Berkenalan dengan Tarsius Borneo, Primata Mungil Penghuni Hutan Kalimantan

Berkenalan dengan Tarsius Borneo, Primata Mungil Penghuni Hutan Kalimantan

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Rabu, 08 Jul 2026 11:01 WIB
Horsfield’s Tarsius atau Tarsius Borneo. (Istimewa/iNaturalist)
Foto: Horsfield's Tarsius atau Tarsius Borneo. (Istimewa/iNaturalist)
Samarinda -

Tahukah kamu? Ada lebih dari 500 spesies primata yang hidup di berbagai belahan dunia, sekitar 60 spesiesnya bisa dijumpai di Indonesia. Salah satunya ialah tarsius, primata unik berukuran mungil.

Tarsius dikenal dengan matanya sangat besar, aktif pada malam hari, serta menjadi satu-satunya primata yang seluruh makanannya berasal dari hewan. Para ahli mencatat setidaknya ada sekitar 15 spesies tarsius di dunia, dan hampir seluruhnya hidup di Asia Tenggara.

Indonesia memiliki keanekaragaman tarsius sekitar 13 spesies, sebagian besar tersebar di Sulawesi beserta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Di luar Sulawesi, hanya terdapat satu spesies yang hidup di Pulau Kalimantan, yaitu tarsius Borneo (Cephalopachus bancanus).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbeda dengan kerabatnya di Sulawesi yang memiliki banyak spesies endemik, tarsius Borneo memiliki wilayah sebaran yang lebih luas di Pulau Kalimantan. Yuk, berkenalan dengan primata mungil ini, dirangkum detikKalimantan dari beragam literatur dan laman iNaturalist.

Tarsius Borneo, Satu-satunya Tarsius Asli Kalimantan

Tarsius Borneo memiliki nama ilmiah Cephalopachus bancanus. Dulunya spesies ini dimasukkan ke dalam genus Tarsius, tetapi kemudian ditempatkan ke genus tersendiri, yaitu Cephalopachus.

Walaupun sering disebut endemik Kalimantan, nyatanya tarsius Borneo pesebarannya juga mencakup Sabah, Sarawak, dan Brunei Darussalam. Maka dari itu, hewan ini lebih pas disebut endemik Borneo. Di Indonesia, detikers bisa menjumpai Tarsius Borneo di berbagai wilayah dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara.

Pada siang hari, tarsius Borneo biasanya bersembunyi di antara ranting pohon, sela-sela rotan, semak, atau celah pepohonan yang rimbun. Menjelang senja, mereka mulai keluar untuk berburu makanan.

Karena sangat bergantung pada tutupan vegetasi, pembukaan hutan untuk perkebunan, pertambangan, maupun pembangunan menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup spesies ini.

Ciri-ciri Tarsius Borneo

Horsfield's Tarsius atau Tarsius Borneo. (Istimewa/iNaturalist)Horsfield's Tarsius atau Tarsius Borneo. (Istimewa/iNaturalist)

Tarsius Borneo seperti tarsius lainnya punya tubuh yang mungil. Tetapi jangan salah, hewan ini juga punya kemampuan berburu yang hebat.

Kaki belakang mereka jauh lebih panjang dibandingkan kaki depan sehingga bisa melompat sangat jauh sampai lima meter dari pohon satu ke pohon lainnya. Telinganya juga tipis tanpa bulu yang memungkinkan hewan ini punya pendengaran yang tajam dan bisa mengikuti arah suara.

Ciri lainnya yang paling terlihat ada pada tubuh mungilnya yang berukuran hanya sekitar 10-15 cm dengan berat 100-140 gram. Bahkan ekornya bisa lebih panjang, sekitar 20-25 cm.

Di antara semua ciri itu, ciri yang paling mencolok tentu terdapat pada matanya. Diameter bola mata tarsius Borneo bisa mencapai sekitar 1,6 sentimeter, hampir sebesar ukuran otaknya sendiri. Yang lebih unik, bola mata tarsius tidak bisa digerakkan seperti manusia.

Sebagai gantinya, lehernya bisa berputar hingga sekitar 180 derajat ke kanan maupun kiri, jadi total putarannya adalah 360 derajat. Kemampuan ini yang menguntungkan tarsius karena bisa mengawasi lingkungan sekitar tanpa harus menggerakkan tubuh.

Populasi dan Status Konservasi Tarsius Borneo

Jumlah pasti populasi tarsius Borneo di alam liar hingga saat ini belum diketahui karena satwa ini berukuran kecil, aktif pada malam hari, dan sulit diamati secara langsung.

Meski begitu, para peneliti sepakat bahwa populasinya mengalami tren penurunan akibat hilangnya habitat alami. International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List menggolongkan tarsius Borneo berstatus Vulnerable (Rentan).

Artinya, spesies ini menghadapi risiko tinggi mengalami penurunan populasi dan dapat terancam punah apabila kerusakan habitat terus berlangsung. Ancaman utama yang dihadapi adalah deforestasi hutan akubat pembukaan perkebunan kelapa sawit.

Di Indonesia, tarsius Borneo juga termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Perdagangan maupun penangkapan satwa ini dari alam tanpa izin merupakan tindakan yang dilarang.



(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads