Tari Mandau: Sejarah, Gerakan dan Kostum yang Dikenakan

Kalimantan Tengah

Tari Mandau: Sejarah, Gerakan dan Kostum yang Dikenakan

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Senin, 29 Jun 2026 14:12 WIB
Tari Mandau. (Media Center Pemprov Kalimantan Tengah)
Foto: Tari Mandau. (Media Center Pemprov Kalimantan Tengah)
Palangka Raya -

Tari Mandau adalah salah satu tarian tradisional masyarakat Dayak Kalimantan Tengah. Seperti namanya tarian ini menggunakan mandau sebagai properti dalam atraksi gerakan di dalamnya.

Tari Mandau menunjukkan keberanian, kehormatan, dan semangat perjuangan masyarakat Dayak dalam menjaga tanah, budaya, dan martabat mereka. Di Kalimatan Tengah, tarian ini dipentaskan dalam upacara adat sekaligus ditampilkan ketika menyambut tamu kehormatan dan dalam festival budaya sebagai bentuk promosi pariwisata Kalimantan Tengah.

Sejarah Tari Mandau

Tari Mandau sering pula disebut sebagai Tari Perang Dayak. Tarian ini berasal dari kehidupan masyarakat Dayak yang pada masa lalu sering berperang. Oleh karena itu, keberanian dan kemampuan bertarung ini dihidupkan dalam sebuah tarian yang diwariskan turun-temurun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tarian ini menggambarkan semangat perjuangan masyarakat Dayak dalam mempertahankan kehormatan, harga diri, serta wilayah tempat tinggal mereka. Bagi masyarakat Dayak, Tari Mandau menjadi representasi keberanian seorang laki-laki dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Dalam perkembangannya, Tari Mandau kemudian dibedakan menjadi Tari Mandau dan Tari Mandau Kinyah. Tari Mandau lebih menonjolkan unsur seni pertunjukan gerak, sementara Tari Mandau Kinyah di dalamnya ada atraksi bela diri dan teknik-teknik pertarungan tradisional Dayak.

Mandau, Senjata Masyarakat Dayak

Mandau merupakan senjata tradisional suku Dayak yang bentuknya mirip parang tapi lebih panjang dan tajam. Mandau juga dianggap sebagai benda sakral. Banyak masyarakat Dayak percaya bahwa roh leluhur bersemayam di dalam mandau yang diwariskan secara turun-temurun.

Senjata ini dipercaya dapat memberikan perlindungan dan kekuatan kepada pemiliknya. Namun di balik kepercayaan tersebut, masyarakat Dayak tetap menjunjung nilai perdamaian dan kebersamaan.

Karena itulah mandau diperlakukan dengan penuh penghormatan. Selain itu, senjata ini digunakan untuk berburu, melindungi diri, dan berperang.

Gerakan Tari Mandau

Daya tarik utama dari Tari Mandau adalah gerakannya yang ekstrem dan harus dilakukan oleh profesional. Penari harus memiliki keterampilan khusus karena menggunakan senjata tajam selama pertunjukan berlangsung.

Beberapa atraksi yang dipertunjukkan antara lain memutar dan mengayunkan mandau dengan kecepatan tinggi, gerakan menebas dan melempar mandau, serta gerakan saling menyerang antar penari. Walaupun terlihat berbahaya, seluruh gerakan tersebut dilakukan oleh penari yang telah menjalani latihan intensif.

Dalam tradisi tertentu, para penari juga menjalani ritual sebelum pementasan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan untuk memohon keselamatan selama pertunjukan berlangsung.

Kostum Tari Mandau

Tari Mandau. (Media Center Pemprov Kalimantan Tengah)Tari Mandau. (Media Center Pemprov Kalimantan Tengah)

1. Sangkarut dan Ewah

Kostum utama penari mandau adalah rompi yang disebut Sangkarut dan celana yang disebut Ewah. Di beberapa pertunjukan, penari laki-laki juga mengenakan cawat atau bawahan.

2. Motif Khas Dayak

Pakaian Tari Mandau dihiasi berbagai motif tradisional Dayak. Motif yang paling sering digunakan adalah burung enggang. Burung ini dianggap suci dan melambangkan Mahatala atau Pohotara, yaitu penguasa alam atas dalam kepercayaan Dayak. Selain itu terdapat motif naga yang melambangkan penguasa dunia bawah.

3. Selendang Lima Warna

Penari Tari Mandau umumnya mengenakan selendang dengan lima warna khas, yaitu hitam, putih, kuning, hijau, dan merah. Bagi masyarakat Dayak, warna-warna tersebut punya makna filosofis yang berkaitan dengan keseimbangan kehidupan, hubungan manusia dengan alam, dan keharmonisan antara dunia dan alam roh.

Warna putih melambangkan kesucian, ketulusan, dan niat baik dalam menjalani kehidupan. Sementara warna merah merepresentasikan keberanian, semangat juang, dan kekuatan yang dimiliki para pejuang Dayak.

Warna kuning melambangkan kemuliaan, kehormatan, serta kebijaksanaan yang menjadi pedoman dalam mengambil keputusan. Sementara itu, warna hijau menggambarkan kesuburan, kehidupan, dan kedekatan masyarakat Dayak dengan hutan yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Adapun warna hitam melambangkan keteguhan, kekuatan batin, serta kemampuan menghadapi berbagai rintangan hidup. Perpaduan kelima warna ini mencerminkan pandangan hidup masyarakat Dayak yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

4. Penutup Kepala Burung Tingang

Salah satu bagian paling mencolok dari kostum Tari Mandau adalah penutup kepala yang menyerupai burung enggang. Penutup kepala ini biasanya dibuat dari paruh burung enggang dan dihiasi bulu-bulu yang dirangkai menyerupai ekor burung.

Properti Tari Mandau

Dalam pertunjukan Tari Mandau terdapat dua properti utama yang selalu digunakan, yaitu mandau sebagai properti utama dan talawang atau perisai yang digunakan sebagai pelengkap mandau.

Tari Mandau saat ini masih bisa dijumpai di berbagai acara tradisional Dayak maupun dalam festival adat yang diselenggarakan pemerintah. Dengan adanya Tari Mandau, keberanian pejuang Dayak dikisahkan serta dilestarikan sehingga terus terjaga dan tidak akan pudar.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads