- 1. Menyantap Tangyuan atau Bola Sup
- 2. Menyaksikan Aksi Tarian Naga
- 3. Memecahkan Teka-teki Lentera
- 4. Menghiasi Lingkungan Sekitar dengan Lentera
- Pantangan Cap Go Meh
- Apa Bedanya Cap Go Meh dan Imlek?
- FAQ
- 1. Mengapa makan tangyuan saat Cap Go Meh punya makna khusus?
- 2. Di mana saja tradisi Cap Go Meh dirayakan di Indonesia?
- 3. Kapan perayaan Cap Go Meh 2026 berlangsung?
Meskipun Tahun Baru Imlek telah berlalu, masyarakat Tionghoa masih akan menyambut perayaan Cap Go Meh yang bakal berlangsung dalam waktu dekat. Cap Go Meh menjadi puncak sekaligus penutup dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek.
Apa itu Cap Go Meh? Dikutip dari buku Rahasia Kaya dan Sukses Pebisnis Tionghoa tulisan Lie Shi Guang, Cap Go Meh adalah pesta perayaan Imlek yang berlangsung pada hari ke-15. Saat perayaan Cap Go Meh digelar, pesta-pesta meriah diselenggarakan dan makanan-makanan enak disajikan.
Perayaan Cap Go Meh juga ditandai dengan adanya momen berkumpul dengan orang-orang terdekat untuk menghabiskan waktu bersama. Bukan hanya itu, kata-kata positif akan disampaikan satu sama lain demi kemakmuran dan keberuntungan di tahun yang baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menariknya, dalam perayaan Cap Go Meh ada begitu banyak tradisi dan juga pantangan yang diyakini oleh masyarakat Tionghoa dapat berpengaruh pada keberuntungan di tahun yang baru. Simak selengkapnya di bawah ini!
Poin Utamanya:
* Cap Go Meh (Festival Lampion) dirayakan pada hari ke-15 bulan pertama kalender Lunar dan menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek, yang jatuh pada 3 Maret 2026.
* Tradisi khas Cap Go Meh meliputi menyantap tangyuan, menyaksikan tarian naga dan singa, memecahkan teka-teki lampion, serta menghias lingkungan dengan lentera sebagai simbol keberuntungan dan harapan baik.
* Di Indonesia, perayaan Cap Go Meh digelar meriah di berbagai daerah seperti Singkawang, Surakarta, dan Semarang.
Tradisi Perayaan Cap Go Meh
Pada tahun 2026 ini, Cap Go Meh atau yang dikenal juga sebagai perayaan Festival Lampion akan berlangsung pada tanggal 3 Maret 2026. Biasanya, pada malam hari Festival Lampion digelar, masyarakat Tionghoa akan menghiasi lingkungan sekitarnya dengan berbagai lentera warna-warni.
Terkait dengan tradisi Cap Go Meh atau Festival Lampion, ada begitu banyak hal yang khas dilakukan oleh masyarakat Tionghoa secara umum. Dihimpun dari laman China Highlights, berikut beberapa tradisi perayaan Cap Go Meh yang diwarnai dengan adanya kuliner sampai aktivitas tertentu.
1. Menyantap Tangyuan atau Bola Sup
Salah satu makanan khas Cap Go Meh yang tidak terlewatkan adalah tangyuan atau bola sup. Kuliner satu ini disebut bola sup karena bentuknya yang bulat-bulat menyerupai bola. Tangyuan dibuat dari tepung beras ketan yang diberi isian berbagai rasa, mulai dari pasta kacang, pasta kurma, biji wijen, kacang merah, hingga gula merah.
Kuliner khas Cap Go Meh ini menghasilkan cita rasa yang manis dan legit dengan tekstur empuk saat digigit. Tak hanya sekadar jadi santapan di waktu Festival Lampion semata, tangyuan juga punya filosofi tersendiri. Makna dari menyantap penganan ini diharapkan dapat membawa keberuntungan pada berbagai aspek dalam hidup ini.
Nama tangyuan mirip dengan kata 'tuanyuan' yang berarti reuni. Ini melambangkan adanya keutuhan dalam keluarga yang harmonis. Rasanya yang manis diharapkan mewakili hidup yang bahagia. Bulat pada bentuknya menjadi simbol keutuhan dan kelengkapan.
2. Menyaksikan Aksi Tarian Naga
Selanjutnya, ada juga tradisi berupa menyaksikan aksi tarian naga. Penampilan ini begitu dinanti-nantikan oleh masyarakat Tionghoa karena menjadi salah satu ciri khas yang tidak terlewatkan dalam perayaan Cap Go Meh.
Selain menampilkan tarian naga, ada juga singa yang termasuk tarian tradisional khas dalam budaya Tiongkok. Pemilihan dua hewan dalam tarian ini bukan tanpa alasan. Sebab, tarian naga menjadi simbol keberuntungan. Sementara itu, tarian singa mewakili sifat berani dan percaya. Dengan ditampilkannya tarian ini, masyarakat Tionghoa percaya dapat mengusir hal-hal negatif.
3. Memecahkan Teka-teki Lentera
Lentera atau lampion menjadi benda yang akan mudah dijumpai di sudut-sudut lokasi perayaan Cap Go Meh. Tak hanya di rumah, jalan-jalan hingga tempat umum juga biasanya dihiasi dengan benda ini. Menariknya, tak hanya sekadar hiasan, beberapa masyarakat Tionghoa juga menuliskan teka-teki di selembar kertas, lalu menempelkannya di lampion sebelum dipajang.
Teka-teki tersebut dimaksudkan agar bisa ditebak oleh siapa saja yang melihat. Nah, ada juga letak menarik lainnya dari tradisi ini. Orang yang menuliskan teka-teki tadi akan memberikan hadiah kecil bagi orang-orang yang dengan benar menjawabnya.
4. Menghiasi Lingkungan Sekitar dengan Lentera
Bisa dibilang belum lengkap rasanya apabila perayaan Cap Go Meh tidak dihiasi dengan lentera atau lampion. Inilah yang membuatnya termasuk dalam tradisi yang tidak terlepas dari perayaan Cap Go Meh itu sendiri. Selain membuat perayaan ini semakin semarang, pemasangan lampion juga memiliki makna tersendiri.
Salah satunya tentang cahaya yang keluar dari lampion dianggap sebagai simbol penerang masa depan. Keberadaan lampion yang bersinar terang di malam hari juga diharapkan dapat menjadi sebuah doa bagi masyarakat Tionghoa agar mendapatkan kelancaran dan hal terbaik di tahun yang baru.
Di Indonesia sendiri ada begitu banyak tradisi Cap Go Meh yang diselenggarakan di sejumlah wilayah. Dikutip dari laman Kementerian Pariwisata RI, tradisi Cap Go Meh di Indonesia terdiri dari Grebeg Sudiro yang diselenggarakan di Solo, Pawai Tatung di Singkawang, Pasar Imlek Semawis yang digelar di Semarang, perayaan di kawasan pecinan Jakarta, perayaan di Pulau Kamaro Palembang, hingga pawai budaya di Bogor.
Pantangan Cap Go Meh
Adakah pantangan selama perayaan Cap Go Meh? Masih mengacu pada sumber sebelumnya, pada zaman dahulu terdapat larangan bagi wanita yang belum menikah untuk keluar dari rumahnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, perayaan ini justru digunakan oleh para muda-mudi untuk pergi keluar dan merayakannya dengan penuh sukacita. Entah itu dengan sekadar berjalan-jalan menikmati keindahan malam, bermain, menyalakan lentera, atau berinteraksi dengan orang lain.
Sementara itu, dijelaskan dalam laman South China Morning Post, terdapat larangan bagi wanita yang baru saja menikah untuk berada di rumah suaminya pada malam Festival Lampion berlangsung. Larangan tersebut berakar pada sebuah tradisi yang disebut sebagai 'duodeng' atau bersembunyi dari lentera.
Hal ini membuat para menantu perempuan yang baru menikah dilarang untuk menyaksikan lampion atau lentera yang digantungkan pada rumah keluarga suaminya. Untuk sementara waktu, wanita akan kembali ke rumahnya sampai perayaan Cap Go Meh berlalu.
Sebab, melihat lampion di rumah suaminya termasuk hal yang tabu. Bahkan beberapa wilayah di Tiongkok melakukan tradisi ini sampai tahun ke-3 pernikahan.
Apa Bedanya Cap Go Meh dan Imlek?
Ungkapan 'serupa tapi tak sama' agaknya tersemat pada Imlek dan Cap Go Meh. Sebab, keduanya tidak terlepas satu sama lain. Namun, sebenarnya ini adalah dua perayaan yang berbeda.
Menurut laman Tianyu Arts & Culture, Cap Go Meh atau Festival Lampion adalah perayaan di hari ke-15 bulan pertama dalam kalender Lunar. Ini tentu berbeda dengan Tahun Baru Imlek yang menandai dimulainya tahun baru dalam kalender tersebut.
Festival Lampion juga merupakan puncak perayaan sekaligus penutup dari rangkaian tradisi dalam Tahun Baru Imlek itu sendiri. Seperti namanya, Festival Lampion dirayakan dengan pesta meriah yang mana masyarakat Tionghoa akan memasang banyak lampion atau lentera di lingkungan tempat tinggalnya.
Tanggal perayaan Cap Go Meh dan Tahun Baru Imlek pun berbeda. Seperti yang diketahui, Tahun Baru Imlek jatuh pada tanggal 17 Februari 2026 kemarin. Perayaan ini menandai awal kalender Lunar yang dikenal juga sebagai Tahun Kuda Api.
Kemudian dijelaskan dalam laman China Light Festival, Festival Lampion menjadi bagian dari tradisi Tahun Baru Imlek itu sendiri. Tradisi ini dilakukan pada hari ke-15 bulan pertama dalam kalender Lunar yang menjadi tanda perayaan Tahun Baru Imlek telah berakhir. Tahun ini, Festival Lampion akan berlangsung tanggal 3 Maret 2026.
Itulah pembahasan mengenai perayaan Cap Go Meh beserta tradisi, pantangan, dan bedanya dengan Imlek. Semoga menjawab, ya.
FAQ
1. Mengapa makan tangyuan saat Cap Go Meh punya makna khusus?
Tangyuan melambangkan kebersamaan dan keutuhan keluarga. Nama 'tangyuan' terdengar mirip dengan kata yang berarti reuni. Bentuknya yang bulat menjadi simbol kelengkapan, sedangkan rasa manisnya diharapkan membawa kebahagiaan dan keberuntungan di tahun yang baru.
2. Di mana saja tradisi Cap Go Meh dirayakan di Indonesia?
Di Indonesia, perayaan Cap Go Meh digelar meriah di berbagai daerah, seperti Grebeg Sudiro di Surakarta, Pawai Tatung di Singkawang, Pasar Imlek Semawis di Semarang, kawasan pecinan Jakarta, Pulau Kamaro di Palembang, dan pawai budaya di Bogor.
3. Kapan perayaan Cap Go Meh 2026 berlangsung?
Perayaan Cap Go Meh 2026 atau Festival Lampion jatuh pada 3 Maret 2026. Perayaan ini digelar pada hari ke-15 bulan pertama kalender Lunar dan menjadi penutup rangkaian Tahun Baru Imlek.
(apl/afn)












































Komentar Terbanyak
Fakta-fakta Anggota Joxzin Dibunuh Saat Tidur Bersama Anak-Istri di Bantul
Perjalanan Eks Kapolresta Sleman Didemosi Buntut Gaduh Kasus Hogi Minaya
Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel di Iran, Ini Sosoknya