Hutan hujan tropis Borneo dikenal sebagai salah satu ekosistem tertua di dunia, rumah bagi beragam satwa liar yang unik dan langka. Di antara rimbunnya pepohonan tinggi dan aliran sungai yang tenang, hidup kelompok hewan primata yang telah lama menjadi penduduk asli pulau ini.
Pulau Kalimantan menjadi habitat alami bagi berbagai jenis primata endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Dari kera besar hingga monyet berukuran kecil, primata-primata Borneo memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem hutan, sekaligus mencerminkan kekayaan alam nusantara.
Sayangnya, banyak dari mereka kini berada di ambang kepunahan. Memperingati Hari Primata Indonesia pada 30 Januari, mari kita mengenal jenis primata asli Kalimantan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daftar Hewan Primata Asal Kalimantan
Pulau ini menyimpan beragam jenis primata dengan perilaku, bentuk tubuh, dan cara hidup yang unik. Simak berikut daftar primata penduduk asli di Kalimantan:
1. Langur Borneo
Lutung atau langur borneo. (Dokumentasi Borneo Nature Foundation) |
Taukah detikers, Kalimantan punya lutung endemik yang kini hanya hidup di satu wilayah saja? Namanya lutung borneo atau lebih sering disebut langur borneo.
Primata ini merupakan salah satu yang paling langka dan terancam punah di dunia. Satwa endemik Kalimantan ini memiliki sebaran yang sangat terbatas, bahkan di Indonesia keberadaannya saat ini hanya tercatat secara pasti di Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat.
Langur borneo adalah bagian penting dari ekosistem hutan rawa dan hutan dataran rendah Kalimantan. Sayangnya populasi yang sangat kecil, fragmentasi habitat, serta ketergantungan pada jenis hutan tertentu, membuat spesies ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), langur borneo berstatus Critically Endangered (Kritis), status satu tingkat sebelum punah di alam liar. Dalam penilaian terbaru IUCN, jumlah individu langur borneo yang masih bertahan di alam diperkirakan tidak lebih dari 500 ekor.
2. Lutung Kutai
Lutung Kutai, salah satu spesies terancam di Hutan Lindung Wehea, Kutai Timur. Foto: Dok. Istimewa |
Lutung Kutai atau Presbytis canicrus bertahan berkat penjagaan masyarakat adat Wehea, salah satu suku dayak yang ada di Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim). Meski secara global berstatus Endangered (terancam), satwa ini belum masuk daftar satwa yang dilindungi di Indonesia.
Lutung Kutai juga dikenal dengan julukan 'Lutung Drakula' karena warna putih keabuannya yang mencolok di bagian leher hingga dada. Nama ini diberikan oleh salah seorang jurnalis senior konservasi Kaltim, Awaluddin Jalil, yang pernah mengikuti survei satwa ini di Hutan Lindung Wehea karena terlihat seperti memakai jubah.
Primata ini sempat tidak terlihat selama bertahun-tahun dan hampir dinyatakan punah. Sebagian pakar menduga hilangnya lutung Kutai di masa lalu dipicu kebakaran hutan. Luas sebarannya yang kecil membuat spesies ini sangat rentan.
Penemuan kembali terjadi pada 2019 di Hutan Lindung Wehea melalui kamera trap, disusul laporan keberadaan di Taman Nasional Kutai dan area lain dalam bentang alam Wehea-Kelay. Kawasan bentang alam Wehea-Kelay masih menjadi kantong habitat paling aman, termasuk beberapa area perusahaan yang menjaga kawasan High Conservation Value (HCV).
Baca juga: Kuau dan Tarian Pemikat Perkawinan |
3. Orang Utan
Popi, orang utan yang dilepasliarkan ke hutan Kutai Timur, Kaltim. Foto: dok Centre for Orangutan Protection |
Indonesia memiliki satwa primata endemik, salah satunya adalah orang utan kalimantan. Orang utan memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan primata lainnya.
Dilansir dari Portal Informasi Indonesia, terdapat tiga jenis orang utan di Indonesia, yaitu orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus), orang utan sumatera (Pongo abelii), dan orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis).
Binatang ini secara internasional pun diberi nama 'orangutan'. Dalam bahasa Indonesia, artinya orang hutan. Orang Dayak biasa menyebutnya 'tahui'.
Ciri-ciri umum orang utan adalah memiliki lengan panjang dan kuat, untuk berayun dan meraih makanan. Mereka makan buah, daun, maupun biji. Usia hidup mereka di kisaran 50-60 tahun.
Dikutip dari situs Institut Pertanian Bogor (IPB), orang utan kalimantan memiliki ciri fisik berambut panjang dan kusut, berwarna merah gelap kecokelatan. Orang utan sumatera dan tapanuli cenderung lebih cerah, agak oranye. Rambut orang utan sumatera juga cenderung lebih lebat.
Berdasarkan situs Taman Nasional Sebangau Palangkaraya, habitat atau tempat tinggal orang utan kalimantan adalah di hutan hujan tropis yang ada di Pulau Kalimantan, baik di dataran rendah maupun pegunungan berketinggian 1.500 mdpl. Mereka biasanya tinggal di pepohonan lebat dan membuat sarang dari dedaunan.
Dikutip dari situs Borneo Orangutan Survival Foundation, mereka juga bisa hidup di hutan rawa. Di Kalimantan sendiri memiliki lebih dari 50% luas total lahan gambut tropis dunia.
Mengenai persebarannya, orang utan kalimantan juga dibedakan menjadi tiga subspesies. Subspesies Pongo pygmaeus pygmaeus ditemukan di Serawak dan Kalimantan bagian barat laut. Subspesies Pongo pygmaeus wurmbii hidup di Kalimantan Tengah dan bagian selatan kalimantan Barat. Subspesies Pongo pygmaeus morio hidup di Kalimantan Timur dan Sabah.
The International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist telah memasukkan orang utan kalimantan ke dalam satwa berstatus terancam punah sejak 1994. Satwa ini juga tidak boleh diperdagangkan.
Pemerintah Indonesia memasukkan spesies ini sebagai satwa yang dilindungi. Penyebab kepunahan ini antara lain karena kerusakan hutan, kebakaran, pembalakan hutan, hingga perburuan.
4. Bekantan
Bekantan merupakan spesies endemik yang mendiami hutan bakau (mangrove) di Kalimantan. Dikutip dari situs resmi Pusat Studi Satwa Primata IPB University, diterangkan Bekantan memiliki nama latin Nasalis larvatus. Di tanah Borneo, Bekantan juga dikenal dengan nama Kera Belanda, Pika, Bahara Bentangan, Raseng dan Kahau.
Bekantan tersebar luas di hutan-hutan sekitar muara atau pinggiran sungai di Kalimantan. Di Kalimantan Selatan, bekantan dapat ditemukan di daerah hutan rawa, atau muara dan pinggiran sungai Pulau Kaget dan Pulau Laut.
Di Kalimantan Barat, si hidung besar menempati daerah hutan bakau di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Sedangkan di Kalimantan Tengah, bekantan mudah dijumpai di Taman Nasional Tanjung Puting, atau di sekitar Sungai Mahakam.
Selain itu, bekantan juga bisa ditemukan di Taman Nasional Kutai serta hutan rawa gambut dan hutan bakau di pantai Kalimantan Timur.
Bekantan merupakan satwa arboreal (hidup di pohon), namun terkadang turun ke lantai hutan untuk alasan tertentu. Pergerakan dari dahan ke dahan dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan melompat, bergantung, atau bergerak dengan keempat anggota tubuhnya.
Selain itu, bekantan juga perenang ulung karena di bagian telapak kaki dan tangannya memiliki selaput kulit (web) seperti pada katak. Selaput kulit memudahkan bekantan untuk menyeberang sungai.
Berdasarkan Redlist IUCN (the International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), bekantan termasuk dalam kategori Genting (Endangered). Bekantan juga termasuk primata yang terdaftar di dalam Appendix I dari CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti tidak boleh diperdagangkan.
Populasi bekantan hingga beberapa tahun terakhir sudah sangat mengkhawatirkan. Diperkirakan hanya 20 ribuan di Pulau Borneo, Sabah, Brunei, dan Serawak. Itu seperti dikutip situs resmi Indonesia.
5. Kukang Kalimantan
Kukang Foto: Dok. Laman New England Primate Conservancy |
Kukang Kalimantan (Nycticebus borneanus), adalah primata unik dan langka yang menghuni hutan Kalimantan. Selain dikenal dengan nama kukang, masyarakat nusantara punya banyak sebutan lain untuk hewan satu ini. Di antaranya adalah malu-malu (Jawa Barat), tokang (sebagian wilayah Jawa Timur), putra bayu (Kalimantan Selatan), pukang (Sumatera), dan bukang (Kalimantan).
Berbeda dengan leluhurnya yang lebih dikenal sebagai ground sloth (kukang darat), kukang modern menghabiskan hidupnya di pepohonan. Ia akan bergelantungan tanpa bergerak atau hanya bergerak perlahan saja di antara cabang-cabang pohon.
Mereka makan, tidur, beristirahat, kawin, dan melahirkan di pohon. Kendati demikian, ada kalanya juga kukang turun dari pohon.
Dirujuk dari dokumen unggahan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), di Indonesia, terdapat tak kurang dari 13% spesies mamalia dunia. Dari jumlah tersebut, Indonesia memiliki 64 spesies primata dari total 479 spesiesnya di seantero dunia. Salah satunya adalah kukang dari genus nycticebus.
Disadur dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, kukang Kalimantan merupakan satwa dilindungi menurut Permen LHK nomor P.106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.
Kukang Kalimantan yang biasa disebut Bornean Slow Loris saat ini memiliki status 'Rentan' (Vulnerable) sesuai data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), atau tiga langkah menuju kepunahan di alam.
Hewan mungil ini biasa hidup di pohon-pohon di Kalimantan dan Sumatera. Tidak boleh memelihara atau mempedagangkan hewan ini.




