lebih ringan dan cocok bagi yang kurang menyukai aroma gula merah, namun tetap menawarkan kelezatan yang tidak kalah menarik.
Apam Barabai banyak dijumpai di Pasar Barabai. Kue ini umumnya dikemas menggunakan daun pisang, dengan isi sekitar delapan hingga sepuluh lapis dalam satu bungkus.
Apam Barabai juga memiliki peran penting dalam berbagai tradisi masyarakat. Kue ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2022. Pengakuan tersebut menegaskan pentingnya Apam Barabai sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Hulu Sungai Tengah.
(aau/aau)