Pesona Tari Dalling Suku Bajau di Kaltim: Asal-usul dan Keunikannya

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Jumat, 23 Okt 2026 10:30 WIB
Foto: Tari Dalling suku Bajau di Berau, Kaltim. (dok Facebook Pemkab Berau)
Berau -

Kabupaten Berau di Kalimantan Timur tidak hanya dikenal dengan keindahan wisata alam bawah lautnya seperti Pulau Derawan dan Maratua, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya yang memesona. Salah satu warisan budaya yang menjadi daya tarik wisata adalah Tari Dalling.

Simak penjelasan mengenai Tari Dalling berikut ini, mulai dari asal-usul dan filosofi tari, jenis tarian dan ragam gerakan, busana, irama, hingga pelestariannya kini.

Asal-usul dan Filosofi Tari Dalling

Tari Dalling adalah tarian tradisional khas Suku Bajau. Suku ini berasal dari Kepulauan Sulu, Filipina Selatan, yang dikenal sebagai pelaut nomaden dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan.

Mereka membawa dan melestarikan tarian tersebut secara turun-temurun di pesisir Berau, terutama di sekitar wilayah Pulau Derawan, Desa Wisata Teluk Harapan, dan Desa Wisata Payung-Payung di Kecamatan Maratua.

Secara esensial, Tari Dalling merupakan bentuk ekspresi rasa syukur dan kebahagiaan Suku Bajau kepada Sang Maha Pencipta. Nama 'Dalling' sendiri memiliki akar kata yang unik, karena diyakini merupakan serapan dari bahasa Inggris 'Darling' yang berarti kekasih.

Oleh masyarakat lokal, kata ini dilafalkan dan diserap menjadi 'Dalling'. Pada mulanya, tarian sakral dan romantis ini dipentaskan khusus pada acara pernikahan masyarakat Suku Bajau untuk menceritakan kisah percintaan antara seorang laki-laki dan perempuan, dimulai dari pertemuan pertama hingga melangkah ke jenjang pernikahan.

Tari Dalling memiliki gerakan yang merepresentasikan perilaku burung linggisan atau burung camar laut yang sering ditemukan di pesisir. Di alam bebas, burung ini selalu terbang dan menari berpasang-pasangan untuk mencari makan bersama. Sifat kebersamaan ini dimaknai sebagai cerminan jiwa kepribadian masyarakat yang damai dan saling menjaga satu sama lain.

Untuk memperkuat representasi ini, ciri khas paling menonjol dari para penari adalah penggunaan properti berupa janggay atau kuku palsu panjang yang dipasang pada jari-jari tangan, yang berfungsi menambah nilai keindahan dan seni dari gerakannya menyerupai kuku burung.




(bai/bai)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork