Tatung Singkawang, Ritual Tolak Bala yang Jadi Ikon Cap Go Meh di Indonesia

Tatung Singkawang, Ritual Tolak Bala yang Jadi Ikon Cap Go Meh di Indonesia

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Selasa, 03 Mar 2026 06:00 WIB
Seorang Tatung (dukun Tionghoa yang kerasukan arwah leluhur) menancapkan beberapa besi ke mulutnya saat beratraksi dalam pawai perayaan Cap Go Meh 2574 di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Minggu (5/2/2023). Perayaan Cap Go Meh yang dimeriahkan deng
Ilustrasi Pawai Tatung di Singkawang, Kalimantan Barat Foto: ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANG
Jakarta -

Setiap perayaan Imlek akan ditutup dengan momen puncak yang disebut Cap Go Meh, festival pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Dalam tradisi Tionghoa, Cap Go Meh menandai berakhirnya masa perayaan Imlek sekaligus simbol harapan baru. Biasanya, masyarakat merayakannya dengan menyalakan lampion, makan bersama keluarga, dan berdoa di kelenteng sebagai ungkapan syukur.

Saat Cap Go Meh digelar, sorotan publik kerap mengarah ke Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Kota ini dikenal sebagai lokasi salah satu tradisi paling khas, yakni Pawai Tatung.

Tidak seperti pawai barongsai atau kirab lampion pada umumnya, prosesi ini menampilkan aksi ekstrem para tatung. Tatung disebut sebagai figur yang dipercaya berada dalam kondisi kerasukan roh leluhur atau dewa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pawai tersebut, mereka mempertontonkan kekebalan tubuh, seperti berjalan di atas bilah pedang atau menusukkan benda tajam ke tubuh mereka sambil diarak keliling kota.

Dilansir dari Indonesia Kaya dan berbagai sumber, ritual Tatung menjadi warisan spiritual yang mencerminkan perpaduan budaya Tionghoa dan Dayak yang sudah berakar di Kalimantan selama berabad-abad.

ADVERTISEMENT


Tatung sebagai Ritual Tolak Bala hingga Pesta Budaya


Sejarah Tatung bermula lebih dari empat abad lalu, ketika etnis Tionghoa Hakka datang ke Kalimantan untuk bekerja di pertambangan emas Monterado. Saat wabah penyakit melanda, mereka menggelar ritual Ta Ciau atau upacara tolak bala untuk mengusir roh jahat. Dari sinilah tradisi Tatung lahir dan kemudian berbaur dengan unsur kepercayaan animisme masyarakat Dayak.


Dalam bahasa Hakka, tatung berarti "orang yang dirasuki roh." Mereka dipercaya mendapat kekuatan dari roh baik seperti pahlawan, pendeta, atau tokoh suci untuk menolak bala dan melindungi masyarakat. Sebelum tampil, para tatung wajib berpuasa selama tiga hari, tidak makan daging, dan menjaga kesucian diri agar siap "dihuni" oleh roh leluhur.


Ritual pemanggilan roh dipimpin oleh pendeta di vihara. Setelah diyakini dirasuki, tubuh tatung dianggap kebal terhadap benda tajam. Mereka kemudian melakukan atraksi ekstrem, seperti berdiri di atas bilah pedang, berjalan di atas pecahan kaca, hingga menusukkan kawat baja ke pipi tanpa merasa sakit.


Tatung, Cermin Akulturasi Budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu

Dea Varanida dalam artikelnya "Komunikasi dalam Integrasi Sosial Budaya antaretnis Tionghoa dan Pribumi di Singkawang" di jurnal Ilmu Komunikasi Volume 14-1(2016) menyebut perayaan Tatung lahir sebagai salah satu hasil akulturasi budaya dari etnis Tionghoa dan etnis pribumi

Tradisi Tatung kini menjadi simbol persatuan lintas etnis di Singkawang, kota yang dikenal dengan julukan Kota Seribu Kelenteng. Penduduknya terdiri dari tiga kelompok besar, yaitu Melayu, Dayak, dan Tionghoa yang hidup berdampingan selama berabad-abad. Nama "Sambas," wilayah asal Singkawang, bahkan berarti sam-bas atau "tiga etnis".

Pawai Tatung menjadi acara utama dalam perayaan Cap Go Meh. Ribuan wisatawan datang setiap tahun untuk menyaksikan parade megah ini. Tatung diarak menempuh rute panjang dari Lapangan Krisadana hingga Vihara Tri Dharma Bumi Raya, diiringi tabuhan genderang dan bunyi lonceng khas perayaan.


Atraksi ini bukanlah sekadar ritual keagamaan, melainkan sebagai daya tarik wisata budaya yang sejak 2009 telah masuk dalam Kalender Wisata Nasional. Pemerintah dan masyarakat terus menjaga prosesi agar berlangsung aman, tertib, dan tetap bermakna.




(rhr/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads