Infografis: 5 Satwa Asli Borneo, Populasinya Makin Mengkhawatirkan

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Jumat, 17 Jul 2026 12:00 WIB
Foto: Infografis: 5 Satwa Asli Borneo, Populasinya Makin Mengkhawatirkan. (Notebook LM)
Balikpapan -

Pulau Borneo dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Hutan hujan tropis yang membentang luas menjadi rumah bagi berbagai satwa endemik yang tidak ditemukan di wilayah lain. Namun, di balik kekayaan alam tersebut, sejumlah spesies kini menghadapi ancaman serius akibat penyusutan habitat, perburuan liar, hingga perubahan lingkungan.

Berbagai satwa khas Borneo yang selama ini menjadi simbol kekayaan alam Kalimantan terus mengalami penurunan populasi dari tahun ke tahun. Bahkan, beberapa di antaranya telah masuk dalam daftar satwa yang terancam punah sehingga membutuhkan upaya konservasi yang lebih serius untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

1. Badak Kalimantan

Badak Kalimantan atau The Bornean Rhinoceros (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) dikenal sebagai badak berukuran paling kecil di dunia. Secara genetik, badak Kalimantan masih satu spesies dengan badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang ada di Pulau Sumatera.

Badak Kalimantan merupakan salah satu satwa paling langka di Indonesia yang kini berada di ambang kepunahan. Keberadaan badak Kalimantan sempat dianggap telah punah selama beberapa dekade. Namun, penemuan jejak dan rekaman kamera jebak pada 2013 membuktikan bahwa satwa langka ini masih bertahan di beberapa kawasan hutan Kalimantan.

Meski jejaknya kembali ditemukan, populasi badak Kalimantan masih mengkhawatirkan. Saat ini badak di Kalimantan Timur dalam kondisi yang tidak cukup aman, ancaman kegiatan manusia di dalam dan sekitar habitat badak semakin meningkat.

Upaya penyelamatan Badak Kalimantan kini masuk fase paling kritis setelah hanya tersisa satu individu betina di alam liar yang masih terpantau. Saat ini populasi badak kalimantan hanya menyisakan dua individu betina, Pahu dan Pari, masing-masing satu berada di Suaka Badak Kelian dan satu lagi masih hidup di alam liar di Mahakam Ulu.

Badak kalimantan masuk ke dalam daftar merah International Union For Conservation of Nature (IUCN). Atau termasuk satwa langka yang harus dilindungi. Pemerintah Indonesia bersama mitra terkait, hingga saat ini masih terus melakukan pendataan populasi badak di Pulau Kalimantan.

2. Pesut Mahakam

Pesut Mahakam adalah salah satu hewan mamalia endemik yang hidup di Kalimantan. Hewan mamalia ini spesial karena merupakan satu-satunya jenis lumba-lumba yang ditemukan hidup di air tawar di Indonesia.

Pesut mahakam memiliki nama Latin Orcaella brevirostris. Mengutip laman Kementerian Kelautan dan Perikanan, habitat inti dari pesut mahakam adalah di perairan sungai wilayah Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Daerah ini merupakan lahan basah dan paparan banjir, danau-danau besar dan kecil, serta rawa air tawar dan gambut.

Sayangnya, populasi pesut mahakam ini makin mengkhawatirkan. Jumlahnya hanya berkisar puluhan ekor, antara 60-80 ekor menurut berbagai sumber. Hewan endemik ini pun kian jarang muncul di permukaan Sungai Mahakam. Sampai-sampai International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan pesut mahakam sebagai satwa yang sangat terancam punah atau critically endangered.

Salah satu penyebab penurunan populasi pesut mahakam adalah penyusutan habitat akibat aktivitas manusia. Perubahan penggunaan lahan menyebabkan degradasi habitat bagi banyak spesies, termasuk pesut mahakam.

Selain itu, kualitas air sungai yang memburuk akibat limbah dan pembangunan juga berdampak bagi keberadaan pesut mahakam. Pesut juga berisiko mati ketika terkena jaring nelayan. Pesut memang tidak ditangkap menggunakan jaring, tetapi mereka kerap terjebak karena memakan ikan-ikan yang sudah terperangkap dalam jaring tersebut.

3. Orang Utan

Dilansir dari Portal Informasi Indonesia, orang utan masih satu famili dengan gorila, simpanse, dan bonobo, yakni termasuk dalam famili Hominidae. Namun mereka tersebar di Afrika.

Sementara jenis orang utan konon pada 20 ribu tahun yang lalu dapat ditemui di seluruh kawasan Asia Tenggara, namun kini hanya tersisa di Pulau Kalimantan (termasuk Sabah dan Serawak, Malaysia) dan Pulau Sumatera.

The International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist telah memasukkan orang utan kalimantan ke dalam satwa berstatus terancam punah sejak 1994. Satwa ini juga tidak boleh diperdagangkan.

Pemerintah Indonesia memasukkan spesies ini sebagai satwa yang dilindungi. Penyebab kepunahan ini antara lain karena kerusakan hutan, kebakaran, pembalakan hutan, hingga perburuan.

Dikutip dari WWF Indonesia berdasarkan data Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2017, populasi orang utan kalimantan tersisa sekitar 45 ribu ekor, orang utan sumatera tersisa sekitar 13 ribu ekor, dan orang utan tapanuli ada sekitar 760 ekor.

Selain dikembangkan di kebun binatang, terdapat sejumlah tempat konservasi orang utan, seperti di Kalimantan Tengah. Orang utan dikembangbiakkan dan kemudian dikembalikan ke habitat aslinya.

4. Bekantan

Dalam situs resmi Pusat Studi Satwa Primata IPB University, diterangkan Bekantan memiliki nama latin Nasalis larvatus. Bekantan merupakan primata yang unik.

Sebagian besar primata menghabiskan hidupnya di pepohonan dan cenderung menghindari perairan, karena sungai dan rawa bukan lingkungan yang nyaman bagi kebanyakan spesies ini. Namun, salah satu primata endemik Kalimantan ini justru terbiasa berhadapan dengan air, karena hidup di wilayah yang didominasi sungai, rawa, dan hutan mangrove.

Dari lingkungan inilah bekantan (Nasalis larvatus) punya kemampuan yang jarang dimiliki primata lain, berenang dan menyeberangi sungai! Bekantan banyak ditemukan di sepanjang tepi sungai, kawasan mangrove, serta rawa air tawar hingga payau di Pulau Kalimantan.

Berdasarkan Redlist IUCN (the International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), bekantan termasuk dalam kategori Genting (Endangered). Bekantan juga termasuk primata yang terdaftar di dalam Appendix I dari CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti tidak boleh diperdagangkan.

Populasi bekantan hingga beberapa tahun terakhir sudah sangat mengkhawatirkan. Diperkirakan hanya 20 ribuan di Pulau Borneo, Sabah, Brunei, dan Serawak. Itu seperti dikutip situs resmi Indonesia.

5. Tarsius Borneo

Tarsius Borneo memiliki nama ilmiah Cephalopachus bancanus. Dulunya spesies ini dimasukkan ke dalam genus Tarsius, tetapi kemudian ditempatkan ke genus tersendiri, yaitu Cephalopachus.

Walaupun sering disebut endemik Kalimantan, nyatanya tarsius Borneo pesebarannya juga mencakup Sabah, Sarawak, dan Brunei Darussalam. Maka dari itu, hewan ini lebih pas disebut endemik Borneo. Di Indonesia, detikers bisa menjumpai Tarsius Borneo di berbagai wilayah dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara.

Pada siang hari, tarsius Borneo biasanya bersembunyi di antara ranting pohon, sela-sela rotan, semak, atau celah pepohonan yang rimbun. Menjelang senja, mereka mulai keluar untuk berburu makanan.

Jumlah pasti populasi tarsius Borneo di alam liar hingga saat ini belum diketahui karena satwa ini berukuran kecil, aktif pada malam hari, dan sulit diamati secara langsung.

Meski begitu, para peneliti sepakat bahwa populasinya mengalami tren penurunan akibat hilangnya habitat alami. International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List menggolongkan tarsius Borneo berstatus Vulnerable (Rentan).

Artinya, spesies ini menghadapi risiko tinggi mengalami penurunan populasi dan dapat terancam punah apabila kerusakan habitat terus berlangsung. Ancaman utama yang dihadapi adalah deforestasi hutan akubat pembukaan perkebunan kelapa sawit.

Di Indonesia, tarsius Borneo juga termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Perdagangan maupun penangkapan satwa ini dari alam tanpa izin merupakan tindakan yang dilarang.



Simak Video "Dari Tambang ke Kehidupan, Konservasi Hayati Pascatambang PT Timah & PT Antam"

(aau/aau)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork