Kabupaten Berau di Kalimantan Timur tidak hanya dikenal dengan keindahan wisata alam bawah lautnya seperti Pulau Derawan dan Maratua, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya yang memesona. Salah satu warisan budaya yang menjadi daya tarik wisata adalah Tari Dalling.
Simak penjelasan mengenai Tari Dalling berikut ini, mulai dari asal-usul dan filosofi tari, jenis tarian dan ragam gerakan, busana, irama, hingga pelestariannya kini.
Asal-usul dan Filosofi Tari Dalling
Tari Dalling adalah tarian tradisional khas Suku Bajau. Suku ini berasal dari Kepulauan Sulu, Filipina Selatan, yang dikenal sebagai pelaut nomaden dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka membawa dan melestarikan tarian tersebut secara turun-temurun di pesisir Berau, terutama di sekitar wilayah Pulau Derawan, Desa Wisata Teluk Harapan, dan Desa Wisata Payung-Payung di Kecamatan Maratua.
Secara esensial, Tari Dalling merupakan bentuk ekspresi rasa syukur dan kebahagiaan Suku Bajau kepada Sang Maha Pencipta. Nama 'Dalling' sendiri memiliki akar kata yang unik, karena diyakini merupakan serapan dari bahasa Inggris 'Darling' yang berarti kekasih.
Oleh masyarakat lokal, kata ini dilafalkan dan diserap menjadi 'Dalling'. Pada mulanya, tarian sakral dan romantis ini dipentaskan khusus pada acara pernikahan masyarakat Suku Bajau untuk menceritakan kisah percintaan antara seorang laki-laki dan perempuan, dimulai dari pertemuan pertama hingga melangkah ke jenjang pernikahan.
Tari Dalling memiliki gerakan yang merepresentasikan perilaku burung linggisan atau burung camar laut yang sering ditemukan di pesisir. Di alam bebas, burung ini selalu terbang dan menari berpasang-pasangan untuk mencari makan bersama. Sifat kebersamaan ini dimaknai sebagai cerminan jiwa kepribadian masyarakat yang damai dan saling menjaga satu sama lain.
Untuk memperkuat representasi ini, ciri khas paling menonjol dari para penari adalah penggunaan properti berupa janggay atau kuku palsu panjang yang dipasang pada jari-jari tangan, yang berfungsi menambah nilai keindahan dan seni dari gerakannya menyerupai kuku burung.
Jenis Tarian dan Ragam Gerak
Dalam praktiknya, kesenian ini terbagi ke dalam tiga macam jenis tarian, yaitu Tari Dalling Bujang Kesayangan, Dalling Penyisilan, serta Dalling Dendan Kelesahan. Tarian ini sangat inklusif dan dapat ditarikan oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, baik perempuan maupun laki-laki.
Tari ini dapat dimainkan oleh minimal satu atau dua orang dengan format duet berpasangan. Namun pada umumnya Tari Dalling dipentaskan secara berkelompok yang terdiri dari empat hingga lima orang.
Ragam geraknya sangat unik dengan bertumpu pada gerak igal, yaitu gerakan tangan dan jari-jari yang berkedut secara konstan. Gerakan ini dipadukan dengan lekukan tubuh yang bergerak seolah tidak teratur namun tetap harmonis mengikuti tempo iringan musik.
Salah satu keunikan pementasannya adalah pelibatan penonton di akhir pertunjukan, di mana penari akan mengalungkan selendangnya sebagai tanda undangan untuk maju dan menari bersama, yang sering kali diikuti dengan pemberian uang saweran.
Busana Ceria dan Irama Kulintangan
Para penari Dalling selalu mengenakan pakaian tradisional yang berwarna-warni mencolok. Penari wanita mengenakan kebaya berwarna cerah seperti merah, ungu, merah muda, dan kuning, lengkap dengan selendang, mahkota ikat kepala, serta janggay. Sementara itu, penari laki-laki mengenakan busana adat Bajau lengkap dengan kantiu (celana) dan ikat kepala atau topi khas.
Pertunjukan ini tidak pernah lepas dari iringan alat musik tradisional Suku Bajau, yang paling utama adalah kulintangan. Alat musik pengiringnya juga didukung oleh instrumen tambur dan gong.
Pemain musik kulintangan umumnya terdiri dari lima orang atau lebih. Masing-masing pemain memegang peran penting dalam menjaga tempo dan irama agar tetap selaras dengan gerakan para penari serta alunan syair pantun berbahasa Bajau.
Pariwisata dan Pelestarian
Saat ini, fungsi Tari Dalling telah meluas dan tidak hanya ditarikan di acara pernikahan. Tarian ini kerap menjadi suguhan istimewa saat hajatan, pesta adat, keramaian kampung, hingga untuk menyambut tamu kehormatan dan wisatawan mancanegara maupun domestik.
Pemerintah daerah bersama seniman telah membentuk sanggar-sanggar tari dan rutin mengadakan festival budaya. Sebagai bentuk pelestarian sejak dini, gerakan Tari Dalling juga sudah mulai diajarkan kepada anak-anak sejak mereka berada di bangku Sekolah Dasar (SD).
Tidak hanya itu, perlombaan Tari Dalling antarkampung masih kerap diadakan setiap tahunnya di kawasan Maratua. Dalam konteks pariwisata, pertunjukan seni Tari Dalling dan kulintangan ini kini dapat dinikmati oleh para turis dengan harga paket pertunjukan yang bervariasi, biasanya ditawarkan mulai dari Rp 1.000.000 tiap penampilannya.
Sumber:
- Jurnal Upaya Pelestarian Tari Dalling Masyarakat Suku Bajau di Kabupaten Berau Kalimantan Timur oleh HT Elvy Adam (Institut Seni Indonesia Yogyakarta).
- Situs Jadesta Kementerian Pariwisata
