9 Kuliner Khas Singkawang, Cocok Dicoba saat Imlek-Cap Go Meh

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Kamis, 12 Feb 2026 10:00 WIB
Pembuatan Choi Pan Sakkok khas Singkawang. Foto: Antara Foto/Jessica Wuysang
Singkawang -

Tahun baru Imlek di Singkawang, Kalimantan Barat bukan sekadar panggung budaya dengan ribuan lampion merah menghiasi jalanan hingga aroma dupa di kelenteng. Budaya Tionghoa, Dayak,dan Melayu juga berpadu dalam berbagai masakan.

Bagi masyarakat Tionghoa Singkawang yang mayoritas merupakan keturunan Hakka, hidangan Imlek tidak hanya pengisi perut dan pemuas lidah. Hidangan adalah doa, simbol harapan, dan wujud syukur.

Bat detikers yang menikmati liburan Imlek di Singkawang, kalian bisa mencicipi berbagai kuliner khas, mulai dari kedai kaki lima hingga restoran mewah. Berikut 9 kuliner khas Singkawang yang cocok buat disantap saat Imlek dan Cap Go Meh.

1. Chiang Mie

Ilustrasi mie khas Singkawang. Foto: dok Kemenparekraf

Sesuai tradisi, chiang mie menjadi menu wajib di meja makan saat malam Imlek atau hari pertama tahun baru. Chiang mie memiliki isian yang melimpah seperti sawi, buncis, kol, tauge, dan wortel, ditambah bakso atau daging.

Bumbu kecap ikan dan saus tiram menciptakan rasa gurih yang mendalam. Mi harus disantap tanpa memotongnya, dengan harapan agar panjang umur dan mendapatkan kesehatan bagi seluruh anggota keluarga.

2. Mie Tiaw Asuk

Jika chiang mie biasanya dihidangkan di rumah, mie tiaw asuk adalah legenda jalanan. Kata "asuk" berasal dari bahasa Hakka yang berarti "paman", merujuk pada para paman yang mengolah mi ini secara tradisional.

Keunikannya terletak pada penggunaan kecap asin, perasan jeruk limau (jeruk sambal), dan tauge segar. Dalam situs Indonesia Travel, kuliner ini masih mempertahankan teknik memasak tradisional, sering kali menggunakan arang yang memberikan aroma khas.

3. Hekeng

Hekeng adalah representasi dari akulturasi China-Indonesia. Hidangan yang mirip ngohiong atau rolade ini aslinya terbuat dari campuran udang dan daging babi cincang yang dibungkus kulit kembang tahu, lalu dikukus dan digoreng.

Namun, adaptasi budaya lokal melahirkan versi halal menggunakan daging ayam, sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan. Hekeng biasa disajikan dengan saus asam manis atau sambal pedas, simbol dari kehidupan yang memiliki beragam rasa namun tetap nikmat dijalani.




(bai/des)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork