Pulau Kalimantan menyimpan berbagai warisan leluhur yang patut untuk terus dilestarikan. Salah satu bukti kekayaan budaya yang paling menonjol adalah deretan senjata tradisionalnya.
Lebih dari sekadar alat untuk bertahan hidup, berburu hewan liar, maupun sarana bertempur di masa lampau, senjata-senjata ini merupakan simbol keberanian, penanda status sosial, hingga karya seni bernilai tinggi. Bahkan sebagian yakin ada nilai spiritual dalam senjata tersebut.
Berikut adalah 9 senjata tradisional khas Kalimantan yang hingga kini masih sering kita jumpai:
Baca juga: Jangan Main-main dengan Mandau! |
1. Mandau
Mandau adalah senjata tradisional suku Dayak yang telah digunakan sejak abad ke-17 hingga ke-18. Mandau terdiri dari gagang, sarung, dan bilah logam.
Dikutip dari buku Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Timur oleh Suwardi dan Hasjim Achmat, mandau terbagi menjadi dua jenis. Pertama 'mandau adat' yang bersifat sakral, pantang sembarangan dikeluarkan, sering digunakan untuk peperangan di masa lalu, dan memiliki ukiran sarat makna. Kedua adalah 'mandau ladang' yang berfungsi praktis untuk kegiatan sehari-hari.
Selain itu, suku Dayak juga meyakini adanya 'mandau terbang', yaitu senjata mandau yang dikendalikan melalui ilmu gaib untuk menyerang musuh.
2. Duhung (Dohong)
Duhung adalah senjata berbentuk belati lurus bermata dua dengan ujung menyerupai mata tombak dari suku Dayak Ngaju. Senjata ini dipercaya sebagai senjata tertua peninggalan leluhur dari kayangan, usianya konon lebih tua dari mandau.
Dahulu digunakan untuk perang, berburu, dan memotong tali pusar. Kini fungsinya telah berubah menjadi benda pusaka dan alat penting dalam ritual adat (seperti upacara Tiwah), yang hanya boleh disimpan oleh tokoh-tokoh penting.
3. Tangkitn
Tangkitn adalah senjata peninggalan suku Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat yang bentuknya sederhana menyerupai parang. Dijelaskan dalam penelitian Junaidi Agon di situs UPI, ciri khas utamanya adalah tidak memiliki gagang kayu atau tanduk, melainkan hanya dialasi lilitan kain merah.
Di balik kain inilah pemiliknya menyimpan benda-benda gaib atau pegangan ilmu batin pelindung. Dahulu digunakan untuk berperang atau tradisi memenggal kepala lawan (ngayo), namun kini keberadaannya sudah sangat langka.
(bai/aau)