Memasuki puncak musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menunjukkan peningkatan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sejak awal Juli 2026, luas lahan yang dilalap api diperkirakan hampir mencapai 11 hektare dengan titik kebakaran tersebar di sejumlah kecamatan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengungkapkan luasan tersebut merupakan akumulasi dari beberapa kejadian karhutla yang terjadi sejak awal pekan.
"Luas lahan yang terbakar sudah mendekati 11 hektare sejak hari Selasa hingga hari ini 4 Juli 2026, lima hari," kata Multazam, Sabtu (4/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan hasil pemantauan menggunakan pesawat nirawak (drone), dua titik kebakaran ditemukan di Kecamatan Mentaya Hulu dengan luas sekitar tiga hektare. Sementara di Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, api menghanguskan sekitar empat hektare lahan.
"Kebakaran juga terjadi di kawasan Jalan Ir Soekarno, Kecamatan Baamang, yang lokasinya tidak jauh dari Bandara H Asan Sampit. Di kawasan tersebut, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai empat hektare," ujarnya.
Selain itu, api terdeteksi membakar sekitar lima hektare lahan gambut di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, berdasarkan hasil patroli udara yang dilakukan pada Jumat (3/7/2026) sore. Multazam mengatakan titik kebakaran terpantau antara pukul 13.36 hingga 15.01 WIB. Hingga pagi ini Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD masih berada di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya melalui pengecekan darat.
"Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD masih berada di lokasi untuk melakukan ground check dan memastikan kondisi di lapangan," ujar Multazam, Sabtu (4/7/2026).
Menurut Multazam, mulai mengeringnya lahan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat api lebih cepat menjalar. Karena itu, petugas terus melakukan pemantauan intensif agar kebakaran tidak meluas ke area lain.
"Dari hasil pemantauan udara sementara, luas lahan yang dilalap api diperkirakan mencapai sekitar lima hektare. Kebakaran terjadi di kawasan bergambut yang memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam proses pemadaman karena api dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah," imbuhnya.
Untuk mempercepat penanganan, personel TRC BPBD Kotim bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Eka Bahurui kini tengah menyisir lokasi guna mencari jalur yang dapat dilalui menuju titik kebakaran.
"Statusnya masih proses ground check. Petugas sedang mencari akses menuju lokasi agar operasi pemadaman darat dapat segera dilakukan," jelasnya.
Mengantisipasi meningkatnya potensi karhutla selama musim kemarau, BPBD Kotim memperkuat patroli dan pengawasan di wilayah-wilayah yang rawan terbakar. Langkah ini dilakukan untuk mendeteksi kemunculan titik api sedini mungkin.
Di sisi lain, masyarakat kembali diingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menurut Multazam, cuaca yang semakin kering membuat api sangat mudah membesar sehingga berpotensi menimbulkan kebakaran yang lebih luas.
"Kami mengimbau masyarakat tidak menggunakan api saat membuka lahan. Mencegah kebakaran jauh lebih baik daripada harus menghadapi dampak yang ditimbulkan setelah api meluas," pungkasnya.
